
Yuhu! kaka-kaka, mbak, mas, bun atau apalah ya, cerita ini hasil dari otak aku ya. meskipun otaknya rada lemot, tapi aku gak plagiat cerita orang oke!!!
Rania berjalan menuju dapur, di sana terlihat ibu Lilis sama bik Tuti sedang memasak, terlihat beberapa macam sayuran yang terhidang di atas meja makan yang baru Rania lihat. kalau dulu jangankan meja makan rumah aja hampir roboh, karena tak ada biaya untuk memperbaikinya.
"Bu, masak apa?"tanyanya. terus ia menyambar toples dari atas meja makan berisi kacang Bandung.
"Masak ayam goreng, mana suami kamu? jangan ditinggal sendiri, bahaya!"bu Lilis menatap Rania yang sedang asyik makan kacang.
"Ada, lagian bahaya kenapa? emang dia anak kecil, kalau ditinggal bahaya, karena takut nyebur ke got!"ketus Rania, ia masih jengkel sama Lucas.
"Heh! jangan bicara kaya gitu. nanti suami kamu di culik tante girang, mau?"tanya bik Tuti. akhirnya ia ikut nimbrung obrolan antara anak dan ibu.
"Tante girang kan Uwa hehehe...."Rania langsung menutup mulutnya, setelah mengucapkan itu.
"Dasar, anak somplak, masa orang tua sediri dibilang tante girang!"bik Tuti mengayunkan sendok yang sedang ia pegang hendak memukul Rania.
"Uwa! kenapa istri aku mau dipukul?"Lucas langsung memeluk Rania yang akan kena pukul sendok sama bik Tuti. alhasil sendok itu mengenai tangan Lucas.
"Astaga! sekarang kamu baper Luc, susah dipercaya,"ucapnya sambil geleng-geleng kepala.
"Baper? maksudnya baper gimana sih?"tanya Lucas, ia melirik Rania yang masih dalam pelukannya.
"Ya itu, Uwa pernah dengar dari anak sekolah pas dijalan, yang cinta banget sama pasangannya itu loh, masa anak muda gak tahu,"papar bik Tuti.
"Maksudnya, bucin kali Uwa, bukan baper,"jelas Rania.
"Nah, itu maksud Uwa, tadi salah keluar saja istilahnya,"bik Tuti ngeles, karena tak mau dibilang sok tahu.
"Nanti belajar lagi Wa, biar makin pintar!"
"Teu hayang! mending masak daripada belajar kata-kata yang aneh-aneh,"
"Ibu ratu kemana Wa?"tanya Rania, ia menatap sekeliling karena tak menemukan ibunya, biasanya dia yang paling semangat ngobrol.
"Paling kawarung, aya nu balanya,(paling ke warung, ada yang belanja),"
__ADS_1
"Kenapa nyari ibu Ran? kangen,"tanya bu Lilis yang tiba-tiba nongol.
"Bukan, cuma nanya tadi, biasanya ibu ratu yang paling hebohkan, eh tiba-tiba senyap,"ucap Rania, ia melepaskan pelukan suaminya.
"Ibu ratu, sekarang rumahnya bagus, punya uang dari mana sih?"tanya Rania, ia masih penasaran tentang rumah ibunya yang sudah berubah banyak.
"Kepo!"ujar bu Lilis.
"Astaga, jangan-jangan ibu dikasih uang sama kang Sobari ya?"selidik Rania.
"Enak aja, kang Sobari sudah punya anak lagi sekarang, masa ngasih uang sama ibu sih,"ketus bu Lilis. ia langsung membuang muka ke samping.
"Wah, ibu gak cemburukan?"ledek Rania.
"Engga, buat apa cemburu ibu udah....
"Udah, udah apa hayo?"goda Rania, bik Tuti sama Lucas menahan tawa melihat wajah merona ibunya Rania.
"Udah, ibu tolak, ups...."bu Lilis langsung menutup mulutnya, hampir saja ia keceplosan.
"Kamu nguping ya Ran? tidak sopan, kata ibu tungguin di warung, dasar kamu,"bu Lilis terlihat tak suka dengan ucapan Rania, yang sebenarnya lebih banyaknya malu daripada kesal.
"Yey, ibu ratu gimana sih, aku gak nguping, tapi suara ibu jelas banget sampai dua rt kedepan sama belakang,"jelas Rania, ia tak terima karena dibilang menguping.
"Hahaha...pantas, kang Sobari suka salting kalau ketemu ibu kamu Ran,"bik Tuti tertawa ngakak begitu mendengar ucapan ponakannya.
"Masa Wa, pasti kang Sobari tuh masih ada rasa sama ibu ratu yang cantik, tapi lebih cantik aku,"Rania makin senang menggoda ibunya sendiri.
"Kenapa, gak diterima aja bu, sekarangkan Rania sudah sama aku. aku janji akan menjaga serta membahagiakannya, ibu tidak usah khawatir,"tutur Lucas.
"Iya, Lucas. benar bu, kalau ada yang datang melamar, terus ibu juga ada rasa terima saja, aku udah ada yang jagain sekarang,"ucap Rania. nadanya terdengar serius.
"Mana ada yang mau sama ibu, sekarang ibu sudah tua. bukan waktunya menikah lagi, lagi pula sebentar lagi akan menimang cucu Ran,"tutur bu Lilis.
"Yey, tua juga ibu masih cantik kok, pasti banyak yang naksir sama ibu,"ucap Lucas.
__ADS_1
"Ah, mantu ganteng kalau muji suka benar deh, kalau ibu masih cantik, boleh carikan jodoh buat ibu, tapi harus berondong biar awet,"ujar bu Lilis. matanya melirik Rania sekilas.
"HUH! dikasih hati minta jantung. mana ada berondong mau sama nenek,"Rania mencibir.
"Jangan gatel, nanti teteh gak ada temen jadi janda kalau kamu nikah lagi!"bik Tuti memukul pundak adiknya itu.
"Kan ada mang Toha teh, dia naksir berat sama teteh kan?"tanya bu Lilis.
"Emoh aku, nanti malah harus mengurus aki-aki tua renta, bukannya jadi ratu,"bibir bik Tuti langsung manyun ketika mendengar nama mang Toha.
"Ihhhh....malas aku dekat-dekat para janda, yu sayang kita lihat villa papa aja,"Rania bergidik, ketika mendengar obrolan dua janda di depannya itu.
"Ran, jalannya lewat rumah pak Ridwan aja biar dekat,"ucap bik Tuti, villa punya pak Bambang itu baru beres beberapa hari yang lalu, sekarang kampung Rania jadi tempat wisata jadi banyak dibangun villa serta tempat wisata lainnya.
"Iya wa, villanya papa yang dekat jalan raya itukan ya?"tanya Rania, dirinya sama Lucas masih belum tahu seperti apa bangunan itu, yang Rania tahu tanah yang dibeli papa mertuanya itu dari sala satu tetangganya, jadi ia tahu tempatnya.
"Iya, tak jauh dari rumah pak Ridwan pokonya, nanti kalau mereka ngomong aneh-aneh, jangan dianggap aja, apalagi sampai jadi pikiran,"jelas bu Lilis.
Rania mengangguk, matanya melirik sang suami yang juga sedang menatapnya.
Keduanya berjalan sesuai yang dibilang Ibu sama Uwanya tadi. Rania mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Lucas, matanya sudah melihat orang yang dimaksud ibunya sudah menatapnya dari teras rumahnya.
Rumah paling besar yang Lucas lihat disekitar itu, ia yakin itu orang paling berada dikampung tempat kelahiran istrinya.
"Eh, kirain siapa tadi, sekarang berubah banget ya kamu Rania. rupanya upik abu udah berubah jadi Cinderella,"sindir bu Reni istrinya pak Ridwan atau ibunya Violla.
"Iya, punten bu. saya numpang lewat ya,"Rania menunduk hormat, bagaimanapun orang di depannya itu orang tua, jadi harus hormat, itulah ajaran sang ibu yang selalu ia ingat, seburuk apapun perlakuan orang itu pada kita.
"Key, kamu putranya pak Bambang Kan?"tanyanya pada Lucas.
"Iya, kenapa?"tanya Lucas, nadanya terdengar datar serta aura dingin terasa.
"Padahal, anak saya jauh lebih baik daripada dia, tapi papa kamu itu malah nolak ketika saya menawarkan tanah dengan gratis, asalkan kamu menikahi Violla, terus membuang wanita ini, kalian itu tak serasi sama sekali, bagai langit sama bumi saking jauhnya,"bu Reni mengoceh mengeluarkan unek-uneknya setelah ditolak niatnya sama pak Bambang.
"Maaf bu, atas dasar apa ibu menghina istri saya, terus mengatakan kita tak serasi, tak ada yang berhak menghina istri sama mertua saya, termasuk anda,"bentak Lucas, emosinya sudah siap meledak ketika mendengar setiap kata dari mulut wanita di depannya itu.
__ADS_1
"Ada apa ribut-ribut?"