Dinikahi Majikan

Dinikahi Majikan
part 101


__ADS_3

Acara syukuran kehamilan 4 bulan Rania, berjalan dengan lancar. acaranya sangat rame karena pak.Bambang mengundang banyak anak yatim piatu, juga tetangga bu Lilis hampir semua datang.


Melihat itu, Bu Lilis langsung menjatuhkan air matanya karena terharu, ia bahagia karena melihat anak semata wayangnya mendapatkan kasih sayang yang begitu tulus dari suami juga keluarganya. rasanya penderitaan yang selama ini mereka tanggung langsung terbalas dengan berkali lipat kebahagiaan yang mereka dapatkan sekarang, tinggal ia bersyukur atas semua yang sudah Allah berikan kepada anak sama dirinya.


"Lis, kenapa malah nangis, kamu ingat bapaknya Rania?"bik Tuti menepuk punggung sang adik.


"Iya, tapi aku nangis karena bahagia, melihat kehidupan anakku teh, ternyata Allah itu adil. kita dulu hidup sangat menderita, tapi sekarang,"bu Lilis mengusap air matanya.


"Makanya, kita harus bersyukur apa-pun keadaan kita, terus percayalah kalau setelah kesedihan pasti ada kebahagiaan,"papar bik Tuti.


Kedua kaka adik itu larut dalam keharuan, sungguh kuasa Allah itu nyata, dan benar adanya.


Sedangkan Rania, sedari mulai acara syukuran itu, ia tak pernah lepas dari rengkuhan Lucas. suaminya itu benar-benar tak melepaskan dirinya, bahkan untuk sekedar menyapa teman pun Lucas menemani dirinya.


"Pokoknya, kamu jangan jauh-jauh ya, aku gak mau kamu kenapa-kenapa sayang, tuh lihat tetangga julid kamu, udah ngeliatin dari tadi,"bisik Lucas, ia menunjuk keluarga bu Reni dengan dagunya.


"Iya, lagian mereka gak akan berani yang, kamu udah ngancam mereka waktu itu, masa gak takut,"balas Rania.


"Ya, siapa tahu, menurut aku, orang seperti mereka, pasti akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang mereka mau, pokonya kamu harus hati-hati,"ucap Lucas.


Rania mengangguk tanda mengiyakan, dari dulu keluarga itu sudah terkenal arogan. makanya ia sependapat sama apa yang Lucas ucapkan barusan.


Acara ditutup dengan memberi santunan kepada anak-anak yatim piatu, tak lupa pak Bambang sama bu Renata juga memberikan bingkisan kepada para tetangga besannya.


Sekarang tinggallah keluarga inti yang ikut hadir dalam acara itu, mereka sengaja ikut datang sekalian liburan di kampung halaman Rania, mereka terlihat antusias ketika ada di sana.


"Bro, kayanya gue betah di sini, udaranya sejuk, pemandangan juga indah, daripada di ibu kota yang banyak polusi,"celetuk Arya, sepupunya Lucas.

__ADS_1


"Baguslah, nanti elu tinggal aja di sini, sekalian jagain villa bokap!"balas Lucas.


"Pasien, gue masih banyak yang harus gue tanganin bro, lagian masa ganteng kaya gini, cuma jadi penjaga villa,"Arya melempar bantal sofa ke arah Lucas, tapi Lucas langsung menghindar, akibatnya bantal itu mengenai Rania tepat di atas perut yang menonjol.


"Aduh, maaf, maaf, aku gak sengaja,"Arya langsung mendekat ke arah Rania, hendak mengusap perut istri sepupunya itu. tapi sebelum tangan Arya sampai, Lucas langsung menepis tangan Arya.


"Sembarangan, makanya hati-hati dong,"ujar Lucas.


"Maaf bro, gak sengaja gue, lagian kenapa elu malah ngehindar sih?"Arya merasa bersalah, ia berkali-kali minta maaf sama Rania.


"Gak, aku gak papa kok, mas Arya tenang aja,"Rania tersenyum pada Arya.


"Beneran? kalau merasa gak enak, bilang aku ya, nanti aku periksa,"ujar Arya.


"Enak aja, elu kan dokter gadungan, masa mau periksa istri gue, paling-paling elu mau modus ya,"Lucas mendelik pada Arya.


"Heh! sembarangan, SIP gue asli, mana ada Dokter gadungan,"Arya memukul pundak Lucas dengan keras sampai Lucas meringis.


Tak terasa matahari sudah hampir tenggelam di sebelah barat, hawa dingin sudah sangat terasa di kampung yang masih ditumbuhi dengan pohon rindang serta perkebunan yang membentang luas, menyejukkan mata siapapun yang memandangnya.


Semua keluarga suaminya menginap di villa yang baru selesai itu, termasuk kedua orang tua Lucas. sementara Lucas sama Rania tidur di rumah bu Lilis. Lucas tau kalau istrinya itu sangat merindukan rumah ibunya, meskipun keadaan rumah yang sudah lebih baik, tapi tetap di tempat itulah saksi Rania tumbuh dari bayi sampai dewasa dan menjelma jadi wanita cantik yang sebentar lagi menjadi ibu.


Rania menyiapkan baju ganti suaminya, saat ini Lucas sedang di dalam kamar mandi. setelah selesai memilih baju untuk Lucas, Rania keluar dari kamar, lalu berjalan menuju dapur.


"Bu, lagi masak apa?"Rania berjalan mendekati bu Lilis yang sedang berdiri di depan kompor.


"Ibu, bikin ayam bakar Ran, suami kamu mana?"tanya bu Lilis.

__ADS_1


"Masih mandi, nanti sambalnya yang pedas ya bu, terus lalapan jangan lupa,"Rania membayangkan makan ayam bakar sama sambel terus ditambah lalapan, ia mengusap perut buncitnya.


"Jangan, kamu lagi hamil, pedasnya sedang aja ya, gak usah banyak nawar, nurut sama orang tua,"


"Huh! mana enak ndoro, aku udah lama gak makan yang pedas-pedas,"Rania berusaha merayu ibunya biar dibikinin sambal sesuai kemauannya.


"Ran, kamu mau gak masuk surga?"tanya bu Lilis.


kening Rania mengerut mendengar pertanyaan ibunya, apa hubungannya sambal sama masuk surga. pikirnya.


"Mau, orang gila juga pasti kalau ditanya gitu, jawabnya pasti mau lah ibu ratu,"Rania menatap ibunya.


"Kalau kamu, masih waras atau sudah sedikit gila?"tanya bu Lilis lagi.


"Maksudnya, apaan sih bu? langsung sama inti aja, aku lagi gak mau mikir berat,"Rania berdecak mendengar pertanyaan ibunya yang berbelit-belit.


"Kalau, mau masuk surga. kamu harus nurut sama ibu, jangan makan terlalu pedas ya, nanti kamu masuk surga kalau nurut sama ibu,"Bu Lilis menjelaskan maksud pertanyaan tadi yang berbelit-belit.


"Astaga, kenapa harus pertanyaan mau masuk surga sih, tadi kita lagi bahas sambal perasaan,"Rania geleng-geleng kepala.


"Eh, kata bu Halimah, besok anaknya bu Reni mau pulang Ran. kamu sering bertemu dia katanya , waktu masih kuliah,"ujar bu Lilis.


"Sayang....."


Tiba-tiba suara Lucas terdengar di indera pendengaran kedua orang itu, membuat obrolan keduanya terhenti.


"Sana, samperin mantu tampan ibu, kasian,pasti dia kedinginan habis mandi, pasti minta peluk sama kamu,"bisik bu Lilis di telinga Rania.

__ADS_1


"Hemmm.... pasti ibu ratu iri ya, makanya nikah uhuy,"ledek Rania, setelah itu ia langsung ngacir menuju kamarnya.


Dasar anak aku, pasti senang banget setelah meledek ibunya. kalau gak sayang, udah aku tukar tambah sama rongsok.


__ADS_2