
Karena kesabaran juga doa-doa orang yang menyayanginya, Lucas akhirnya sembuh total setelah beberapa bulan menjalani perawatan di rumah sakit, akhirnya ia bisa pulang ke rumah setelah sekian bulan tinggal di rumah sakit.
"Bibi, makasih banyak sudah menjaga aku tanpa bosan, bibi juga sudah mendonorkan darah buat aku, kalau bibi tidak menolong aku, mungkin sekarang aku sudah gak ada di sini."Lucas memeluk bik Tuti dengan erat ketika ia sudah berada di kamarnya.
"Gak bosan atuh den, malahan bibi senang karena bisa menjaga aden sampai sembuh, pokoknya jangan banyak pikiran, mulai sekarang lupakan semua masalah itu, fokus aja jalani kehidupan aden,"jelas bik Tuti.
"Aku gak bisa membalas kebaikan bibi, pokoknya bibi boleh minta apapun sama aku, karena rasa terima kasih bibi sudah menjaga aku selama ini,"kata Lucas.
"Aden serius, boleh minta apa aja?"tanya bibi.
"Iya, sok bilang mau minta apa bi, rumah, mobil uang?"
"Nggak, bibi gak butuh semua itu, bibi cuma minta aden menjaga keponakan bibi, cuma dia yang bibi punya selain ibunya, biar kalau bibi sudah tiada, ada yang menjaga keponakan bibi itu, bagaimana?"
"Boleh bi, aku janji akan menjaga keponakan bibi dengan sebaik-baiknya,"
Mulai dari situlah Lucas punya tanggung jawab untuk menjaga Rania, makanya ketika mamanya menjodohkan dirinya sama Rania ia mu menerima, meskipun awalnya gengsi, padahal tanpa bu Renata tahu Lucas sudah akan menikahi keponakan bik Tuti itu.
Flashback off
Lucas menyudahi ceritanya, kedua orang tuanya benar-benar tak menyangka kalau kejadian sebenarnya seperti itu, padahal mereka menyangka kalau Lucas kecelakaan karena terus memikirkan Shela, wanita yang pergi tanpa kabar juga pesan.
Sementara Rania merasa bahagia, ternyata Uwanya itu sangat menyayangi dirinya, meskipun Rania tahu kalau Uwa nya itu peduli banget sama dirinya, tapi sekarang tak menyangka kalau pilihan antara uang, mobil, juga harta yang lainnya, Uwa nya itu lebih memilih menitipkan dirinya.
"Sayang, aku nikahin kamu bukan semata karena permintaan bibi untuk menjaga kamu, tapi perasaan aku datang seiring berjalannya waktu, aku suka kamu yang sering marah-marah, ngedumel tapi tetap nurut ketika aku meminta melakukan sesuatu sebelum kita nikah."Lucas memeluk istrinya, ia membenamkan wajah Rania ke dalam dekapan hangatnya.
"Mama kira kamu itu kecelakaan gara-gara mikirin wanita itu, ternyata mama salah, tapi kenapa kamu diam aja setelah sembuh, padahal kita bisa memenjarakan mereka Luc?"
__ADS_1
"Aku juga niatnya gitu ma, tapi bakal susah karena kejadiannya sudah lama, biarin ajalah, cuma kalau untuk sekarang mereka mengganggu keluarga aku, aku gak akan tinggal diam ma,"
Akhirnya semua kejadian dimasa lalu itu sudah terjawab, Rania tak merasa penasaran lagi soal masa lalu suaminya.
"Ya sudah, sekarang kita istirahat saja, besok papa minta orang-orang papa buat berjaga-jaga di sini, kamu juga harus selalu hati-hati Luc, sebaiknya kalau bepergian sama sopir aja,"kata pak Bambang.
"Iya, papa kamu benar Luc, pokoknya mama ingatkan untuk hati-hati di manapun kamu berada, kita tak tahu mana lawan mana kawan."Bu Renata membenarkan ucapan suaminya.
"Iya, aku pasti hati-hati ma, pa, tapi keselamatan Rania sama kandungannya lebih penting, katanya tadi Shela mengancam Rania,"jelas Lucas.
Rania cuma mangut-mangut mendengar obrolan itu, jujur ia juga merasa ada rasa takut, apalagi setelah mendengar semua cerita suaminya.
Karena sudah malam, semuanya langsung pergi ke kamar masing-masing, Rania merasa aman karena mertuanya menginap di rumahnya.
Begitu masuk kamar, Rania langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci muka dibelakangnya Lucas mengekor seperti anak kecil yang takut ditinggal ibunya.
"Mau cuci muka sayang, emang gak boleh?"
"Bukan gak boleh, kan bisa gantian sayang, aku mau buang air kecil dulu soalnya,"sahut Rania.
"Ya tinggal, emang apa masalahnya?"ucap Lucas dengan entengnya.
"Malu sayang, kamu keluar dulu ya sebentar aja,"pinta Rania.
"Gak mau, lagian kenapa malu segala sih sayang, kita menikah sudah mau 3tahun, masa masih malu sih."Lucas geleng-geleng kepala mendengar ucapan istrinya, ia sudah hapal luar dalam keadaan istrinya.
"Ya terserahlah, aku udah gak tahan."Rania akhirnya tak berdebat lagi, ia membuang rasa malu di depan suaminya, daripada berdebat gak selesai-selesai.
__ADS_1
Selesai dari kamar mandi, Rania melakukan ritual malamnya, meskipun sedang mengandung tapi ia tetap menjaga kulitnya supaya tetap sehat, mama Renata sengaja memilihkan skincare yang aman untuk ibu hamil tentu saja dengan persetujuan Lucas tentunya.
Lucas menata bantal untuk sang istri senyaman mungkin, kandungannya yang sudah besar kadang membuat Rania susah tidur hanya karena posisinya yang terasa tak nyaman, bahkan Lucas sering bangun tengah malam untuk mengelus punggung atau perut Rania biar bisa tidur nyenyak. sebisa mungkin Lucas menjadi suami siaga untuk istrinya.
Rania melangkahkan kakinya menuju tempat tidur, di sana Lucas sudah menunggunya sambil menatap semua gerak gerik Rania.
"Udah nyaman belum?"tanya Lucas. begitu Rania merebahkan dirinya di atas kasur.
"Udah sayang, makasih ya, maaf aku banyak ngerepotin kamu, sering ganggu malam-malam, padahal kamu harus kerja."Rania memiringkan tubuhnya menghadap Lucas.
"Kamu bicara apa sih, sejak kapan aku merasa direpotkan sama kamu, jangan banyak pikiran sayang, besok jadwal periksa kan, pasti mama akan ikut deh, sengaja dia nginap di sini,"ucap Lucas. ia mencium kening istrinya lama.
"Hus, gak boleh gitu sayang, itu tandanya mama sayang banget sama cucunya. makanya tiap periksa pasti ikut, bahkan mama tak pernah lupa."Rania tertawa mengingat tiap ia jadwal periksa kandungan mama mertuanya itu pasti heboh melebihi dirinya.
"Ya iya sih, cuma aku merasa mama berlebihan, tiap bulan harus ikut kalau ketinggalan langsung nyusul, aku kaya gak berguna sebagai suami,"gerutu Lucas.
"Gak gitu sayang, kamu yang capek ngurusin aku kalau di rumah, apalagi sekarang sering mijitin kalau aku pegal atau gak bisa bobo, kamu suami hebat, baby-nya pasti bangga punya ayah seperti kamu."Rania menuntun Lucas untuk mengelus perutnya.
"Adek, bilang sama ayah kalau baby bangga punya ayah kaya gini kan?"Rania bicara sama baby dalam perutnya, Dokter menyarankan untuk banyak berinteraksi sama baby ketika masih di dalam perut katanya itu bagus banget.
"Baby, lagi apa di dalam sayang?"Lucas mengusap perut istrinya berulang-ulang, ia berharap baby dalam perut istrinya merespon.
"Kenapa gak nendang kaya biasa, yang?"tanya Lucas.
"Gak tahu, mungkin sudah tidur sayang,"jawab Rania sekenanya.
"Bisa jadi, sekarang sudah malam, ya udah kamu juga istirahat, jangan tidur malam yang,"ucap Lucas.
__ADS_1
Buat yang baca juga jangan tidur malam-malam, besok sambung lagi oke, by😘