
"Siapa maksud kamu?"
"Papa, masih ingat David Brooklyn?"
"Maksud kamu, yang jadi saingan bisnis Om Harsya?"
"Iya, nah waktu itu aku minta orang untuk menyelediki Shela, dan hasilnya dia pergi ke Amerika ikut sama laki-laki itu, ternyata ketika masih menjalin hubungan sama aku, Shela juga pacaran sama David pah,"
Penjelasan Lucas sukses membuat kedua orang tuanya syok, ia tak menyangka kalau Shela begitu tidak berperasaan, padahal dirinya yang mengejar-ngejar Lucas, tapi setelah dapat ia dengan mudahnya berpaling sama laki-laki yang lebih kaya.
"Terus, masalah kecelakaan kamu?"tanya bu Renata.
"Itu semua rencana mereka ma, lebih tepatnya ibunya Shela yang meminta anak buah David supaya mencelakai Lucas,"jelas Lucas.
"Kenapa gak bilang sama papa, padahal kami ngiranya kamu stres gara-gara ditinggalkan perempuan itu,"
"Cuma bibi yang tahu masalah ini pa, waktu itu papa lagi diluar kota sama mama, jadi aku gak mau membebani, makanya gak bilang tentang semua rencana mereka."Lucas menarik nafas panjang.
Flash back
"Pagi mah, pah,"sapa Lucas.
"Pagi nak, oh iya, mama sama papa mau ke luar kota hari ini, teman papa mengundang kita ke nikahan putrinya."Bu Renata mengisi piring Lucas.
"Kenapa baru bilang sekarang, terus pertemuan sama pak Arif bagaimana kalau papa pergi?"
"Kan ada kamu, mulai sekarang kamu harus terbiasa mengantikan papa, cuma kamu yang papa andalkan, minta Hendrik menemani kamu buat meeting sama pak Arif, papa percaya sama kemampuan kamu nak,"jelas pak Bambang.
Mau tak mau Lucas menyetujui permintaan papanya, setelah selesai sarapan ia langsung berangkat ke kantor bersama Hendrik.
__ADS_1
"Bro, bagaimana sudah ada kabar tentang pacar lo itu?"Hendrik bertanya.
Lucas menatap jalanan di depannya sebelum menjawab,"kemarin, Jack sudah memberitahu kalau Shela pergi sama tante Ambar ke Amerika, tapi mereka bukan cuma berdua, tapi masih Jack cari tahu identitas laki-lakinya,"jelas Lucas.
"Sabar bro, gue yakin kalau kalian jodoh, pasti akan dipertemukan kembali, bagaimanapun caranya."Hendrik menepuk tangan Lucas berniat memberi kekuatan biar tabah.
"Gue, masih gak habis pikir sama Shela, kenapa gak bilang kalau mau pergi, setidaknya ngasih gue pesan atau bicara dulu sebelum pergi,"lirih Lucas.
"Mungkin keadaan yang mendesak atau darurat, kita cari tahu dulu masalahnya apa yang membuat dia harus meninggalkan lo tanpa kabar,"
Lucas membenarkan ucapan sahabatnya itu, ia tak mau berpikiran buruk dulu sama pacarnya sendiri, sebelum bukti ia temukan.
Setelah sampai kantor, Lucas langsung menuju ruangan dirinya, meskipun papanya sudah membebaskan dirinya, tapi ia masih merasa belum pantas untuk menggantikan posisi papanya. Lucas juga mengantikan papanya untuk meeting sama klien, meskipun grogi karena baru pertama kali ia menangani hal besar seperti ini, biasanya papanya akan langsung turun tangan sendiri.
Di bantu Hendrik, Lucas sukses memenangkan kerja sama itu, ia sangat bersyukur dengan keberhasilan itu, perusahaan papanya sedikit demi sedikit terus maju dengan pesat. begitu sampai kantor, Lucas kembali mencoba menghubungi no Shela, meskipun awalnya ia terpaksa menerima perempuan itu, tapi tak bisa dipungkiri perasaan dihatinya muncul sedikit demi sedikit. makanya ketika wanita itu pergi Lucas merasa kehilangan. karena tak juga ada jawab bahkan no kekasihnya itu sudah tak bisa dihubungi, Lucas meneruskan kembali kerjaan yang sedikit menumpuk gara-gara papanya tidak masuk hingga dirinya yang harus bertanggung jawab.
(Bos, ternyata nona Shela pergi sama kekasihnya, itu info yang baru akau dapat, kalau mau lebih jelas, kita ketemuan aja bos, bagaimana?)
Lucas membeliak membaca pesan itu, maksud anak buahnya itu kekasihnya, terus dirinya dianggap apa selama ini, apa Shela cuma main-main sama dirinya. berbagai pertanyaan muncul dalam benaknya.
(Oke, nanti kita ketemu ditempat biasa, kamu harus menjelaskan dengan detail semuanya, Jack)
Lucas mengirim balasan sama anak buahnya, meskipun pikirannya sudah tak menentu, tapi Lucas berusaha profesional dalam pekerjaan, meskipun perusahaan itu milik papanya, tapi Lucas tak ingin menggunakan hal itu, sebisa mungkin Lucas mengesampingkan urusan pribadinya.
Akhirnya waktu pulang kerja tiba juga, ia segera membereskan meja kerjanya, lalu bersiap-siap untuk segera menemui anak buahnya sesuai janjinya tadi.
"Bro, buru-buru amat lu, kita ngopi dulu bentar ada cafe baru, katanya makanannya enak-enak, gue denger dari anak-anak divisi pembelanjaan tadi, katanya oke."Hendrik berdiri di samping Lucas yang sedang menunggu lift terbuka.
"Lain kali aja bro, sekarang gue buru-buru, ada hal penting yang harus gue lakuin."Lucas langsung masuk ke dalam lift begitu lift didepannya terbuka.
__ADS_1
"Masalah pacar lo?"tanya Hendrik yang juga ikut masuk.
Lucas mengangguk sebagai jawaban, tangannya merogoh ponsel dari saku jasnya, setelah itu ia langsung mengirim pesan sama Jack kalau dirinya sudah berangkat.
"Oke lah, semoga ada titik temu, jadi lo gak galau-galau lagi, gak betah gue kalau lihat lo murung gara-gara cewek!"Hendrik tertawa sambil menepuk bahu sahabatnya.
"Sialan lo, makanya pacaran, biar tau bagaimana rasanya ditinggal tanpa kabar!"
Hendrik cuma tertawa mendengar ucapan Lucas, dirinya belum kepikiran untuk pacaran, sekarang yang ingin dirinya lakukan cuma ingin sukses supaya bisa membuktikan sama ayahnya kalau ia bisa sukses tanpa campur tangan orang tuanya.
Keduanya berpisah begitu sampai di lobby kantor, Lucas langsung memacu mobilnya menuju tempat yang sudah biasa ia gunakan ketika bertemu anak buahnya itu.
Tak butuh waktu lama, Lucas sudah sampai di tempat itu, terlihat cafe di depannya lumayan rame, banyak anak muda yang sedang duduk di dalam cafe.
"Jack, gimana?"Lucas menepuk bahu anak buahnya yang sudah lebih dulu tiba.
"Eh, bos, kirain masih lama, mau pesan makan dulu apa langsung aja?"
"Langsung aja, saya mau langsung pulang kalau sudah selesai,"sahut Lucas.
Jack mengeluarkan sebuah amplop berwarna coklat dari dalam jaket yang ia kenakan, lalu memberikannya pada Lucas.
Mata Lucas membulat begitu melihat isi amplop itu, di sana terdapat foto-foto Shela bersama seorang laki-laki, bahkan beberapa gambar itu menampilkan beberapa hotel berbintang yang pernah Shela datangi bersama laki-laki tadi.
"Bos, kata orang yang aku tanyain, mereka sudah menjalin hubungan selama satu tahun lebih, dan sekarang pacar bos ikut laki-laki itu sama ibunya juga, saya pastikan info itu valid bos, karena saya langsung dari teman terdekatnya."
Lucas masih mencerna semua kenyataan yang baru ia ketahui, berarti selama ini dirinya sudah ditipu habis-habisan sama pacarnya sendiri. Perasaan marah, sakit hati, sedih, semuanya bercampur menjadi satu, Lucas benar-benar bingung apa yang harus ia lakukan sekarang, matanya masih menatap foto-foto di depannya itu.
Bersambung dulu ya sayangku🤗
__ADS_1