Dinikahi Majikan

Dinikahi Majikan
part 72


__ADS_3

Matanya menatap seluruh mahasiswa yang duduk di depannya.


Ternyata, kamu di sini Rania.


Mata Rania tak begitu memperhatikan dosen baru di depannya. berbeda dengan mahasiswi lain yang tiba-tiba berisik begitu dosen muda itu masuk.


"Morning class"


"Morning pak"


"Perkenalkan nama saya Kevin Adryan Sanjaya dosen pengganti profesor yang baru pindah,"


"Kalian pasti tahu, kalau tiap dosen punya peraturan, peraturan di kelas saya tidak boleh ngobrol saat saya sedang mengajar, tidak membawa makanan ringan atau berat, kecuali permen masih bisa ditoleransi, ada pertanyaan?"


"Saya pak,"mahasiswi paling waw di kelasnya mengangkat tangan.


"Ya, silahkan,"


"Misal kita ada keperluan, apa bisa langsung menghubungi bapak?"tanya dengan suara manja.


Dosen baru itu langsung bangkit menuliskan sesuatu di papan tulis.


"Silahkan kirim lewat email yang baru saja saya tulis,"jawab Kevin.


"Pak, apa boleh minta no ponselnya, biar kalau ada keperluan bisa cepat menghubungi bapak?"tanya Nindi.


"Maaf, saya tidak suka no saya tersebar luas, jadi, kalian bisa menanyakan atau menyampaikan lewat email yang tadi saya tulis,"ucapnya sambil tersenyum tipis.


"Saya, akan memilih ketua kelas, jadi, yang saya tunjuk nanti temui saya sehabis kelas selesai,"


"Saya, aja pak, pasti saya bakal tanggung jawab,"salahsatu mahasiswi mengacungkan tangannya.


"Kamu, yang dari tadi cuma nunduk, pakai baju putih rambutnya di gerai, saya pilih kamu jadi penanggung jawab kelas,"mata Kevin menatap Rania yang dari tadi tidak heboh seperti mahasiswi lainnya.


Rania masih menatap layar laptopnya, karena dari tadi dia fokus ke sana, apalagi mendengar teman-temannya pada heboh ketika melihat dosen ganteng.


"Ran, kamu jangan nunduk terus, tuh pak dosen manggil kamu,"Firda menyenggol tangan Rania.


"Hah, kenapa manggil aku,"Rania gelagapan ketika matanya menatap dosen baru yang juga sedang menatapnya.


"Kamu, siapa nama kamu? apa ucapan saya tidak penting, sampai kamu tak memperhatikan dari tadi,"wajah dosen itu tiba-tiba jutek.


"Maaf pak,"Rania merasa tak enak karena sudah membuat kesel dosen baru.


"Saya, paling tidak suka, kalau ada murid yang tidak memperhatikan ketika saya bicara, kedepannya jangan pernah terulang lagi. kalian mengerti?"ucapnya ketus.

__ADS_1


"Mengerti pak,"semuanya kompak menjawab.


"Ganteng, tapi kiler,"gumam Firda.


"Hus, nanti kedengeran, bahaya Fir,"Rania menempelkan telunjuknya di atas bibir.


"Baru, masuk aja langsung marah-marah, gimana nanti coba,"decak Firda.


Rania tak menyahut lagi karena takut kena marah, apalagi sekarang pelajaran sudah di mulai. Rania memperhatikan wajah dosen yang sedang memberikan materi itu.


Wajahnya kaya gak asing, tapi siapa , aku kaya pernah lihat wajah seperti itu. tapi, dimana ya, mungkin di pasar kaliya, wajahnya pasaran, jadi aku lihatnya di pasar.


Akhirnya Kevin mengakhiri pelajarannya, karena waktunya sudah habis.


"Nama, kamu siapa tadi?"Kevin menunjuk Rania yang sedang membereskan bukunya.


"Saya, Rania pak,"jawab Rania. dia langsung menjawab karena takut kena marah lagi.


"Rania, kamu kumpulkan tugas teman-teman kamu, terus bawa ke ruangan saya, sekaligus simpan no ponsel saya buat keperluan kelas,"kata Kevin. setelah itu dia langsung melenggang pergi sambil membawa tasnya.


"Kenapa, harus aku sih? kamu aja Fir,"Rania mendengus mendengar ucapan dosen barunya.


"Sebenarnya, gue mau banget Ran, tapi kan pak Kevin milih loe,"ucap Firda.


"Ah, gak hoki banget, kenapa dosen penggantinya harus kiler sih?"gerutu Rania sambil mengumpulkan kertas teman-temannya.


"Mending lihat wajah pak Karyo tiap hari, daripada lihat dosen galak kaya gitu,"ucap Rania.


"Hahaha ternyata, selera kamu pak Karyo ya Ran, padahal kamu cantik loh, aku aja naksir sama kamu,"Andra tertawa mendengar ucapan Rania.


"Dasar buaya, cewek kamu kamu di mana-mana, masih naksir Rania,"Firda menggeplak kepala Andra menggunakan buku.


Rania geleng-geleng kepala melihat tingkah teman-temannya. setelah terkumpul semuanya Rania bergegas menuju ruangan dosen Kevin.


Setelah disuruh masuk, Rania membuka handle pintu lalu memutarnya sampai pintu itu terbuka.


"Permisi, pak, ini tugas yang tadi bapa minta,"Rania meletakan kertas itu di atas meja.


"Ya, mana ponsel kamu?"tanyanya sambil mengulurkan tangan.


"Ponsel, saya pak?"tanya Rania dengan ragu.


"Iya, tadikan saya sudah bilang, kamu simpan no saya buat keperluan kelas, makanya belajar yang bener, bukan malah fokus ke laptop,"ucap Kevin.


Rania menelan salivanya susah payah, tangannya menyimpan ponselnya di atas telapak tangan Kevin.

__ADS_1


Mata kevin terbelalak ketika melihat foto Rania sedang berpelukan dengan seorang laki-laki, terlihat kekecewaan di wajahnya. dengan gemetar tangannya memasukan no pribadinya ke kontak Rania.


"Kamu harus slalu siap kalau saya menguhubungi kamu, jangan lupa belajar dengan benar, bukan malah dekat sama laki-laki,"Kevin mengembalikan ponsel Rania.


"Iya pak, kalau sudah selesai, saya permisi dulu,"Rania tersenyum tipis sambil membungkukan sedikit badannya. lalu berbalik menuju pintu keluar.


"Rania,"terdengar suara Kevin memanggil namanya.


"Iya, pak,"Rania membalikan badannya.


"Kamu, gak tahu siapa saya?"tanya Kevin.


"Tahu, kan bapak tadi sudah mengenalkan diri,"jawab Rania.


"Oh, iya, maaf saya lupa,"Kevin terlihat menggaruk kepalnya.


"Saya, permisi dulu pak,"Rania keluar dari ruangan dosen Kevin.


Rania menggeleng mengingat sikap aneh dosen Kevin, tapi dia tidak terlalu memikirkannya.


Ketika dia kembali kedalam kelas. Rania merasa aneh karena kelasnya sudah sepi tak ada satu orangpun di sana. padahal dia ingat kalau ada satu mata kuliah lagi untuk hari ini.


Rania mengambil ponselnya untuk menghubungi Firda, apalagi tasnya sudah tak ada di atas mejanya tempat terakhir dia menyimpan tas juga laptopnya.


Setelah menghubungi Firda, Rania bisa bernapas lega karena tas sama laptopnya aman sama sahabatnya itu.


Suasana kantin terasa sedikit hening, mungkin karena sebagian mahasiswa masih pada belajar. Rania mencari sosok Firda yang sudah lebih dulu ke kantin ketika dirinya di ruangan Kevin.


"Firda, kenapa gak nungguin sih? tadi aku bingung pas sampai kelas sudah sepi, terus tas sama laptop aku gak ada,"Rania menjatuhkan tubuhnya di atas kursi kantin.


"Tadi, dapat infonya dadakan kalau bu Rania gak masuk, makanya aku langsung bawa tas kamu ke sini,"jelas Firda.


"Makasih ya Fir, kamu, udah pesan makan belum?"tanya Rania.


"Belum, kenapa? mau traktir aku,"Firda menaik turunkan alisnya.


"Boleh, kamu boleh makan sepuasnya, karena udah bawain tas sama laptop aku,"ucap Rania.


"Tahu gitu, tiap hari aja aku bawain tas kamu supaya ditraktir terus,"


"Jangan dong, aku bisa tekor nanti, kamu kan makanya banyak banget, nagalahin tukang kuli bangunan yang kerjanya berat,"ledek Rania.


"Sialan, malah ngeledek, btw, kamu gak bakal tekor lah, secara suami kamu tajir melintir gitu, ditambah ganteng,"cerocos Firda.


Obrolan kedua wanita itu akhirnya terhenti ketikan pesanan mereka udah datang, hampir memenuhi meja karena pesanan Firda yang sangat banyak.

__ADS_1


"Eh, Firda, jadi, sekarang kamu tinggal sendiri dong, kalau ayah sama bunda kamu pergi,"tanya Rania di sela-sela makannya.


"Enggak, sekarang aku tinggal sama Kak Alinda sepupu aku, soalnya orang tuanya kak Alin juga lagi diluar negeri,"jawab Firda.


__ADS_2