
"Kamu hati-hati kalau jalan!"bentak Lucas pada wanita yang baru saja menubruk Rania.
"Maaf, saya gak sengaja mas, mbak,"ucapnya.
"Makanya kalau jalan itu fokus, jangan sambil main ponsel, kalau istri saya kenapa-kenapa anda mau tanggung jawab?"berang Lucas.
"Aduh, jangan lebay deh mas, itu istrinya juga tidak kenapa-napa kan, saya juga udah minta maaf!"ucapnya dengan sinis, matanya menatap Rania dengan tatapan yang entah seperti apa susah dijelaskan.
"Sayang, udah ya, aku gak papa kok."Rania mengusap tangan suaminya untuk meredakan emosi yang hendak membalas ucapan wanita tadi.
"Tapi kamu
"Udah, kan tadi udah ada kamu, lagian mungkin mbaknya beneran gak sengaja sayang."Rania langsung memotong ucapan suaminya.
"Dasar lebay, gitu aja sewot!"gerutu perempuan yang menubruk Rania.
Rania geleng-geleng kepala mendengar gerutuan wanita itu sambil berlalu, sebenarnya dirinya tak bersalah, justru wanita yang menabraknya karena jalan sambil main ponsel sampai tak menyadari kalau ada orang di depannya, tapi Rania tak mau memperpanjang masalah apalagi masih di area rumah sakit.
"Udah pesan makannya?"tanya Lucas.
"Udah sayang, tinggal nunggu aja,"sahut Rania.
"Bu, makanannya diantar ke meja sana ya,"ucap Lucas pada ibu penjaga kantin.
"Iya mas, silahkan ditunggu,"balas bu penjaga kantin.
Lucas menggandeng Rania menuju meja yang tadi mereka tempati, bu Renata menatap ke arah mereka,"kalian kenapa?"tanyanya.
"Tadi, ada perempuan gila nabrak istriku ma, tapi malah marah-marah, aneh banget,"jelas Lucas.
"Maksudnya gimana?"tanya bu Renata lagi.
"Eum, itu ma, tadi aku lagi pesan makanan kan, eh tiba-tiba ada perempuan yang jalan gak lihat-lihat, matanya malah fokus melihat ponsel, jadinya nabrak aku, untuk suami aku datang tepat waktu,"papar Rania.
"Ya Tuhan, tapi kamu gak kenapa-napa kan Ran, kalau ada yang sakit, kita periksa dulu mumpung masih di sini."Bu Renata terlihat khawatir sekali sama menantunya.
"Gak papa, aku baik-baik saja kok ma, untungnya Lucas datang nahan tubuh aku yang hampir jatuh ke atas lantai,"
__ADS_1
"Syukurlah, kamu hati-hati ya, jangan sampai kejadian tadi terulang lagi,"ucap bu Renata.
"Iya ma,"
Setelah itu makanan yang Rania pesan sudah datang, terlihat beberapa menu makanan tersaji di atas meja.
"Sayang, kamu yakin bakal makan semuanya?"tanya Lucas.
"Nggak, tapikan ada kamu yang bakal ngabisin, tadi udah janji loh,"jelas Rania.
Mendengar ucapan Rania sontak membuat bu Renata tertawa lebar, sedangkan Lucas menggaruk tengkuk yang tidak gatal sama sekali, lagi-lagi harus jadi tukang ngabisin makanan, padahal sebelum menikah, boro-boro mau makan bekas orang melihatnya saja sudah mual.
"Ma, mama bantuin ya nanti ngabisin, kayanya perut rata aku melar deh sebentar lagi,"bisik Lucas pada mamanya.
"Ngalah aja, kasian istri kamu lagi hamil, coba kamu lihat dia dengan perut buncit selama 9 bulan, apa dia pernah ngeluh?"
Akhirnya Lucas ikut makan sama istrinya, bu Renata cuma tersenyum melihat wajah anak semata wayangnya itu.
Sementara Rania terlihat fokus menyantap makanan yang ada di depannya, ia sama sekali tidak melihat kiri kanan karena menurutnya makanan di depannya lebih menggoda daripada yang lain.
Shela menggeram marah melihat Rania tak kenapa-napa, padahal dirinya sudah membayar wanita tadi supaya mencelakai Rania.
Shela langsung pergi dari kantin rumah sakit, ia harus mempersiapkan rencananya kembali untuk mencelakai Rania dan merebut Lucas, ia masih yakin kalau Lucas masih menyimpan perasaan untuk dirinya.
Melihat Shela keluar dari kantin, Lucas merasa curiga, ia yakin kalau wanita tadi ada hubungannya sama Shela, sekarang dirinya belum mempunyai bukti, tapi feeling-nya yakin kalau Shela dalang dibalik kejadian tadi.
"Sayang, aku udah kenyang,"ujar Rania.
"Hah, masa kenyang, itu makanan masih banyak sayang!"Lucas menatap istrinya yang sedang meneguk air putih.
"Hehe.... kamu aja yang makan, perut aku udah penuh sayang."Rania terkekeh
Lucas tak menanggapi ucapan istrinya, ia meneruskan makannya meskipun perutnya sudah lumayan penuh gara-gara istrinya.
Akhirnya drama menghabiskan makanan pun selesai, mereka keluar dari kantin karena pak Bambang sudah menunggunya di depan.
Setelah menemukan mobil pak Bambang, Lucas membukakan pintu untuk mama sama istrinya masuk, bu Renata duduk di depan di samping suaminya, sedangkan Lucas duduk bersama istrinya di belakang.
__ADS_1
"Bagaimana kata dokter, kapan keluar bayinya?"tanya pak Bambang saat semuanya sudah berada dalam mobil.
"Papa gimana sih, sekarang masih delapan bulan, masih satu bulan lagi lah."Bu Renata memukul tangan suaminya.
"Papa udah gak sabar mau lihat cucu ma, ingat perjanjian kita juga papa, jadi semangat banget menunggu bayinya lahir."Pak Bambang tertawa kencang matanya melirik sekilas ke sampingnya, setelah itu ia fokus ke jalanan.
"Perjanjian apa nih?"tanya Lucas dari belakang.
"Bukan apa-apa, ini masalah orang tua,"ketus bu Renata, entah kenapa dirinya merasa kesal padahal jenis kelamin cucunya itu belum jelas laki-laki atau perempuan.
Lucas melirik istrinya meminta jawaban, tapi Rania malah mengedikkan bahunya sambil bersandar pada bahu Lucas.
Akhirnya Lucas diam tak bertanya lagi, ia memejamkan matanya, tangannya menggenggam tangan sang istri.
Bu Renata menoleh kebelakang sebentar,"kenapa tadi papa lama, orang yang Lucas minta udah papa perintahkan?"tanyanya pada sang suami.
"Papa gak enak tadi ma, makanya papa ngobrol dulu sambil makan, jadi telat jemput mama sama anak-anak, untuk orang yang menjaga Rania, papa udah dapat orang yang tepat, mama tenang aja,"jelas pak Bambang.
"Syukurlah, mama tenang kalau gitu, tadi waktu kita di kanton rumah sakit, perempuan itu ada di sana, gak tahu kebetulan atau sengaja mengikuti kami,"papar bu Renata.
"Maksudnya, mantan pacar Lucas ma?"tanya pak Bambang.
"Ya iya, siapa lagi, papa gimana sih,"
Lucas mendengarkan semua obrolan orang tuanya, meskipun matanya terpejam tapi ia bisa mendengar obrolan mama sama papanya, ia senang atas semua perhatian mereka untuk Rania.
****
Shela sudah berada di tempat kerja lengkap dengan seragamnya, tiba-tiba ponselnya berdering menandakan ada panggilan masuk, untungnya ia masih dalam ruangan sehabis ganti baju.
Shela menggeser tombol warna hijau untuk menerima panggilan itu,"gimana, sudah dapat informasi yang saya butuhkan?"tanyanya.
"Sudah, kita ketemuan dimana bos? saya pastikan semua informasinya lengkap, jadi bayaran saya full,"
"Bagus, nanti setelah saya selesai kerja kita ketemu di tempat kemarin,"
"Siap, saya tunggu bos!"
__ADS_1
Shela tersenyum, ia merasa usahanya selangkah telah maju, dirinya yakin kalau Lucas akan kembali pada dirinya.
Setelah Lucas kembali sama aku, saya akan keluar dari kerjaan menyebalkan ini!