
"kalau papa selingkuh, tidak mungkin mama anteng kaya gitu, yang,"ucap Lucas.
"Tapi, aku beneran yang, kemarin pas mama ketemu wanita itu langsung marah-marah, terus narik aku pulang. Nah pas aku agak jauh wanita itu bilang, perasaan aku gak berubah dari dulu, yang aku denger cuma itu, soalnya semua konsentrasi aku udah keganggu sama wangi roti o sayang,"jelas Rania panjang lebar.
"Terus, makan Roti O nya yang?"tanya Lucas.
"Nggak, kan udah ditarik keluar sama mama,"jawab Rania.
"Kamu, ngidam sayang?"tanya Lucas lagi.
"Nggak, aku mau aja sih kayanya,"
"Eh, yang kamu temui sama itu masih muda atau gimana yang?"tanya Lucas. Ia masih penasaran sama cerita istrinya, mana mungkin papanya itu selingkuh, dari dulu pak Bambang itu cinta mati sama mamanya. Meskipun kadang berantem tapi tak pernah lama. Menurutnya hal itu biasa dalam rumah tangga, karena ia juga sering berselisih paham sama istrinya.
"Eum, kayanya usianya gak jauh beda sama kamu deh, cantik, tapi lebih cantik aku kayanya,"Rania mengetuk-ngetuk jarinya dipelipis seperti orang sedang berpikir.
"Kumat narsisnya kan?"cibir Lucas.
"Hehe... Emang bener kok, lagian aku masih muda loh, meskipun udah bisa bikin anak sih,"
"Apa, benar kalau papa selingkuh? Tapi kenapa mama biasa aja tadi, ah kenapa mama langsung pulang tadi, jadi gak bisa nanya-nanya kan,"batin Lucas.
"Sayang, kenapa melamun? Kamu yang sabar ya, aku yakin kamu kuat, tapi kasian sama mama sih,"Rania menggoyangkan tangan Lucas.
"Aku, gak melamun sayang, lagian kuat apa sih maksudnya?"tanya Lucas.
"Kuat menerima kenyataan sayang,"
"Ngacoh ah, aku percaya papa itu setia yang, dari dulu sudah cinta mati sama mama, bahkan pernah ada wanita ngaku-ngaku sudah tidur sama papa, kamu tau apa yang papa lakuin?"Lucas menatap istrinya yang terlihat penasaran.
"Nggaklah, emang papa ngapain yang?"
"Papa langsung membawa perempuan itu ke kantor polisi, karena sudah memfitnah papa, sampai papa nangis biar mama percaya kalau papa gak melakukan itu,"
"Waw, papa keren ya, terus kalau kamu gimana?"
"Gimana apanya?"
"kamu bakal setia gak sama aku, kalau misalkan ada perempuan cantik, bodynya bagus kaya ukulele pengamen jalanan, terus bilang cinta sama kamu, gimana?"
"Apaan, body bagus bukannya kaya gitar spanyol, yang?"
__ADS_1
"Nggak, itu kebaguasan kalau buat penggoda yang, jadi udah itu aja yang pantas, kamu bakal tetep setia gak sama aku?"
"Iyalah, denger ya yang, pilihan poligami itu ada, penggoda di luar sana banyak, tapi setia itu yang aku pilih, lagian itu bukan cinta menurutku, cuma obsesi sesaat, yakin deh kalau udah dapat, istri di rumah lebih segalanya,"papar Lucas.
Bibir tipis Rania langsung melengkung, membentuk senyuman yang sangat manis,"janji ya yang,"ujarnya.
Rania mengacungkan jari kelingking ke depan wajah Lucas.
"Apa, nih maksudnya?"Lucas mengerutkan keningnya, alisnya hampir menyatu.
"Janji kamu loh,"Rania menarik jari kelingking Lucas, lalu menautkan pada jarinya.
"Kaya anak SD aja deh,"gumam Lucas.
"Biarin wlee,"Rania menjulurkan lidahnya.
Tiba-tiba ponsel Rania berdering, nama Firda terpampang pada layar ponsel mahal itu.
"Hallo, kenapa Firda?"
"Ran, gue main ke rumah lo boleh gak?"
"Boleh dong, emang kamu udah selesai kelasnya?"
"Oke, aku tunggu sister!"
Tut tut
Panggilan terputus, Rania meletakan ponselnya di samping laptop Lucas,"kenapa peluk-peluk nih?"tanya Rania.
"Kangen yang, giliran aku ada di rumah, malah akan ada pengganggu, padahal mau kangen-kangenan sama kamu,"Lucas pura-pura sedih, ia meletakan wajahnya pada ceruk leher Rania.
"Gak boleh gitu, kasian Firda yang, kita masih banyak waktu buat berduaan, nanti malam gimana?"Rania mengusap rambut Lucas, ia menahan geli pada lehernya karena perbuatan suaminya.
"Mau sekarang, nanti malam beda lagi,"ucapnya. Kalau sudah seperti itu, Rania tak bisa menolak ia merasa kasian sama suaminya itu, apalagi sekarang jarang melakukan karena kehamilannya.
Mereka melakukan di ruang kerja Lucas, di atas sofa tapi sangat nyaman karena sofanya lumayan luas.
Setelah dua-duanya merasa puas, Lucas merebahkan tubuhnya di samping sang istri, ia menatap wajah Rania yang terlihat kelelahan, peluhnya menetes pada pelipis, tapi senyum terukir dibibir tipisnya.
"Lagi, yang?"tanya Lucas setelah berhasil mengatur nafasnya.
__ADS_1
"Nanti lagi, capek, lagian bentar lagi Firda sampai atau mungkin sudah menunggu,"sahut Rania.
"Janji nanti malam yang,"
"Iya iya, bantu aku berdiri yang. Mau ke kamar mandi,"Rania terpaksa mengiyakan daripada jadi panjang.
Lucas membawa Rania ke dalam kamar mandi yang ada di ruangannya,"sekarang, nambah berat kamu yang,"ujar Lucas.
"Iyalah, siapa suruh malah digendong, aku bisa jalan sendiri juga,"
Lucas meninggalkan Rania di dalam kamar mandi, setelah memakai pakaiannya kembali, ia segera keluar dari ruang kerjanya.
"Bibi, sejak kapan bibi di sini?"Lucas kaget karena begitu membuka pintu, bibi sudah berdiri di depannya.
"Eum, belum lama kok den, itu ada temen non Rania,"bibi menunduk, terpaksa ia berbohong, padahal sudah beberapa kali mengetuk pintu tapi ia malah mendengar suara-suara aneh dari dalam sana.
"Oh, iya bi, udah dibikinin minum belum? Suruh tunggu sebentar bi, Rania sedang mandi,"
"Udah den, kalau gitu bibi permisi dulu, mau memberi tahu non Firda,"
"Hemm..."
Lucas menuju kamarnya untuk mengambil baju untuk sang istri, ia juga berniat membersihkan diri di kamar mandi yang berada di kamarnya.
"Non, kata den Lucas tunggu sebentar, non Rani sedang mandi,"kata bibi.
"Aku ganggu mereka ya bi? Tadinya aku kira kak Lucas sedang di kantor, makanya aku main ke sini,"tanya Firda.
"Nggak lah, mungkin tadi mereka tidur non, semalam den Lucas baru pulang dari Surabaya, makanya sekarang tidak ke kantor,"jelas bibi.
"Oh, pantesan bi, aku suka malu kalau ke sini terus ada kak Lucas, sungkan bi,"ucap Firda.
"Jangan sungkan, den Lucas baik kok, meskipun wajah atau sikapnya terlihat dingin, tapi hatinya baik banget non,"
"Iya sih, tapi kalau sama Rania sikapnya itu bisa berubah banget ya bi, terlihat sekali kalau kak Lucas sayang banget sama Rania,"ucap Firda.
"Iya, non Firda bener, aden emang terlihat kalau sayang banget sama non Rani,"
Bibi akhirnya menemani Firda sebelum Rania datang, ia baru kali ini bisa ngobrol panjang lebar sama temen majikannya itu, ternyata anaknya menyenangkan tak jauh beda sama Rania. pikir bibi.
Lucas mengetuk pintu kamar mandi di dalam ruang kerjanya, ia membawa handuk sama baju buat ganti sang istri.
__ADS_1
"Siapa?"teriak Rania dari dalam.
"Aku, udah belum sayang, aku masuk ya,"Lucas langsung membuka pintu kamar mandi, matanya tak berkedip melihat pemandangan di depannya itu.