
"terus, aku bayarnya pakai apa?"tanya Rania.
"Pakai cinta sama kesetiaan kamu,"jawab Lucas.
"Hah, maksudnya gimana sih, sayang?"Rania merasa bingung dengan jawaban suaminya.
"Jangan pernah ninggalin aku, apa pun yang terjadi dimasa depan sayang,"Lucas mencium pucuk kepala Rania berkali-kali.
"Kenapa ngomong kaya gitu? oh iya kata mama oma Ratna mau pulang ya,"tanya Rania.
"Gak apa-apa, mama ngomong sama kamu?"
"Iya, omah orangnya kaya gimana sayang?"tangan Rania memainkan kancing kemeja Lucas.
"Pokonya. nanti, kamu jangan jauh-jauh dari aku ya, gak perlu dengerin ucapan omah,"Lucas membingkai wajah Rania dengan tangannya.
"Aku takut sayang, omah pasti gak setuju kan, kamu nikah sama aku,"Rania menyembunyikan wajahnya di dada kokoh Lucas.
"Hei, lihat aku sayang,"tangan Lucas menarik wajah istrinya."aku gak peduli, mau omah gak setuju atau gimanapun, yang penting aku sayang juga cinta sama kamu, kita harus siap dengan cobaan apapun ya sayang,"
"Kamu cinta sama aku?"cicit Rania.
"Iya, aku udah jatuh cinta sama kamu, entah sejak kapan, aku juga gak tahu,"Lucas mengecup pipi Rania.
"Kok gitu, masa gak tahu sayang,"Rania memalingkan wajahnya.
"Ya emang gak tahu persisnya kapan, sekarang aku tanya. kamu udah cinta belum sama aku?"Lucas menahan wajah Rania supaya menatapnya.
"Gak tahu, aku belum pernah pacaran,"jawab Rania dengan wajah memerah.
"Masa,"
"Bodo,"ucap Rania ketus.
"Aku serius sayang. masa belum pernah pacaran sih,"Lucas mengernyit menatap istrinya.
"Aku gak pernah mikirin pacaran sayang, kamu tahu kan kehidupan aku kaya apa. setiap pulang sekolah. aku bantuin ibu jaga warung sambil belajar,"papar Rania.
"Ibu punya warung?"tanya Lucas.
"Iya, warung kecil-kecilan, itu juga Uwa yang kasih modal, karena kasian lihat aku sering dibuly sama anak lain waktu sekolah,"jawab Rania sambil tersenyum.
Lucas tahu di balik senyuman itu tersimpan luka yang selama ini Rania tahan, ia sudah banyak tahu tentang kehidupan Rania dari bik Tuti yang selalu menceritakan keponakan kesayangannya itu.
__ADS_1
"Kamu gak usah ingat waktu yang menyakitkan itu, aku janji bakal menjaga kamu, membahagiakan kamu. mulai sekarang hanya akan ada kebahagiaan yang kamu rasakan kebahagiaan,"Lucas mencium kening istrinya lama.
"Ah manisnya, ternyata pak Lucas yang dingin dan tak pernah tersenyum itu bisa sweet juga,"Rania mencubit pipi Lucas gemas.
"Kata siapa aku gak pernah senyum?"tanya Lucas pura-pura merajuk.
"Emang iya kan? pas pertama aku disuruh bangunin kamu malah dibentak-bentak, boro-boro senyum, yang ada malah menakutkan,"jawab Rania.
"Kalau di ranjang menakutkan gak?"Lucas mengedipkan matanya.
"Apaan sih, malah bahas ranjang, aku gak tahu,"wajah Rania langsung terasa panas mendengar ucapan suaminya.
"Kenapa gak tahu?"Lucas masih menggoda Rania.
"Kan aku tutup mata. jadi gak tahu,"
"Ya udah, sekarang jangan tutup mata biar tahu hahaha...."Lucas menggendong Rania menuju kamar pribadinya.
"Sayang, turunin mau kemana sih?"Rania langsung melingkarkan tangannya dileher Lucas karena takut jatuh.
"Biar kamu tahu, aku galak gak kalau di ranjang,"ucap Lucas. ia membuka pintu kamar menggunakan kaki juga siku.
"Tapi, ini di kantor sayang, emang kamu gak kerja, nanti ada orang masuk gimana?"tanya Rania beruntun.
Akhirnya siang itu mereka melakukan sesuatu yang menyenangkan, tak dipungkiri kalau Rania juga menyukainya. ternyata bercinta tidak se-menakutkan yang ia pikirkan.
Hendrik masuk ke dalam ruangan Lucas tanpa mengetuk pintu terlebih dulu, ia celingak celinguk mencari Lucas juga Rania.
Begitu kakinya mendekat ke arah pintu kamar tempat Lucas istirahat kalau lembur, telinganya mendengar suara yang sangat menyakitkan untuk dirinya yang masih jomlo.
Dasar bos edan, ternyata nyuruh istrinya kesini tuh mau melakukan itu, kaya gak punya rumah, telinga gue jadi berdosa dah ah.
Lucas langsung keluar dari ruangan Lucas, ia tak mungkin bakal kuat kalau lebih lama mendengar suara yang sangat menyakitkan untuk seorang jomlo seperti dirinya.
"Pak Hendrik, apa pak Lucas sudah bisa menanda tangani berkas ini?"Wina langsung mencegat Hendrik yang baru keluar dari ruangan CEO.
"Enggak, mending nanti aja, sekarang ia sedang bersama istrinya. jadi tidak bisa diganggu,"setelah mengatakan itu, Hendrik langsung berlalu dari hadapan Wina, padahal mulut sekretaris itu sudah terbuka siap mengeluarkan kata-kata.
Sekertaris Wina belum mengetahui kalau Lucas membawa Rania, pasalnya waktu Lucas pulang meeting ia sedang istirahat makan siang di kantin yang tersedia di kantor itu.
Istri? sejak kapan pak Lucas punya istri, perasaan gak pernah denger kalau bos galak plus dingin itu menikah, tapi kalau bener tamatlah harapan gue.
Wina menggelengkan kepalanya, lalu berjalan kembali ke tempatnya bekerja. ia meneruskan pekerjaannya meskipun tidak fokus karena ucapan Hendrik tentang Lucas yang membawa istrinya dan sedang berduaan.
__ADS_1
Padahal ia selama ini sudah berusaha mencari perhatian bosnya, tetapi tak pernah sekalipun Lucas meliriknya selain masalah pekerjaan.
****
Seorang wanita cantik bersama wanita lansia baru saja turun dari pesawat, ia menggandeng tangan wanita lansia disampingnya menuju tempat penjemputan.
Bu Renata langsung berdiri begitu melihat ibunya, ia berjalan menghampiri sang ibu lalu memeluknya.
"Ibu sehat?"tanya bu Renata setelah melepas pelukannya.
"Sehat, kamu sendiri jemput ibu?"oma Ratna celingukan mencari sesuatu atau seseorang.
"Aku sendiri bu, Lucas masih kerja begitu juga Mas Bambang,"mata bu Rena memperhatikan perempuan yang ia perkirakan usianya tidak jauh beda sama Lucas.
"Dasar menantu sama cucu kurang ajar, sudah tahu saya mau pulang malah lebih memilih bekerja,"oma Ratna mendengus.
"Sudahlah bu, oh iya siapa perempuan cantik yang ibu bawa ini?"bu Renata mengalihkan pembicaraan, kalau terus dibiarkan yang ada akan terus berlanjut.
"Dia anak Tio, Serly,"ucapan oma Ratna masih ketus. bukan masih tapi emang selalu ketus.
"Wah, kamu sudah dewasa nak, mami sama papi kamu sehat?"bu Renata mendekati Serly yang dari tadi diam saja.
"Makasih tante. mami sama papi sehat, mereka juga kirim salam buat tante sekeluarga,"Serly mencium punggung tangan bu Renata lalau memeluknya.
"Ah iya, syukurlah kalau sehat,"bu Renata melepaskan pelukannya.
"Malah peluk-pelukan, buruan Rena! ibu pegel berdiri terus,"suara oma Ratna sedikit meninggi.
"Iya ibu, sabar dong!"supir bu Renata membawa koper milik oma Ratna.
"Pak, sekalian punya saya ya,"Serly menunjuk beberapa koper miliknya, supaya sopir bu Renata membawanya.
"Iya non, saya menyimpan koper omah dulu,"pak Maman menunduk sopan, walau Serly bukan majikannya tapi ia adalah tamu jadi pak Maman tetap mematuhi.
"Nak Serly, kalau semuanya pak Maman yang bawa kasian, itu kebanyakan,"bu Renata tak sula melihat tingkah Serly karena terlihat angkuh.
"Ah, iya tante. maksud saya yang satu, biar saya bawa yang lainnya, maaf ya pak,"Serly langsung berubah lembut ketika bu Renata melihatnya.
Kirain gak bakal denger, lagian itu tugas dia kan, omah nih malah ngeloyor aja bukannya belain kek.
Serly menggeret kopernya meskipun dengan wajah kesal, tapi sesuai dengan perintah oma, ia harus bisa memenangkan hati keluarga Lucas. supaya bisa menendang perempuan yang jadi istrinya Lucas.
Maaf kemarin gak up, malah ketiduran. jangan lupa like, komen, vote, juga tips nya 🤗🤗
__ADS_1