
Dari waktu itu,Lucas tidak pernah ketemu lagi sama Rania,Lucas selalu nanya sama bik Tuti,kenapa Rania tidak pernah ikut lagi,bik Tuti menjawab kalau ibunya tidak mengijinkan Rania pergi jauh,ibunya Rania tidak bisa berjauhan sama putri semata wayangnya.
flash back off
"Ma,itu kan ucapan anak kecil."ucap Lucas.wajahnya memerah karena malu
"Ya sudah kalau ga mau nikah sama Rania,kamu nikah sama Sarah,biar Rania mama jodohkan sama anak tante Mela."kata bu Renata
"Ga boleh,si Davin itu player ma,kasian si bocah nanti!"ucap Lucas cepat
"Kata siapa,kata tante Mela Davin anaknya baik,pekerja keras pula."papar bu Renata
"CK,mama ko sekarang jadi maksa gini,nanti aku bilang papa lah."ketus Lucas.biasanya mamanya ga pernah maksa seperti sekarang.
"Papa pasti lebih mendengarkan mama kali,kamu kan tahu kalau papa itu bucin sama mama!"ucap bu Renata bangga.
"Gimana ga bucin,kalau tiap hari di kasih jatah."kata Lucas mencibir
"Iya lah,itu penting buat keharmonisan rumah tangga."ucap bu Renta
"Sudah bahas jatah nya,sekarang kamu pilih mana?"tanya bu Renata.
"Ma,bisa kasih aku waktu buat mikir dulu?"Lucas balik tanya sama mamanya
"Ga ada,sudah sering kaya gitu,tapi ga pernah ada jawaban kan,jawab sekarang!"jawab bu Renata tak terbantahkan.ia sudah tahu trik Lucas yang sering mengulur waktu,tapi tak pernah ada keputusan
Lucas menatap mamanya dalam,ia bingung harus mengambil keputusan.
"Jawab Luc,mama butuh jawaban sebelum...
"Sebelum apa ma?"tanya Lucas,karena mamanya tidak meneruskan ucapannya.
"Enggak jadi,apa jawaban kamu?"
"Aku milih nikah sama si bocah!"jawab Lucas akhirnya.
"Gitu dong,jawab gitu doang susah banget."cibir bu Renata
"Eh,tapi ma,kalau si bocahnya nolak gimana,tapi syukur-syukur nolak sih."kata Lucas
"Engga,mama sudah punya cara buat Rania menerima pria tua kaya kamu."ucap bu Renata
__ADS_1
"Ma,mana ada tua,aku tuh dewasa."Lucas tidak terima di bilang tua
"Sama saja,lagian sok soan ga mau,padahal mama yakin kalau kamu ada rasa sama Rania kan?"ledek bu Renata
"Rasa jengkel ada ma,dia selalu bikin jengkel!"kata Lucas
"Terserah,pria tua kegedean gengsi."ucap bu Renta,setelah itu ia bangkit meninggalkan Lucas
"Ma,gitu banget sama anak sendiri."teriak Lucas
Bu Renata tidak menghiraukan teriakan anaknya,ia melanjutkan langkahnya berniat menemui Rania.
"Mbak,Rania kemana ya?"tanya bu Renata.ia menengok kanan kiri tapi tak menemukan orang yang di carinya.
"Tadi,dia bilang mau ke kamar mandi bu,apa ibu membutuhkan sesuatu."tanya Mbak Yanti
"Enggak,ada yang mau saya bicarakan sama Rania,kalau udah selesai,suruh dia ke kamar saya ya Mbak."jawab bu Renata.
"Iya bu,nanti saya sampaikan."kata Mbak Yanti.
Bu Renata membalas dengan senyuman,setelah itu berjalan meninggalkan ruangan belakang.
Baru lima menit bu Renata pergi,Rania datang,ia terlihat lebih segar,dari badannya tercium harum sabun mandi menandakan kalau Rania baru selesai mandi.
"Iya kah,kira-kira ada apa ya Mbak?"tanya Rania
"Tidak tahu,mending kamu samperin sana,mungkin ada hal penting."jawab Mbak Yanti
"Aduh,aku takut Mbak,kalau aku di pecat gimana?"tanya Rania,ia terlihat gelisah apa lagi ia masih kepikiran kejadian tadi.
"Takut kenapa,kalau gak buat salah ya kamu tenang aja."jawab Mbak Yanti
"Ya,gak biasanya kan ibu mau bicara dalam kamar,aku salah tadi gara-gara nonton sama Tuan Lucas,terus aku ketiduran Mbak,jadi ibu pulang sendiri."jelas Rania
"Wah,hebat kamu,ternyata udah jauh ya kedekatan kamu sama den Lucas."kata Mbak Yanti.dirinya terlihat heboh mendengar Rania pergi nonton.
"Aih,dekat apaan,itu karena dia yang maksa.gara-gara tidak mau dijodohkan sama anak temannya ibu,eh ko malah ngobrol,aku nyamperin bu Rena dulu ya,doain aku Mbak."Rania menepuk jidatnya
"Iya,udah sana,nanti kita ngobrol lagi."Mbak Yanti mendorong pelan pundak Rania.
Rania sudah berdiri di depan pintu kamar majikannya,meski ragu tapi Rania memutuskan untuk mengetuk pintu.
__ADS_1
"Masuk!"terdengar suara bu Renata dari dalam kamar.
Rania memutar handle pintu.setelah pintunya terbuka Rania melangkahkan kakinya memasuki kamar bu Renata untuk pertama kalinya selama ia tinggal di rumah itu.
Kamar yang begitu luas,rapih,membuat siapa pun betah berlama-lama di dalamnya,bu Renata tidak pernah menyuruh orang lain membereskan kamarnya,ia sendiri yang mengatur bahkan membereskannya.
"Ibu,nyari saya?"tanya Rania,ia masih berdiri di samping sofa empuk yang terdapat di kamar bu Renata.
"Duduk Ran!"titah bu Renata
Rania duduk di depan majikannya,wajahnya menunduk ia masih was-was,ia takut kalau bu Renata akan memarahinya.
"Tidak usah tegang,ibu tidak akan menggigit ko."bu Rena terkekeh melihat Rania gugup
"Iya bu,ibu tidak akan memecat aku kan?"cicit Rania
"Kenapa bertanya kaya gitu,kamu buat kesalahan?"tanya bu Renata.
"Em..itu..anu masalah tadi apa ibu tidak marah?"tanya Rania terbata
"Engga,ngapain marah,kamu mikirnya ibu marah?"tanya bu Renata
"Iya bu,makanya ibu manggil saya."jawab Rania.
"Sama sekali tidak marah,ibu manggil kamu ke sini,karena ada hal serius yang mau ibu bicarakan sama kamu."kata bu Renata
"Hal serius,ibu jangan nakuti saya bu."Rania mengangkat wajahnya lalu menatap wajah cantik majikannya.
"Kamu mau kuliah kan Ran?"tanya bu Renata
"Mau bu,tapi nanti kalau saya sudah punya uang buat bayarnya."jawab Rania
"Kamu bisa kuliah taun ini Ran,kamu juga boleh pilih kampus terbaik,bahkan yang paling mahal sekalipun!"jelas bu Renata,setelah itu ia menyerahkan laptop yang layarnya menampilkan beberapa nama kampus terbaik di Jakarta.
"Hah,ibu lagi bercanda ya?"tanya Rania,ia pikir kalau majikannya itu sedang bercanda,tidak mungkin seorang pembantu di kasih kesempatan seperti itu.
"Ibu serius,sekarang kamu pilih kampus mana yang kamu mau,kalau sudah ada kasih tahu ibu."bu Renata menyerahkan laptop itu pada Rania
Rania menatap laptop di depannya,lalu pandangannya berpindah sama bu Renata yang sedang memainkan gawai nya.
"Ibu serius?"Rania kembali bertanya,ia masih belum percaya dengan ucapan majikannya
__ADS_1
"Serius,sudah kamu lihat-lihat dulu."jawab bu Renata tanpa mengalihkan tatapannya dari gawai nya
"Mama....