Dinikahi Majikan

Dinikahi Majikan
part 105


__ADS_3

Setelah selesai dengan urusannya, Bu Renata langsung menuju rumah anak menantunya. ia menyapa satpam yang berjaga di depan gerbang masuk rumah itu.


"Bibi, anak-anak pada kemana?"tanyanya.


"Ah, nyonya, den Lucas sama non Rania lagi istirahat, katanya tadi capek,"


"Udah lama belum bi?"


"Udah nyonya, padahal belum makan siang juga, padahal saya udah selesai masak dari tadi,"


"Ya udah, biar saya bangunkan, kasian kalau belum makan, mantu saya lagi hamil, jadi gak boleh kurang makan,"Bu Renata melangkah menuju kamar tidur Lucas sama Rania.


Tangannya bersiap mengetuk daun pintu, tapi ia urungkan ketika mendengar suara-suara aneh dari dalam kamar.


Dasar Lucas, siang-siang begini minta jatah, katanya istirahat.


Bu Renata meninggalkan tempat itu, tak mungkin ia mengganggu kegiatan mereka, mending ia istirahat di kamar yang sering ia pakai kalau datang ke sana.


"Nyonya, kenapa sendirian? padahal saya mau menghangatkan makanan buat makan siangnya,"tanya bibi. ia menatap ibu dari majikannya dengan bingung.


"Nanti saja bi, mungkin anak-anak masih capek. saya juga mau istirahat dulu sebentar,"Bu Renata segera masuk ke dalam kamarnya.


Akhirnya bibi tak jadi menghangatkan makanan, segera ia tutup kembali makanan di atas meja makan.


Sedangkan pasangan suami istri itu, baru saja menyelesaikan kegiatan menyenangkan.Lucas mengecup kening istrinya setelah mengucapkan terima kasih. lalu memeluk tubuh Rania yang cuma tertutup selimut.


"Capek?"tanya Lucas. Rania mengangguk sebagai jawaban, matanya menatap lurus langit-langit kamar.


"Istirahat sebentar, setelah itu kita mandi terus makan, kamu belum makan,"ujar Lucas.


Setelah selesai membersihkan diri, keduanya keluar dari kamar dan langsung menuju ruang makan.


"Mama, kapan sampai?"Rania terkejut melihat mama mertuanya sudah duduk manis di atas kursi ruang makan.


"Sudah satu jam yang lalu, mau manggil kalian, eh malah lagi pada sibuk,"ledek bu Renata. ia melirik Lucas dengan ujung matanya.


"Kita bukan sibuk ma, tapi istirahat. capek baru sampai kan tadi,"Lucas menarik kursi untuk Rania.

__ADS_1


"Huh! masa capek malah langsung olahraga, harusnya kamu tahan dulu, kasian istri kamu, mana baru sampai terus lagi hamil juga,"ucapan bu Renata membuat mata Rania melotot, jangan-jangan mama mertuanya itu tau tentang kegiatan mereka tadi.


"Ma, istri aku yang minta loh, beneran deh, iya kan sayang?"Lucas mengedipkan matanya.


Rania langsung mencubit perut Lucas dengan keras, ia yakin bakal ada bekasnya biru atau ungu di sana.


"Sayang, kenapa dicubit sih, sakit nih,"Lucas mengusap kulit perut yang baru kena cubit istrinya.


"Lagian, kamu suka fitnah, mana ada aku yang minta, kamu yang maksa tau,"Rania mencebikkan bibirnya.


"Tuh, dasar, kasian dong istri kamu,"Bu Renata memukul tangan Lucas menggunakan sendok.


"Sebenarnya, anak mama itu aku atau Rania sih, kenapa malah lebih ngebela dia daripada aku yang lahir dari rahim mama,"Lucas merengut melihat mamanya lebih membela istrinya. benar-benar sial, udah dapat cubit, pukul pake sendok, diomelin lagi.


"Makanannya, udah siap nih,"ucap bibi. ia langsung menyimpan mangkuk berisi sup ayam yang masih panas.


"Wah, aku kangen masakan bibi, pasti enak nih ma,"Rania terlihat antusias.


Dengan cekatan ia menyiapkan makanan untuk suaminya, meskipun ia lapar, tapi tak pernah lupa untuk mendahulukan suaminya.


Bu Renata tersenyum melihat menantunya sangat lahap ketika menyantap makanan yang dihidangkan bibi.


"Nanti periksa nya ke rumah sakit tempat dulu tante Melda praktik, di sana Dokternya bagus-bagus,"ujar bu Renata.


"Kenapa pindah, ma?"tanya Lucas. ia belum tau kalau tantenya itu pindah tugas.


"Kamu belum tau?"Bu Renata malah balik nanya.


"Belum ma, aku lupa bilang hehe...."Rania yang menjawab pertanyaan bu Renata.


"Bilang apa, sayang,"Lucas menatap istrinya.


"Bilang kalau tante Melda pindah tugas, terus aku mau pindah dokter obgyn sayang,"jelas Rania.


"Kenapa gak bilang?"


"Istri kamu lupa Lucas, kamu gimana sih?"ketus bu Renata.

__ADS_1


"Terus, rencana mama mau bawa pindah sama Dokter mana, pokoknya harus yang terbaik ma, jangan asal. aku gak mau kalau sampai ada apa-apa sama kandungan istri aku,"ucap Lucas panjang lebar.


"Kalau masalah itu, kamu gak usah khawatir. mama udah dapat rekomendasi tante kamu Dokter yang bagus, lagian mama juga gak mau kalau sampai mantu sama cucu mama kenapa-napa,"papar Bu Renata.


"Makasih ma, aku sayang banget sama mama,"Rania memeluk bu Renata.


"Aku, gak dapat peluk sayang?"Lucas merentangkan tangan minta pelukan Rania.


"Ngga, kamu kan udah tadi, bosen aku yang,"Rania menjulurkan lidahnya sama Lucas.


Bu Renata tertawa, ia puas melihat anak semata wayangnya kesal.


"Mama, angkat telpon bentar,"ucap bu Renata. ponselnya berdering ternyata pak Bambang menghubunginya.


"Iya pah, kenapa?"


"Mama, dimana, masih di rumah teman mama, atau udah pulang?"


"Mama sekarang lagi di rumah Lucas, papa langsung ke sini aja. mama tunggu di sini,"


"Oh, sudah pulang anak itu, syukurlah, papa jadi gak harus berhadapan sama berkas-berkas lagi,"


"Ya sudah, kita nanti ngobrolnya di sini,"


"Iya ma, kalau gitu papa tutup dulu ya, mau siap-siap dulu,"


Setelah telpon berakhir, bu Renata kembali ke meja makan, menghampiri anak menantunya.


"Siapa ma?"tanya Lucas.


"Papa, dia nanyain mama lagi di mana,"


"Oh, papa masih di kantor atau udah pulang?"


"Masih di kantor, tapi katanya sudah mau pulang,terus mama suruh pulang ke sini,"


"Nginep aja ya ma, biar rumahnya rame kalau banyak orang,"pinta Rania.

__ADS_1


"Iya, nanti tanya papa, mama ngikut kata papa aja,"


__ADS_2