Dinikahi Majikan

Dinikahi Majikan
part 89


__ADS_3

"Aku, ikut kamu aja sayang, menurut kamu gimana?"tanyanya. sebenarnya ia merasa berat buat berhenti kuliah. tapi yang dikatakan oma Ratna ada benarnya juga. apalagi sekarang ia sering kelelahan.


"Kalau ambil cuti dulu gimana? nanti kalau dede bayinya udah lahir masuk kuliah lagi yang. tapi itu juga terserah kamu sih aku gak maksa beneran...."Lucas menatap wajah Rania.


"Iya, aku nurut sama kamu, demi kebaikan aku rela kok sayang. kamu tenang aja, aku sama sekali gak terpaksa,"Rania mengusap pipi Lucas, ia tahu apa yang dipikirkan suaminya itu.


Lucas langsung memeluk Rania dengan erat, ia tak menyangka istrinya itu akan setuju dengan pendapatnya. yang Lucas tahu Rania itu sangat semangat menempuh pendidikannya bahkan istrinya itu rela diberi syarat harus menikah sama dirinya demi bisa kuliah. tadinya akan sangat sulit meminta Rania berhenti kuliah.


"Terima kasih sayang, aku tenang sekarang. oh iya aku mau nanya sesuatu sama kamu,"Lucas membingkai wajah istrinya.


"Tanya apa?"Rania mengerutkan keningnya.


"Kamu, kenal yang namanya pak Ridwan sayang?"

__ADS_1


"Pak Ridwan mana? di kampus juga ada dosen yang namanya pak Ridwan,"


"Maksud aku, pak Ridwan yang ada di kampung ibu, kalau gak salah pengusaha teh atau apa lah aku lupa,"


"Pak Ridwan ayahnya Violla bukan yang?"


"Violla yang tadi gangguin kamu? yang sering cemburu sama kamu itu?"Lucas kaget mendengar ucapan istrinya, pikirannya kemana-mana, ternyata pendapat ayahnya tentang gadis yang namanya Violla itu benar. pak Bambang bilang kalau Rania bisa celaka gara-gara Violla, keyakinannya sekarang bertambah dengan permintaan orang tua Violla yang meminta dirinya menikahi putrinya itu, ia yakin kalau semua itu permintaan Violla yang baru ia lihat tadi siang. gadis itu benar-benar nekad, apalagi yang ia tahu Violla sudah punya tunangan. tapi sekarang beda lagi.


"Enggak, papa tadinya mau beli tanah pak Ridwan yang dekat sama rumah ibu, tapi kayanya gak jadi,"Lucas memeluk Rania, ia tak mungkin menceritakan perihal permintaan pak Ridwan sama ayahnya. Lucas takut akan jadi pikiran istrinya apalagi sekarang sedang hamil gak boleh banyak pikiran apalagi sampai stress.


"Maksudnya, papa beli tanah di kampung aku yang?"Rania masih tak mengerti ucapan suaminya.


"Iya, papa mau bangun Villa katanya, ya otak papakan otak bisnis. dimana ada kesempatan pasti dilakuin sayang, makanya aku sering sibuk di kantor, papa sekarang sudah tak pernah datang ke kantor lagi,"

__ADS_1


"Hah, kamu seriusan sayang? kok ibu gak pernah bilang sih kalau papa mau bangun villa di sana,"Rania langsung bangun begitu mendengar ucapan suaminya, ia kaget sekaligus bahagia.


"Iya, tapi sekarang gak jadi, soalnya pak Ridwan gak jadi jual tanah. tapi kata papa ibu bilang kalau ada yang mau jual lagi, nanti aku tanya lagi sama papa jadi apa enggaknya,"Lucas menarik tangan Rania supaya berbaring lagi.


"Semoga aja jadi, biar aku bisa tidur di villa bagus. soalnya dari dulu aku pingin banget tidur di villa, tapi sewanya mahal, kata ibu mending pake beli beras daripada bayar villa semalam,"Rania tersenyum mengingat kembali kenangannya dulu.


"Kasian banget, nanti kita ke sana ya, kamu bebas pilih villa yang paling bagus, paling mahal sekalian ajak ibu sama uwa sekalian, kita belum honey moon setelah kita nikah sayang,"


Lucas membelai rambut Rania, ia ingat belum pernah membawa istrinya itu liburan. keduanya sibuk sampai gak ada waktu buat liburan sekalipun.


"Gak papa, kitakan sibuk sayang, aku ngerti ko. nanti kalau ada waktu kita bisa liburan apalagi kalau aku udah melahirkan bakal seru karena bisa bawa Deden ya,"


"Kamu emang istri pengertian sayang, nanti kita pulang ke kampung kamu ya, aku penasaran suasana di kampung seperti apa. kata papa udaranya sejuk apalagi banyak perkebunan di sana, pasti bakal betah meluk kamu terus nanti,"seringai mesumnya keluar membuat Rania bergidik ngeri-ngeri sedap.

__ADS_1


__ADS_2