
Hari-hari berlalu seperti biasa, Rania beraktifitas seperti biasanya. meskipun Kevin kerap kali mengajaknya nonton atau jalan tapi Rania selalu menolak, bahkan ia sudah bilang kalau dirinya sudah menikah. tapi, kevin tak pernah percaya.
Serly juga tak pernah mengganggunya lagi setelah kejadian waktu Rania menggunting rambutnya. paling mereka berpapasan itu juga selalu bersikap dingin. ancaman Hendrik benar-benar membuat Serly berubah untuk sekarang.
Cuaca di luar gerimis membuat pasangan suami istri itu masih betah berpelukan di bawah selimut tebal yang hangat. padahal kegiatan keduanya sudah menunggu.
"Sayang, kamu ada kelas jam berapa?"Lucas mengusap kepala Rania yang berada di atas dadanya.
"Jam delapan sayang,"Rania mengeratkan pelukannya.
"Ya, udah, sekarang kita mandi yu, nanti aku anterin sekalian berangkat,"Lucas mengusap kening Rania. ia masih antar jemput istrinya kalau tidak sibuk. padahal bu Renata sudah menyarankan supaya Rania belajar membawa mobil supaya lebih gampang. tapi Lucas menolak alasannya takut Rania kenapa-napa.
"Aku, malas mandi sayang,"rengek Rania.
"Hah, kamu kenapa? sakit?"Lucas menempelkan punggung tangannya di atas kening Rania.
"Enggak, cuma entah kenapa, aku malas saja, maunya tiduran terus,"ucap Rania. lalu menepis tangan Lucas yang masih nempel dikeningnya.
"Mungkin, kamu, kecapean sayang, istirahat saja hari ini,"Lucas jadi sangat khawatir melihat istrinya tidak seperti biasa. biasanya Rania sangat rajin juga cekatan. ia takut kalau kegiatan Rania yang lumayan padat yang menyebabkan istrinya seperti sekarang.
"Gak, bisa yang. aku ada kelas penting hari ini, lagian itu tugas yang lain masih ada sama aku,"ucapnya. tangannya menunjuk tumpukan kertas di atas meja. sebagai penanggung jawab kelas sudah kewajibannya melakukan itu semua.
"Aku, akan minta izin sama dosen kamu. jangan memaksakan diri yang,"Lucas menarik napas panjang melihat istrinya.
"Aku, gak kenapa-napa ko, yu kita mandi bareng,"Rania bangkit lalu mengerlingkan matanya genit.
"Kalau sudah kaya gini, mana bisa nolak,"Lucas langsung menggendong Rania masuk ke dalam kamar mandi.
Mereka berdua cuma sarapan roti karena tak sempat masak, apalagi Rania lagi malas ngapa-ngapain. untungnya Lucas sangat mengerti, jadi tak ada masalah.
"Sayang, kalau kenapa-napa langsung telpon aku ya,"Lucas sangat khawatir melihat wajah Rania tiba-tiba pucat. mereka sudah berada di depan kampus tempat Rania belajar.
"Iya, aku beneran gak apa-apa yang, kamu yang fokus aja kerjanya,"Rania tersenyum meyakinkan Lucas kalau dirinya baik-baik saja.
__ADS_1
"Ya, udah sana masuk, jangan lupa makan ya,"Lucas mencium kening Rania sebelum istrinya itu keluar dari mobil.
Wajah Lucas tiba-tiba muram, matanya melihat Kevin nyamperin Rania yang sedang berjalan. sangat terlihat laki-laki itu terus mendekat ke arah Rania.
Dasar laki-laki gak laku, bisanya cuma dekati istri orang.
Lucas melajukan mobilnya menuju kantor karena sudah siang, ia tak mungkin nyamperin Rania meskipun hatinya sangat tak suka melihat kejadian tadi. walaupun Rania sudah bilang kalau tak memiliki perasaan apapun sama Kevin. Rania juga selalu jujur tentang kegiatannya.
****
Rania memberikan tugas yang sudah ia kumpulkan kemarin pada dosen Kevin. Rania menolak ketika Kevin menyuruhnya untuk menyerahkan tugas itu di dalam ruangannya, dengan alasan ada hal yang mau ia katakan.
"Maaf, saya ada kelas sebentar lagi pak,"Rania berusaha menolak permintaan Kevin.
"Rania, apa kamu benar-benar sudah menikah?"tanya Kevin.
Rania memutar bola matanya jengah, ia bosan harus terus menjelaskan statusnya. pasalnya itu dosen tak pernah percaya.
"Saya, sudah beberapa kali bilang kan pak, saya beneran sudah menikah,"jelas Rania. matanya menatap sekeliling banyak mahasiswa yang menatapnya karena mengobrol sama dosen idola para maha siswi.
"Saya, tidak mau menambah masalah pak, mending bapak terima Viola, lagian kalian sudah tunangan kan?"
"Saya, beneran, gak ada perasaan apa-apa sama dia. saya dipaksa buat tunangan sama Viola sama orang tua saya,"Kata Kevin. wajahnya terlihat putus asa.
"Itu, bukan urusan saya. saya gak mau dituduh merebut pacar orang lagi, seperti waktu sekolah,"
"Saya minta maaf soal itu, tapi sekarang saya janji akan melindungi kamu Ran, jadi kamu mau ya jadi pacar saya,"Kevin mengikis jarak dengan Rania.
"Enggak, sampai kapanpun tetap enggak pak, saya sudah menikah,"Rania mundur ketika Kevin semakin dekat.
"Saya, gak percaya. pasti kamu cuma jadi simpanan kan? aku ingat kata oma, kalau kamu itu kerja jadi pembantu, tapi sekarang kamu bisa kuliah di kampus mahal, jadi, saya yakin kalau kamu itu cuma jadi simpanan om-om tua,"Kevin menyeringai melihat wajah Rania pias.
Wajah Rania memerah karena emosi ketika mendengar ucapan dosen di depannya, sekarang ia sudah melihat sifat asli Kevin yang selama ini terlihat lembut juga sopan.
__ADS_1
"Dasar, gilak,"bentak Rania, setelah itu ia meninggalkan Kevin yang masih mematung ketika mendengar bentakan Rania.
Apa, aku sudah keterlaluan?
Kevin menatap punggung Rania yang semakin menjauh. ada rasa sesal dihatinya karena sudah mengatakan kata-kata yang menyakitkan. untuk wanita yang selama ini mengisi hati juga pikirannya. sebenarnya ia sudah mencari tahu tentang kenapa Rania bisa masuk kampus mahal seperti ini. awalnya ia berpikir kalau Rania dapat beasiswa karena otaknya yang encer bahkan di sekolahnya waktu di Bandung Rania selalu juara. tetapi penjelasan pihak kampus sangat membuat ia tercengang, bagaimana tidak yang mendaftarkan Rania adalah donatur terbesar di kampus tempat ia mengajar sekarang.
Rania memasuki kelasnya dengan wajah yang muram, Firda yang duduk disampingnya mengernyit melihat wajah sahabatnya.
"Kenapa non? wajahnya suram amat,"ledek Firda.
"Pagi-pagi udah bikin emosi, dasar dosen gila,"gumam Rania.
"Pak dosen ganteng lagi?"tanya Firda.
"Iya, bikin kesel tahu gak,"Rania menelungkupkan wajahnya ke atas meja.
"Sabar, itulah resikonya punya wajah cantik,"Firda mengusap punggung Rania.
Rania tak merespon ucapan Firda, kepalanya tiba-tiba pusing sampai ia malas bahkan untuk sekedar mengangkat wajah.
Tak berapa lama dosen masuk ke dalam kelas. Firda langsung mengguncangkan tubuh Rania yang sejak tadi menelungkup di atas meja.
"Woy, Rania, bangun tuh dosen ganteng masuk,"Firda menggoyangkan tangan Rania.
Rania langsung mengangkat wajahnya menatap lurus ke depan.
"Pagi, semuanya, hari ini kita kedatangan teman baru pindahan dari kampus U di kota Bandung. silahkan perkenalkan diri,"kata dosen.
Rania mematung melihat orang yang berdiri di depan sana. ia yakin hidupnya tak akan nyaman mulai sekarang.
"Selamat pagi semuanya,"sapanya dengan senyum.
"Pagi juga,"semuanya kompak bersuara.
__ADS_1
"Perkenalkan nama saya.....