
Mata Lucas membulat ketika ia melihat Rania yang sudah menaiki eskalator, dengan gerakan kilat ia langsung mendorong tubuh Shela sampai terhuyung ke belakang, tapi ia tak peduli perasaan istrinya yang paling penting.
"Baby, kamu kasar banget sih, dulu kamu gak kaya gini sama aku."Shela mendekat kembali ke dekat Lucas. ia berniat meraih tangan Lucas.
"Dasar, cewek sinting!"bentak Lucas.
Setelah itu ia langsung berjalan menjauh dari tempat itu, Lucas tak mau kalau sampai Rania melihat dirinya dekat-dekat wanita lain, meskipun ia yakin kalau istrinya itu suka berpikir dewasa, tapi untuk masalah cemburu wanita jangan ditanya, biasanya mereka tak bisa nahan.
"Baby, aku masih cinta sama kamu, aku mau menjelaskan kesalahpahaman yang dulu,"ucap Shela.
"Shela, mau kemana kamu, sekarang waktunya kerja, malah ngejar-ngejar laki-laki!"bentak seorang perempuan, mungkin atasannya.
Akhirnya Shela mengurungkan niatnya untuk mengejar Lucas, tapi dalam hati ia bertekad akan terus mengejar Lucas seperti dulu sampai laki-laki itu luluh, ia yakin kalau Lucas masih mencintainya, cuma sekarang ia sedang kecewa karena ia tinggalkan tanpa pesan.
Rania sudah sampai dilantai tiga, karena merasa capek karena kehamilannya, sekarang dirinya lebih cepat lelah, Rania mengajak bibi untuk duduk di bangku yang tersedia di dekatnya.
"Non, capek banget ya?"tanya bibi.
"Iya, kenapa ya bi, sekarang jalan sedikit aja langsung ngos-ngosan aku."Rania menyandarkan tubuhnya.
"Ya itu wajah non, kan non Rani sedang hamil besar, yang sabar ya,"jelas bibi.
Setelah merasa enakan, Rania berjalan kembali menghampiri suami yang sudah menunggunya, Lucas memberitahu kalau dirinya sedang berada dekat toko pakaian laki-laki.
"Katanya mau belanja buat baby, kenapa malah ada di toko baju pria dewasa ya bi, aneh-aneh dia."Rania mengedarkan pandangannya ke setiap penjuru toko itu, ia melihat Lucas sedang memilih baju kemeja.
"Sayang, kenapa malah ke sini?"Rania langsung menghampiri Lucas.
"Eh sayang, aku beli baju satu ya, bentar aku ke kasir buat bayar dulu."Lucas langsung meninggalkan Rania yang sudah membuka mulutnya hendak bicara.
Dia kenapa sih, aneh banget deh!
Rania menarik tangan bibi menyusul Lucas, terlihat Lucas sedang melakukan pembayaran untuk kemeja berwarna putih yang tadi ia ambil, sangat serasi dengan dress yang Rania kenakan.
__ADS_1
"Sayang, cuma beli satu?"tanya Rania.
"Iya, bentar aku ganti baju dulu yang."Lucas kembali meninggalkan Rania yang masih bengong, pikirannya bertanya-tanya, ia merasa ada yang aneh sama suaminya.
Tak berapa lama, Lucas sudah keluar dari dalam kamar pas dengan baju yang baru ia beli, sementara tangan kanannya menenteng baju yang tadi ia pakai.
"Kamu, kenapa sih aneh banget sayang, kenapa sampai ganti baju segala?"Rania akhirnya mengeluarkan pertanyaan yang dari tadi hendak ia tanyakan.
"Gak papa, aku cuma mau serasi sama baju kamu sayang, ayok bi, kita pergi dari sini."Lucas menggenggam tangan istrinya, ketika menemukan tempat sampah ia langsung membuang baju bekas dirinya.
"Sayang, kenapa bajunya dibuang, itukan baru satu kali pakai yang?"Rania melepaskan tangan Lucas, ia akan mengambil baju dari dalam tempat sampah itu, menurutnya sayang banget baju mahal langsung dibuang gitu aja.
"Gak usah, biarkan saja yang, aku bisa beli lagi nanti, itu udah kotor tuh kena sampah."Lucas langsung menghentikan Rania yang hendak mengambil baju bekasnya dari dalam sana.
"Tapi sayang loh, apa jangan-jangan ada apa-apa di baju itu, terus kamu mau menghilangkan bukti ya?"tuduh Rania.
"Apa-apa, maksudnya gimana sayang, beneran gak papa, udah ah kita belanja dulu."Jantung Lucas berdetak lebih cepat, ia takut kalau Rania tahu ada perempuan lain yang memeluknya, parfum Shela nempel di bajunya, ia tak mau kalau sampai Rania bertanya-tanya.
"Ya, siapa tahu ada bekas lipstik atau wangi parfum wanita lain di baju itu, seperti di novel yang sering aku baca, terus kamu menghilangkan bukti kalau kamu ada apa-apa di belakang aku?"jelas Rania.
"Sayang, jangan berlebihan oke, aku beneran gak nyembunyiin apa-apa di belakang kamu, cuma kamu wanita yang mengisi hati aku, tapi mungkin nanti akan bertambah."Lucas membuang kegugupannya, ia tak mau kalau sampai Rania curiga.
"Tuh kan, kamu jahat. aku mending pulang aja."Rania menghempaskan tangan suaminya.
"Sayang, dengerin dulu, maksud aku bertambah tuh, kalau misalkan anak kita udah lahir, pasti dia ada di hati aku"
"Bener?"
"Iya, udah ah, kita ke sini mau belanja sayang, bukannya mau berantem, kalau mau berantem nanti malam di atas ranjang oke."Lucas berbisik sambil mengedipkan matanya.
Akhirnya mereka bertiga langsung masuk ke toko pakaian baby seperti niat awal mereka, Lucas terlihat antusias mengambil beberapa baju serta sepatu bayi yang lucu-lucu.
"Sayang, anak kita perempuan atau laki-laki sih?"tanya Lucas.
__ADS_1
"Gak tahu, kamu yang melarang dokter buat memberitahu jenis kelaminnya kan."Rania mengedikkan bahu.
"Aku yakin laki-laki yang, jadi banyakin buat baby laki-laki aja ya."Lucas kembali memilih baju buat bayi laki-laki.
"Jangan dong, kalau baby-nya perempuan gimana coba, sayang banget nanti gak kepake."Rania menaruh kembali baju serta celana yang sudah Lucas masukin keranjang.
"Yang, kenapa disimpan lagi, itu lucu tahu yang,"ujar Lucas.
Rania tak menanggapi suaminya, ia fokus melihat-lihat box serta kereta bayi.
Setelah dirasa cukup, karena Lucas cuma menambahi barang yang sudah dibeli mamanya, jadi tak terlalu banyak yang mereka beli, apalagi bu Renata mewanti-wanti untuk tidak berlebihan karena dipakainya cuma sebentar aja, akan sayang kalau beli terlalu banyak, untuk kebutuhan kedepannya bisa beli lagi, begitulah nasihat orang tuan keduanya, apalagi ibunya Rania bercerita kalau dulu Rania kebanyakan pakai bekas orang karena bapaknya Rania cuma kerja sebagi buruh harian lepas.
Lucas mengajak Rania sama bibi untuk makan, apalagi istrinya sudah kelaparan sedari tadi. jadi setelah meminta barang-barangnya langsung dikirim ke rumah, Lucas langsung membawa keduanya ke restoran yang Rania inginkan. salah satu restoran yang menyediakan berbagai makanan nusantara adalah pilihan istrinya itu.
"Sayang, aku mau ke toilet dulu ya, udah kebelet dari tadi."Rania berbisik ditelinga Lucas.
"Mau dianterin sayang?"tanya Lucas.
"Nggak, kamu tunggu aja sama bibi, aku bisa sendiri kok,"sahut Rania.
Semenjak kehamilannya memasuki trimester ketiga, Rania jadi sering bolak balik kamar mandi, awalnya ia takut tapi waktu nanya sama ibunya itu udah biasa kalau kehamilan berada di trimester akhir.
Rania langsung bergegas menuju toilet yang lumayan jauh dari tempatnya sekarang, ia terlihat buru-buru mungkin karena sudah merasa tak tahan. setelah sampai ia langsung masuk ke dalam toilet.
"Hai, kamu ke sini lagi?"Seorang wanita tiba-tiba menyapa Rania begitu ia bercermin setelah keluar dari toilet.
"Maaf, mbak siapa ya?"Rania mengerutkan keningnya, ia sedang mengingat-ngingat perempuan didepannya itu.
"Kamu, yang waktu itu sama tante Renata kan,?"tanyanya, ia bukannya menjawab malah balik nanya.
"Iya, mbak siapa ya?"
"Kenalin saya.....
__ADS_1