
Setelah selesai makan sambil suap-suapan, kedua orang itu pindah keruang depan, sebenarnya Rania sudah sangat mengantuk, tapi Lucas melarangnya langsung tidur setelah makan.
"Bentar sayang, aku ngambil tas kerja dulu di dalam mobil,"ucap Lucas.
Lucas langsung keluar dari rumah melalui pintu belakang yang langsung terhubung ke garasi rumahnya.
Rania mengerjapkan matanya, ia benar-benar ngantuk karena kekenyangan.
"Sayang, ngantuk banget?"tanya Lucas. ia menteng tas kerjanya sambil berdiri di depan Rania.
"Iya, kayanya aku kekenyangan sayang, jadi ngantuk banget,"sahut Rania.
"Ya udah, kita ke kamar aja, kamu tidur,"
Lucas membantu istrinya berdiri, lalu memapahnya menuju kamar mereka berdua.
Setelah sampai di dalam kamar, Rania langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, tanpa mencuci muka atau gosok gigi.
"Beneran ngantuk banget nih anak, padahal tadi mau cerita masalah Shela,"gumam Lucas.
Lucas membenarkan posisi tidur istrinya, setelah mengecup kening Rania, ia segera memeriksa berkas-berkas penting, supaya besok tidak terlalu banyak kerjaan.
Setelah selesai, Lucas ke kamar mandi untuk mencuci wajah juga gosok gigi. lalu ia.menyusul Rania ke atas tempat tidur. begitu akan terlelap Lucas ingat kalau istrinya itu belum membersihkan wajahnya sebelum tidur.
Lucas turun kembali dari atas tempat tidur, ia mengambil pembersih wajah dari atas meja rias lalu mulai menuangkan cairan itu ke atas kapas, dengan telaten, Lucas membersihkan wajah istrinya. ia tersenyum saat matanya melihat Rania meringis entah merasa dingin karena cairan itu atau gara-gara tidurnya terganggu.
"Lucu banget sih,"lirih Lucas.
Setelah dirasa cukup, Lucas menyimpan kembali peralatan yang tadi ia pakai ke tempat asalnya.
Lucas mencium kening Rania sebelum memejamkan mata sambil memeluk tubuh istrinya.
***
Firda baru saja selesai membersihkan meja bekas pengunjung restoran, mereka sudah tutup karena waktu sudah menunjukan pukul sembilan malam. ia menyimpan lap yang tadi ia gunakan di belakang.
"Firda, pulang bareng gue yuk,"ajak salah satu teman kerjanya, laki-laki itu kayanya sengaja menunggu Firda selesai.
"Eh, bang Fadli, aku udah pesan ojeg online, paling sebentar lagi datang,"
"Kamu, kensel aja, sayang uangnya, mending aku anterin,"ucap Fadli.
"Gak usah bang, lagian kostan aku jauh dari sini, makasih niat baiknya, aku duluan,"Firda tersenyum, ia mengambil tasnya lalu keluar dari restoran.
Ia menunggu ojeg yang sudah ia pesan di depan restoran, badannya sangat lelah karena tadi pengunjung restoran cukup ramai membuatnya susah untuk istirahat barang sebentar saja.
__ADS_1
"Kamu, masih nunggu ojeg?"Daniel tiba-tiba berdiri di sampingnya, ia tak menyadari kapan datang atasannya itu.
"Ah, iya pak, tapi belum datang-datang,"Firda terlonjak mendengar suara Daniel, pasalnya tadi ia sedang fokus melihat layar ponselnya.
"Bareng sama saya aja, bahaya kalau jam segini naik angkutan umum,"
"Eum, gak usah pak, kasian abang ojolnya kalau dibatalkan,"
"Biar saya yang bayar, kamu pulang bareng sama saya aja,"
"Tapi, tujuan kita beda arah pak, apa tidak merepotkan kalau bapak harus putar balik nanti?"Firda merasa tak enak, sejak waktu dimana ia dianterin pulang, Daniel jadi sering mengajaknya pulang bareng.
"Gak papa, daripada kamu pulang naik ojeg, mending saya anterin,"
"Maksih pak, tapi saya nunggu abang ojolnya dulu, kasian kalau dibatalkan tanpa dibayar, apalagi kalau hampir sampai,"
Tak lama seorang abang ojol datang mengahampiri keduanya, akhirnya Daniel membayar ojol itu, meskipun Firda melarangnya.
Daniel mengajak Firda masuk ke dalam mobilnya, entah mengapa ia mengagumi gadis di sampingnya itu, menurutnya Firda adalah wanita yang mandiri, dewasa, rajin.
Pantesan nolak diajak pulang bareng, rupanya mau sama yang punya mobil plus bos sendiri! dasar perempuan matre. terlihat seseorang mengumpat setelah melihat Firda naik ke dalam mobil Daniel.
Selama perjalanan tak ada obrolan apa-apa, Daniel fokus sama kemudinya, sedangkan Firda mengistirahatkan badannya yang terasa pegal. sesekali Daniel mencuri pandang ke arah Firda yang nampak memejamkan mata sambil menyandarkan tubuhnya pada sandaran jok mobil.
Sampai akhirnya, mobil yang Daniel kemudikan sampai di depan kostan tempat Nenda tinggal.
"Boleh kalau saya bisa pak, emangnya minta tolong apa ya?"tanya balik Firda.
"Eum, apa kamu mau jadi pacar saya?"
"Hah, maksudnya gimana pak?"Firda tak mengerti, meskipun mereka sudah agak dekat, tapi kalau langsung ditanya mau jadi pacar syok juga.
"Eum, itu, eum maksud saya, pura-pura jadi pacar saya, soalnya kalau saya tidak punya pacar, ibu akan menjodohkan saya sama anak temen arisannya,"jelas Daniel.
Kenapa nasib gue apes banget, sama pak Kevin cuma jadi pacar pura-pura, sekarang pak Daniel, apa takdir gue cuma pura-pura juga, padahal pak Kevin aja belum gue jawab, eh ini malah ada lagi, besok-besok mending gue buka jasa jadi pacar sewaan deh!
"Hai, kenapa malah bengong? saya nunggu jawaban kamu, bisa gak?"Daniel mengibaskan telapak tangan di depan wajah Firda.
"Oh, hah, ah saya gak tau pak, apa boleh menjawabnya lain waktu pak?"Firda gagap karena kaget.
"Oh, boleh sih, tapi kalau bisa jangan lama-lama, solanya anak temen mama akan segera pulang katanya, saya beneran tidak mau dijodoh-jodoh seperti itu,"
"Eum, iya pak, kalau begitu saya masuk dulu pak, makasih udah nganterin,"ucap Firda.
"Dua hari, saya kasih waktu dua hari, cukup kan?"tanya Daniel.
__ADS_1
"Iya pak, mungkin cukup,"sahut Firda dengan tak yakin.
"Oke, semoga kamu bisa bantu saya, selamat malam,"kata Daniel.
Setelah Firda masuk ke dalam kostannya, Daniel segera melajukan mobilnya meninggalkan kostan karyawannya itu.
Semoga anak itu bisa, lagian mama ada-ada saja, denget Lucas sudah mau punya anak jadi ikut kepanasan,"gerutu Daniel.
🌹🌹
Menjelang pagi, Lucas mengucek matanya, ia bangun terlebih dulu dari istrinya, biasanya Ranialah yang bangun lebih dulu, tapi sekarang terlihat Rania masih tertidur pulas dalam dekapannya.
"Sayang, bangun yuk,"bisik Lucas ditelinga Rania.
"Ngghh... aku masih ngantuk sayang,"Rania malah membalikan tubuhnya membelakangi Lucas.
"Hei, bangun ah, atau mau dibangunin dengan cara lain sayang?"goda Lucas.
Tak ada respon dari Rania, malah napas yang teratur menandakan kalau istrinya itu tidur kembali.
Lucas mengambil ponselnya, setelah itu membuka app kamera lalu memotret wajah Rania yang sedang tertidur.
Karena tak berhasil, akhirnya Lucas membiarkan istrinya itu tertidur lagi. ia memilih masuk ke dalam kamar mandi.
Lima belas menit kemudian Lucas keluar dari kamar mandi, matanya melirik ke arah tempat tidur yang sudah kosong, ternyata Rania sedang memilih baju ganti untuknya.
"Tadi, kenapa susah dibangunkan?"tanya Lucas.
"Aku, masih ngantuk, tapi ingat tugas aku, jadinya bangun,"jelasnya. Rania meletakan kemeja sama celana Lucas di atas kasur.
"Padahal tidur aja sayang, aku bisa kok ngambil baju sendiri,"
"Iya, aku tau, kamu bukan anak kecilkan, tapi itu udah kebiasaan, jadi selalu ingat sayang,"Rania membantu Lucas mengeringkan rambut seperti biasa.
"Oh iya, nanti siang kita belanja yang waktu itu gak jadi, ya yang,"Lucas mencium perut buncit istrinya. Ia yang sedang duduk sementara Rania berdiri, itu memudahkan Lucas.
"Belanja, emang kamu gak kerja yang?"tanya Rania.
"Kerja, tapi aku meeting di cafe asri, sekalian aja belanja di sana aja,"
"Eum, terus aku ikut kamu ke kantor dulu gitu?"
"Nggak, nanti ke sana sama bibi, minta diantar sopir atau naik taksi juga boleh, asal hati-hati,"
"Oke, nanti kalau udah selesai kabarin aja,"
__ADS_1
Niat Lucas untuk membicarakan masalah Shela tak jadi, ia malah lupa untuk menjelaskan sama Rania.