
Keduanya turun menuju ruang makan, Lucas di depan, sementara Rania mengekor di belakangnya.
"Pengantin baru, telat mulu perasaan,"bu Renata tersenyum melihat anak menantunya.
"Dia lelet ma, jadi lama,"Lucas melirik Rania yang sudah duduk di sampingnya.
Mendengar ucapan suaminya, Rania melayangkan cubitan pada pinggang sang suami.
"Sakit! belum apa-apa sudah kdrt kamu,"Lucas mengusap pinggang yang terasa sakit.
"Berantemnya nanti aja di kamar ya, sekarang mending sarapan dulu,"bu Renata menahan tawa melihat pasutri muda di depannya. sedangkan pak Bambang cuma geleng-geleng kepala.
Akhirnya suasana hening, semuanya menikmati sarapan dengan lahap.
"Kamu nanti pulang jam berapa?"Lucas melirik Rania yang tengah memasang seat belt.
"Jam dua, kenapa tuan?"Rania menatap suaminya yang sudah siap untuk melajukan mobilnya.
"Nanti saya jemput kamu, terus kita belanja,"Lucas melajukan mobilnya keluar dari halaman rumahnya berbaur dengan kendaraan lain di jalanan yang lumayan padat.
"Belanja apa, perasaan aku masih punya stok kebutuhan,"kening Rania mengerut mendengar ucapan suaminya.
Lucas tidak menjawab, ia masih fokus pada jalanan di depannya. beberapa menit kemudian terlihat jalanan sedikit lenggang, Lucas menepikan kendaraannya ke pinggir jalan.
"Rania!"
Tumben dia manggil nama, biasanya bocah atau bocilkan.
"Kita sudah nikah, dari awal aku gak pernah main-main sama pernikahan kita, nanti kita pindah dari rumah mama, aku mau kita sama-sama belajar, kamu belajar jadi istri yang baik, aku juga bakal berusaha jadi suami yang baik buat kamu,"ucap Lucas panjang lebar.
Rania menelan ludahnya susah payah, tiba-tiba tenggorokannya terasa kering mendengar ucapan suaminya. berbagai pertanyaan muncul dalam otaknya.
"Jadi, kita nikahnya beneran?"cicit Rania.
"Emang kamu pikir saya main-main, pernikahan itu sakral Rania, saya tak akan mengingkari janji yang sudah saya ucapkan,"jelas Lucas.
"Jadi mulai sekarang, kita rubah ya, dari mulai panggilan, masa sama suami manggil tuan,"ucapan Lucas terdengar lembut di telinga Rani, tak seperti biasa yang jutek tak enak di dengar.
"Terus, aku harus manggil apa?"tanya Rania.
"Terserah, asal yang enak di dengar,"jawab Lucas.
"Mas?"
__ADS_1
"Enggak, saya bukan tukang bakso langganan kamu sama mama, yang suka di panggil mas,"
"Abang,"
"Enggak, saya bukan tukang ngambil sampah yang sering mbak Yanti panggil abang,"
"Terus apa dong, sayang, cinta, honey, bunyy,"Rania kesel dari dari panggilannya tak ada yang disetujui sang suami.
"Eum, yang tadi boleh,"ucap Lucas.
"Sayang? cinta? atau apa,"tanya Rani.
"Yang pertama,"
"Sayang?"
"Eum,"
"Hah, tapi, aku geli manggil sayang,"
Lucas menatap tajam Rania, mendengar ucapan nya tadi.
"Iya, sayang, jangan marah dong, nakutin banget kalau udah natap kaya gitu,"ucap Rania.
"Iya, jadi sayang, kamu mau manggil aku apa, masa bocah terus, aku udah gede loh,"Rania mengedipkan matanya.
"Kamu maunya di panggil apa?"Lucas melajukan kembali mobilnya setelah kesepakatan ia dapatkan.
"Gak tahu, terserah sih apa aja,"ucap Rania.
"Sayang aja ya, biar sama,"
"Ya,boleh-boleh,"
Setelah itu hening tak ada obrolan lagi, pikirannya sibuk dengan pikiran masing-masing. sampai akhirnya mobil Lucas memasuki area kampus tempat Rania belajar.Lucas menghentikan mobilnya tepat di depan gebang kampus. masih terlihat lalu lalang mahasiswa yang baru datang.
"Aku kuliah dulu ya,"Rania menyodorkan tangannya untuk salim sama suaminya.
"Belajar yang bener, ingat jangan sembarang berteman, jaman sekarang jarang ada yang tulis,"nasihat Lucas sebelum Rania turun.
"Iya, sayang!"Rania menekankan kata sayang pada nada bicaranya.
Rania mematung ketika merasakan bibir Lucas mendarat pada keningnya, ini adalah kedua kalinya Lucas mencium keningnya, pas nikah Rania tidak begitu memperhatikan, apalagi waktu itu banyak orang yeng memperhatikannya.
__ADS_1
Wah, nasib jantung gimana ya, dari pagi sudah berlebihan detaknya. dasar jantung kampungan.
Rania langsung ngacir begitu keluar dari mobilnya, kalau ada yang merhatikan, mungkin wajahnya sudah semerah tomat saking malunya.
Lucas senyum-senyum melihat Rania yang semakin menjauh, ia meraba bibirnya yang baru saja mencium kening sang istri tanpa penolakan, katakan lah dirinya norak, kaya abg yang baru jatuh cinta. padahal usianya sudah dewasa.
Dering ponsel membuyarkan lamun Lucas, tangannya langsung mengambil ponsel yang ada di dalam saku jasnya.
"CK, ganggu aja nih bocah,"gerutu Lucas begitu melihat nama yang tertera pada layar ponselnya.
"*Kenapa?"
"Bos, loe dimana sih, buruan, ada masalah, urgent,"suara Hendrik terdengar panik.
"Masalah apaan, perasaan kemarin baik-baik aja, loe gak bisa ngatasin,pagi-pagi sudah ganggu orang,"
"Bos, beneran ini urgent, gue tunggu di kantor*!"
Hendrik mematikan panggilannya, Lucas langsung meninggalkan kampus Rania, ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata, untung saja jalanan lagi bersahabat. jadi tak perlu memakan waktu yang terlalu lama untuk sampai di kantornya.
Lucas menyerahkan kunci mobilnya sama security, ia bergegas memasuki lift menuju ruangannya. setelah pintu lift terbuka Lucas langsung berjalan menuju ruangannya.
"Win, suruh Hendrik ke ruangan saya,"Lucas menyuruh sekertaris nya memanggil Hendrik.
"Iya pak,"Wina menunduk hormat sama bosnya.
Lucas langsung duduk di atas kursi kerjanya. tangannya langsung membuka laptop yang ia bawa dari rumahnya.
"Bos, baru datang loe,"Hendrik langsung duduk di depan bosnya.
"Iya, ada sih, urgent apa yang loe maksud tadi,"Lucas mengangkat wajahnya begitu mendengar suara asistennya.
"Bos, saham kita turun, pak Hendra menarik sahamnya dari perusahaan kita, mereka juga menyebarkan kalau perusahaan kita tak bertanggung jawab,"jelas Hendrik.
"Astaga, apa perusahaan kita menyinggung mereka, gue sih gak masalah dia menarik sahamnya dari perusahaan kita, tapi yang gue gak terima mereka menyebarkan berita yang gak benar,"geram Lucas, sorot matanya terlihat tajam mendengar penjelasan Hendrik.
"Ini sih pemikiran gue ya, kayanya mereka tak terima waktu pak Hendra meminta loe menikahi anaknya, tapi malah loe tolak,"ucap Hendrik.
Mata Lucas memicing mendengar ucapan Hendrik, hati kecilnya ikut membenarkan ucapan sahabatnya itu.
"Atur pertemuan dengan perusahaan mereka, kaya gini caranya, mereka melanggar kontrak yang telah di sepakati, gue bisa bawa masalah ini kejalur hukum, kalau cara mereka kaya gini!"ucap Lucas.
Hai aku up nieh, buat yang gak suka cerita aku, yang bilang cerita aku jelek, terima kasih, aku gak maksa buat baca ko, aku masih belajar dan akan terus belajar, buat yang selalu menunggu cerita aku terima kasih banyak aku sayang kalian, aku usahakan up tiap hari ya.aku buat cerita ini dengan santai ya jadi harus sabar.🤗😘😘
__ADS_1
like, komen,vote nya,favoritkan juga❤