Dinikahi Majikan

Dinikahi Majikan
part 11


__ADS_3

Rania duduk di samping bik Tuti, sambil mengoleskan body lotion pada kaki, juga tangan nya.


"Wa, tadi aku nyari ke dapur tapi ga ada, kemana sih? "Tanya Rania.


"Nyari makanan? "Bik Tuti balik nanya, ia tidak mengerti pertanyaan Rania.


"Nyari Uwa lah, ko malah makanan sih. "Rania mencebikkan bibirnya.


"Ya,habisnya kamu nanya ga jelas gitu, tadi uwa habis nyetrika baju Ran, kamu tadi di ajak ke mana aja sama bu Rena? "Buk Tuti menatap lekat Rania.


"Di ajak belanja, terus nyalon, terakhir di ajak kaya arisan gitu lah wa, kumpul temen-teman nya ibu. "Jelas Rania, lalu ia bangkit untuk menyimpan kembali body lotion ke tempatnya.


"Kamu nyalon jadi apa? "Tanya bik Tuti.


"Nyalon jadi istrinya bupati, biar di hormati wa. "Jawab Rania asal.


"Heh, di tanya teh,nu bener ngajawabna,(di tanya, yang benar jawabnya)."Bik Tuti memukul pelan tangan Rania.


"Lagian uwa, maksud aku tuh di ajak ke salon kecantikan gitu, emang uwa ga lihat aku sudah mirip Prim Chanikarn,gimana sih Uwa. "Ucap Rania.


"CK mana uwa tahu,itu piring apa lagi, yang uwa tahu piring buat makan aja,tadi mata uwa siwer Ran, baru kelihatan kamu sedikit mulus, ga buluk kaya kemarin pas nyampe sini. "Bik Tuti menelisik Rania dari atas sampai bawah.


"Bukan piring uwa, tapi Prim Chanikarn, uwa gimana sih tinggal di kota tapi ga gaul, lagian kalau muji itu jangan setengah-setengah kenapa sih wa, nanggung banget."Rania mencebik.


"Uwa di sini kan kerja, bukan mau gaul,uwa kalau nonton TV paling yang nyanyinya ku menangis itu loh, seru, uwa suka greget sendri,kadang sampai mukul si Mbak Yanti uwa. "Bik Tuti terkekeh mengingat kelakuan nya.


"Yey, itu merugikan orang lain tahu, eh tapi wa, tadi teman-teman ibu Rena, ko pada tahu uwa ya?"Tanya Rania.


"Ya pasti lah, kan mereka sering pada ke sini, jadi pasti pada kenal sama uwa, apalagi uwa kan ngangenin Ran, jadi mereka pasti terus ingat sawa uwa."Bik Tuti menepuk dada,sombong


"Huek... PD banget jadi mahluk. "Rania bergidik mendengan ucapan uwa nya.


"Sudah ah, sekarang kamu ikut uwa. "Ajak bik Tuti.

__ADS_1


"Kemana? "


"Kamu harus lihat uwa, nanti kalau uwa udah pulang ke Bandung,pasti itu bakal jadi tugas kamu. "Terang bik Tuti, lalu berjalan keluar dari kamar Rania.


Rania mengikuti langkah uwa nya, kemanapun kaki itu melangkah Rania mengikutinya dari belakang.


Ketika sampai di pintu depan, langkah bik Tuti berhenti,Rania yang dari awal menunduk tidak. melihat kalau bik Tuti berhenti, akhirnya ia menubruk punggung uwa nya yang sedang berdiri.


"Uwa,bilang-bilang dong kalau mau ngerem "Rania buru-buru menyeimbangkan kaki nya yang hampir oleng.


"Kaya mobil aja ada rem nya, kalau jalan pakai mata dong, jadi ga nabrak orang."Bik Tuti menoleh Rania di belakang nya.


"Kita ngapain di sini wa, nunggu sumbangan ya? "Tanya Rania, matanya melirik kiri kanan.


"Sembarangan kamu, uwa sudah tidak butuh sumbangan, kalau kamu ya bisa aja, perlu di sumbang. "Jawab bik Tuti, pandangan nya beralih menatap mobil yang baru memasuki gerbang rumah majikan nya.


"Nanti, kalau uwa sudah pulang, kamu harus nyambut Den Lucas kalau pulang kerja ya, bawa tas nya, terus nanti anterin ke dalam kamar nya. "Ucap bik Tuti, ia mulai mengajari Rania tugas yang harus ia lakukan.


"Masa gitu wa, emang ga bisa bawa tas pakai tangan sendiri? "Tanya Rania.


"Ya mau lah, apa hubungan nya wa, kuliah sama pertanyaan aku tadi. "Rania menatap bik Tuti dengan bingung.


"Ya pokonya....


"Sore bibi, eh ada bidadari juga ternyata. "Belum sempat bik Tuti menjelaskan alsan nya sama Rania, Hendrik sudah menyapa bik Tuti lebih dulu, di belakang nya Lucas sedang menggerutu.


"Ngapain lo mampir segala, biasanya juga langsung pulang, mana ninggalin gue lagi!"Ucap Lucas.


"Sore mas Hendrik, sini tas nya biar bibi bawa ke atas mas. "Bik Tuti meminta tas kerja Lucas yang sedang di tenteng Hendrik.


"Bik, biar dia yang bawa ke atas, bibi istirahat aja. "Lucas menunjuk Rania, yang sedang berdiri di belakang tubuh bik Tuti.


"Ingat ya pesan uwa tadi Ran, kamarnya kamu masih ingat kan? "Tanya bik Tuti, ia lalu menyerahkan tas kerja Lucas pada sama Rania.

__ADS_1


"Heh bos, gue mampir tuh mau kenalan sama dia, malah loe suruh bawain tas kerja,ga suka banget lihat gue senang. "Hendrik mencibir Lucas,ia berjalan masuk ke dalam rumah tanpa di persilahkan.


Lucas yang mendengar ucapan asisten nya cuma mengedikkan bahu nya acuh, Lucas berjalan menaiki anak tangga di ikuti Rania.


Rania ragu-ragu untuk masuk ke dalam kamar nya Lucas, tapi tak urung ia masuk meskipun dengan perasaan was-was.


Lucas membuka jas juga dasi yang ia kenakan, setelah itu, ia menatap Rania yang masih berdiri di dekat pintu sambil menunduk, tas kerja Lucas ia dekap.


"Kenapa masih berdiri di sana kaya patung, sana siapkan air buat saya mandi. "Nada suara Lucas datar tanpa ekspresi,membuat Rania gemetar.


Rania mengangkat wajahnya,lalu berjalan mendekati meja yang tersedia di kamar itu, ia meletakan tas kerja Lucas yang dari tadi ia dekap.


"Kenapa masih di sini? "Lucas kembali bertanya karena Rania belum juga masuk kamar mandi untuk menyiapkan air untuknya mandi.


"Tuan, apa tuan tidak bisa menyiapkan nya sendiri, tuan kan sudah tua. "Rania memberanikan bertanya.


mendengar ucapan Rania, Lucas menatap Rania dengan tajam,wajah nya merah entah karena marah atau malu karena sudah di sebut tua sama bocah di depan nya itu.


"Tadi bilang apa, coba sekali lagi? "Tanya Lucas, matanya masih menatap tajam Rania.


"Apa, tuan tidak bisa menyiapkan air nya sendiri, tuan kan sudah tua. "Rania mengucapkan kembali kata-katanya seperti tadi.


"Mau di pecat?"Tanya Lucas dengan santai.


"Tidak, masa baru kerja sehari sudah di pecat tuan, selain tua, tuan juga tidak punya hati ya? "Tanya Rania dengan polosnya.


"Astaga, kenapa bibi punya ponakan seperti ini sih. "gumam Lucas, ia memijit pangkal hidung nya, seharian ia capek kerja, sampai rumah langsung berhadapan dengan bocah macam Rania.


"Kalau kamu masih mau kerja, laksanakan semua yang saya bilang, kalau membantah, saya minta mama buat pecat kamu,pilih mana? "Tanya Lucas, ia berjalan mendekat ke hadapan Rania.


Rania beringsut mundur melihat Lucas yang semakin mendekat ke arahnya.


"Jadi pilih di pecat, atau nurut semua ucapan saya? "Lucas mencondongkan badan nya pada Rania.

__ADS_1


"Nurut, saya nurut tuan, dasar tukang ngancam. "Rania berlari memasuki kamar mandi untuk menyiapkan air untuk mandi Lucas.


__ADS_2