
Lucas duduk di depan pak Bambang, sekarang keduanya sudah berada di dalam ruang kerja Lucas yang letaknya di samping kamar tidur, pemandangan sangat bagus karena ruangan itu langsung menghadap taman yang penuh dengan bunga-bunga warna warni yang cantik punya Rania.
"Pah, kenapa malah liatin bunga-bunga milik Rania, katanya papa mau bicara masalah pekerjaan?"tanya Lucas. pak Bambang melirik Lucas sekilas, setelah itu ia fokus kembali pada pemandangan di depannya.
"Kenapa, kamu gak bilang kalau perusahaan pak Hendra sudah memutuskan kerja samanya dengan perusahaan kita?"
"Apa ada masalah pah? waktu itu menurut aku gak penting, lagian anaknya itu ngeyel banget, padahal aku udah bilang kalau mau nikah, eh malah gak percaya, katanya gak mungkin karena gak pernah aku dengar dekat sama wanita, "
"Kemarin Hendrik telpon papa, katanya ada pak Hendra ngotot mau ketemu kamu atau papa, dia akan melaporkan perusahaan kita karena memutuskan kerja sama sepihak, sekarang perusahaannya terancam bangkrut,"papar pak Bambang.
"Bukan kaya gitu ceritanya pah, anaknya pak Hendra yang mulai menarik sahamnya dari perusahaan kita, makanya pas mau akad nikah aku masih pergi ke kantor karena masalah itu, untungnya aku sama Hendrik bisa mengatasi masalah penarikan saham itu dengan cepat,"Lucas menerawang jauh, ia kembali mengingat kejadian itu walau udah lama berlalu. Lucas juga masih menyimpan semua bukti penarikan saham tanpa memberitahunya terlebih dulu.
"Iya, papa sudah tau masalahnya, tadi Hendrik cerita sama papa, tapi buat meyakinkan pak Hendra kalau bukan kita yang memutuskan kerja samanya, tapi putrinya sendiri yang menarik saham dari perusahaan kita, besok kamu bawa semua buktinya biar jelas,"ujar pak Bambang.
"Iya pah, besok papa bakal ke kantor-kan?"tanya Lucas.
"Iya, papa gak bisa lepas tangan masalah ini, perusahaan kita udah lama menjalin kerja sama itu, sewaktu kantor masih papa yang pegang, lain kali kalau ada masalah kaya gini, papa minta kamu diskusikan dulu sama papa,"
"Maaf pah, waktu itu aku mikirnya karena aku bisa mengembalikan keadaan kantor, jadi gak bilang sama papa, apalagi waktu itu aku mau nikah sama Rania,"
"Ya sudah tidak apa-apa, papa ngerti kamu belum terlalu lama terjun ke perusahaan, buat nanti kedepannya kalau ada apa-apa, kamu tanya dulu sama papa,"
Lucas mengangguk, tanda mengiyakan. ia tak pernah berpikir kalau masalah itu akan panjang seperti sekarang.
"Bagaimana keadaan villa di sana?"tanya pak Bambang. setelah beberapa saat hening tak ada obrolan apapun, pak Bambang mulai bertanya.
"Baik, kata ibu ratu, nanti musim liburan tiba pasti bakal rame, banyak wisatawan yang datang,"jawab Lucas.
__ADS_1
"Ibu ratu, siapa?"Pak Bambang menatap Lucas, keningnya mengernyit.
"Ah, itu maksudnya ibunya Rania pah,"Lucas menggaruk kepala yang tak gatal, ia jadi ikut-ikutan sang istri yang biasanya memanggil ibu ratu sama bu Lilis.
"Ada-ada aja kamu tuh, papa waktu itu sudah bilang sama mertua kamu, biar beliau yang mengelola villa sekalian sama bibi, biar ada penghasilan, tapi keduanya menolak, katanya tak enak,"
"Tetangga di sana pada julid pah, tapi gak semuanya sih, "ukar Lucas.
"Ya biasa lah, namanya tetangga, kita berhasil diomongin, kita kekurangan sama, makanya jangan pernah mendengarkan omongan tetangga yang bikin mood kita jelek, biarkan saja,"
Akhirnya anak sama ayah itu mengobrol dari hal-hal penting sampai tak penting, seakan mereka mengganti waktu, karena sekarang keduanya jarang mengobrol atau bertemu.
Sedangkan Rania, ia sudah terlelap di atas sofa kamar tidurnya, tadinya ia mau nonton tv karena mama mertuanya sedang istirahat juga.
Tiba-tiba tidurnya terganggu, ia merasakan ciuman yang memenuhi seluruh wajahnya, sampai akhirnya Rania terpaksa membuka mata.
"Engh....sayang apaan sih, geli tau,"sungut Rania. Lucas terkekeh melihat istrinya mulai membuka mata.
"Hah, masa pulang, kirain mau nginap tadi,"Rania langsung bangun terus duduk di samping suaminya.
"Iya, kata mama nginapnya nanti kalau kamu udah lahiran sayang,"Lucas mengusap wajah Rania yang terlihat masih mengantuk.
"Masih lama loh, kalau nunggu aku lahiran,"ucap Rania. ia menggelengkan kepalanya supaya ngantuk nya kabur. pikirnya.
"Ga papa, yu temui mama sama papa dulu yang,"Lucas langsung berdiri lalu mengulurkan tangannya pada Rania.
"Kamu, duluan aja, aku ke kamar mandi bentar, mau cuci muka dulu,"Rania berjalan meninggalkan Lucas menuju kamar mandi.
__ADS_1
Akhirnya Lucas keluar dari kamar, ia takut orang tuanya sudah menunggu dirinya di ruang tamu. benar saja, begitu ia sampai di ruang tamu pak Bambang sudah siap-siap akan pulang begitu juga bu Renata sudah menenteng tas mahalnya.
"Loh, Rania mana Luc, apa masih tidur, kalau masih tidur biarkan saja, kasian mungkin dia kecapean,"ujar Bu Renata.
"Udah bangun kok ma, dia masih di kamar mandi, paling bentar lagi keluar dia,"
Tak berapa lama, Rania sudah muncul dengan wajah lebih segar karena baru saja cuci muka.
"Aura kamu cantik banget Ran, pasti lagi hamil anak perempuan tuh, ah senangnya, nanti mama punya boneka hidup buat didandani,"Bu Renata sudah merencanakan banyak hal untuk nanti kalau cucunya benar-benar perempuan.
"Ngga, papa yakin nanti cucu pertama kita laki-laki ma, percaya sama papa,"Pak Bambang tak mau kalah.
"Ah, enggak, lihat mantu kita wajahnya cantik banget, auranya beda pah, pasti hamil anak perempuan itu, papa jangan nebak dong, biar mama saja,"
Rania melirik suaminya, ketika melihat perdebatan mertuanya. Lucas cuma geleng-geleng kepala melihat itu. padahal harusnya Lucas Lah yang antusias sebagai ayah kandungnya.
"Mah, pah, sampai kapan berdebat nya? jadi pulang gak sih,"tegur Lucas. ia merasa pusing melihat perdebatan kedua orang tuanya.
"Jadilah, tuh papa gak mau ngalah banget sama mama, sayang mama pulang dulu ya, nanti kapan-kapan mama nginap di sini, atau kamu yang ke sana ya,"ujar bu Renata. ia memeluk menantu kesayangannya.
"Iya mah, mama sama papa hati-hati di jalan ya,"Rania mengantar mertuanya ke depan.
"Iya, kamu jaga kesehatan ya, jangan capek-capek. kalau mau apa-apa bilang jangan dipendam, telpon mama atau papa ya,"Bu Renata kembali memeluk menantunya sebelum masuk kedalam mobil.
Setelah mobil yang dikemudikan pak Bambang hilang dari pandangannya. Lucas menggandeng tangan istrinya masuk ke dalam rumah.
"Sayang, tadi kamu ngomongin apa sama papa, apa benar-benar ada masalah di perusahaan ya?"tanya Rania. ia sangat penasaran apa yang diomongin mertua sama suaminya tadi, soalnya lumayan lama sampai ia ketiduran menunggu Lucas.
__ADS_1
jangan lupa baca kaya aku yang baru netas ya kaka-kaka kesayangan.