
"Kok, bisa kamu betah tinggal dekat tetangga julid kaya mereka sih yang?"tanya Lucas, keduanya sudah duduk di bangku yang tersedia di taman belakang villa.
Rania menarik napas panjang sebelum menjawab "ya, gimana lagi, cuma itu satu-satunya tanah yang ibu punya, di tempat itu juga banyak kenangan sama bapak, makanya kita bertahan,"
"Mereka, sudah dari dulu kaya gitu?"Lucas menarik Rania kedalam pelukannya.
"Iya, malahan dulu lebih parah yang. aku masih ingat ketika sekolah dasar, ibu kan masih kerja di kebun teh milik mereka, karena dulu banget mereka paling kaya di kampung ini, sekarang mah udah banyak lah yang lebih dari pak Ridwan, jadi, aku tuh sering di suruh bawa tas Violla sama teman-temannya, padahal aku masih kecil, kalau gak salah kelas dua SD, terus kalau aku jalannya lama, pasti didorong sampai jatuh,"ucap Rania panjang lebar.
Lucas merasakan matanya panas, ketika mendengar penjelasan Rania tentang masa kecilnya. ia langsung mendekap erat tubuh Rania.
"Kamu, gak melawan?"tanya Lucas lagi.
"Engga, mana bisa, mereka berlima sedangkan aku cuma sendiri, aku gak punya teman dari dulu, karena tiap ada yang mau temenan sama aku, pasti langsung dilabrak sama Violla dan teman-temannya, apalagi badan aku kecilkan banget kan dulu, mungkin karena kurang gizi,"Rania mendongak menatap Lucas sambil tersenyum.
"Sampai sekolah SMA, kamu gak punya teman?"
"Pas SMA, aku punya teman yang, karena aku udah sedikit berani melawan, soalnya ibu udah berhenti kerja sama orang tuanya Violla, tapi aku gak melawan sampai yang melawan banget, karena takut beasiswa aku dicabut kan waktu itu,"
"Emang, kalau gak kerja di tempat mereka, ibu gak ada kerjaan lain?"
"Gak ada, waktu dulu masih susah bangetkan, kalau gak kerja di tempat mereka, kita gak bisa makan, karena cuma itu sumber rizki buat aku sama ibu, makanya pas waktu dari mulai TK, SD, aku gak pernah punya uang jajan, kalau Uwa pulang baru aku bisa jajan,"Rania tersenyum mengingat kenangan masa kecilnya.
Lucas mengusap rambut sambil mengecup pucuk kepala istrinya, betapa menyedihkan perjalanan kehidupan Rania, padahal dirinya tak pernah merasakan kekurangan sejak kecil, kedua orang tuanya sudah cukup mampu, waktu ia masih kecil. kehidupannya berbanding terbalik sama kehidupan istrinya.
"Oh, iya, aku sampai lupa mau nanya yang,"ucap Rania, ia lalu menarik diri dari dekapan suaminya.
"Nanya apa?"Lucas mengerutkan keningnya.
"Apa, kamu yang ngasih ibu uang buat renovasi rumah, sama menambah modal warung?"selidik Rania.
__ADS_1
"Engga, mungkin ibu punya simpanan,"ujar Lucas.
"Hah! maksudnya ibu punya simpanan pejabat gitu?"sentak Rania.
"Bukan, maksudnya simpanan uang, sayang,"jelas Lucas.
"Oh, kirain, tapi gak mungkinlah, darimana coba, kamu ngaku ajalah yang, pasti dari kamu, kan,"
"Iya, sebagian dari papa, tadinya, aku melarang ibu buat terus jualan, tapi aku mendengar kalau kamu selalu dibilang anak janda miskin, makanya biarlah ibu terus jualan sekalian warungnya diubah jadi toko yang lebih besar,"ucap Lucas.
"Padahal, aku udah biasa kok dibilang anak janda miskin yang, makanya udah biasa, aku juga sadar yang mereka ucapkan itu benar,"lirih Rania.
"Aku, gak rela sayang, aku sudah janji sama diri aku sendiri akan membahagiakan kamu, menjaga kamu sampai mati. mereka gak ada hak buat menghina kamu lagi!"Lucas mengepalkan tangannya. ia berjanji akan membalas apa yang pernah mereka lakukan sama istrinya.
"Aku, boleh nanya lagi, gak?"Rania menatap manik hitam suaminya.
"Eu....eumm itu, gak jadi deng,"Rania ragu-ragu akan bertanya masalah pribadi suaminya.
"Loh, kenapa? tanya aja yang,"Lucas menatap Rania, ia mengangkat alisnya sebelah.
"Apa, kamu pernah pacaran, dulu?"tanyanya dengan hati-hati. selama ini masalah itu selalu mengganjal dihatinya.
Lucas menatap Rania sejenak, setelah itu menatap lurus jauh ke arah hamparan perkebunan,"Pernah, dulu, jauh sebelum kita nikah sayang,"jelas Lucas.
"Oh, terus, kenapa putus?"tanya Rania, ia semakin penasaran.
"Kita, gak putus sayang. dia pergi tanpa meninggalkan pesan apapun,"suara Lucas terdengar parau, entah karena merasa kangen atau apa, Rania tak mengerti.
"Eum....seandainya dia kembali, apa kamu bakal balik lagi sama dia, terus ninggalin aku sama anak aku?"tanya Rania, akhirnya pertanyaan itu keluar juga dari mulutnya.
__ADS_1
"Buat apa? sekarang aku sudah punya kehidupan baru. tak ada alasan aku buat kembali sama dia, lagian aku sudah menyelidiki kehidupan dia setelah meninggalkan aku," Lucas melirik Rania sejenak,"dan satu lagu, ini anak kita sayang, bukan cuma anak kamu, emang bisa bikin anaknya sendiri?"
Lucas mengusap perut Rania, rasanya sudah tak sabar melihat buah hatinya hadir diantara mereka berdua.
Setelah itu mereka dikagetkan dengan suara gaduh dari dalam villa.
"Sayang, itu siapa? kok rame banget perasaan,"tanya Rania.
"Gak tahu, kita lihat aja yu, siapa tahu mama sama papa berubah pikiran, terus berangkat hari ini,"ajak Lucas, ia membantu Rania berdiri lalu menggandengnya masuk ke villa.
Keduanya saling pandang, begitu melihat bu Lilis, bik Tuti sama beberapa orang yang entah siapa.
"Ibu ratu, ngapain pada ribut di sini?"tanya Rania.
"Eh, anak ratu, kirain tadi pada di kamar,"bu Lilis melirik anak mantunya, matanya mengedip seperti orang kelilipan.
"Huh, ngapain jam segini di kamar,"cibir Rania.
"Ya, siapa tahu mau nambahin cucu buat ibu,"bu Lilis menggoda putrinya.
"Astaga, ibu ratu yang paling cantik, yang ini aja belum keluar, masa harus nambah lagi. mending ibu nikah sama mang Toha, terus kasih aku adik,"ujar Rania.
"Ah, mang Toha kan gak cinta sama ibu Ran, dia naksir nya sama Uwa kamu,"bu Lilis langsung cemberut.
"Kerja! kerja! malah ngegosip dasar emak-emak,"bik Tuti langsung memukul tangan adiknya sedikit kencang.
"Hahaha....cie...cie...teteh salting, pasti kangen mang Toha ya, tenang nanti kalau udah pulang ngarit aku bilangin lah,"bu Lilis malah menggoda kakaknya.
Lucas tersenyum melihat kelakuan keluarga istrinya, merasakan kebahagiaan dengan candaan tiga wanita itu. sementara yang lainnya malah memperhatikan wajah Lucas.
__ADS_1