
"Maunya tuh perempuan apa sih, dia pikir dengan mengirim semua foto itu bakal bisa kembali masuk ke dalam kehidupan gue!"geram Lucas.
Shela mengirim foto-foto mereka dulu lewat Email yang memang Lucas tak pernah menggantinya, sedikitpun Lucas tak pernah berpikir kalau akan jadi masalah dikemudian hari, kalau sekarang ia ganti akan susah karena untuk masalah kerjaan sudah menggunakan Email yang itu.
Matanya melirik Rania yang sudah terlelap. Lucas mengecup kening istrinya, setelah itu ia langsung keluar dari dalam kamar dengan pelan karena takut membangunkan Rania.
Setelah berada di luar kamar, Lucas segera mencari bibi untuk meminta dibuatkan kopi, lalu ia masuk ke dalam ruang kerjanya.
Lucas menarik nafas panjang, sebelum membuka laptop yang berada di atas meja kerjanya.
Tok Tok Tok
Terdengar ketukan di pintu, Lucas menyuruh bibi masuk, karena ia yakin kalau itu bibi yang tadi ia minta dibuatkan kopi.
"Makasih bi,"ucap Lucas.
"Sama-sama den, kalau butuh apa-apa panggil bibi saja,"kata bibi.
Lucas mengangguk sebagai jawaban, setelah bibi menutup pintu ruang kerjanya, ia segera menghubungi papanya untuk menceritakan masalah yang sedang dihadapi sekaligus meminta orang-orang papanya buat menjaga sang istri. dirinya harus antisipasi untuk keselamatan istri serta anaknya.
Pak Bambang akan berkunjung ke rumahnya sama bu Renata setelah Lucas menceritakan semuanya, ia juga tak lupa menyuruh orang untuk menyelidiki tentang wanita masa lalunya itu. ia tak mau gegabah dalam mengambil keputusan, yang Lucas tahu Shela pernah berhubungan sama pengusaha kaya yang dulu sampai wanita itu meninggalkan dirinya tanpa pesan.
****
Sementara di tempat lain, Shela sudah berada di rumahnya, tadi dia meminta ijin sama atasannya supaya pulang cepat dengan alasan tak enak badan.
Begitu masuk ke dalam kamar, Shela langsung membanting seluruh barang-barang yang ada di sana, termasuk beberapa kosmetik yang biasa ia gunakan.
Ambar yang baru saja masuk ke dalam rumah langsung kaget begitu mendengar suara dari kamar anak perempuannya, ia bergegas mendekati pintu kamar itu.
"Shela, ada apa nak, kenapa kamu ngamuk?"tanyanya. ia langsung masuk ke dalam kamar karena khawatir Shela kenapa-napa, meskipun ia sering memarahi anaknya tapi tetap saja rasa sayang masih ada dihatinya.
"Semua ini gara-gara mami, kalau saja waktu itu aku gak nurutin kemauan mami untuk ikut laki-laki brengsek itu, pasti Lucas masih jadi milik aku!"bentak Shela.
"Maksudnya bagaimana Shela, kenapa kamu tiba-tiba nyalahin mami?"tanya Ambar.
"Mi, Lucas sudah menikah, padahal aku masih cinta sama dia, pokoknya semua ini gara-gara mami, aku benci sama mami,"Sentak Shela.
__ADS_1
"Heh anak bodoh! kenapa sekarang nyalahin mami, kamu gak mikir, dulu kamu juga mau kan gak nolak sama sekali, terus sekarang malah nyalahin mami, dimana otak kamu hah?"Ambar membentak Shela anak sama ibu sama-sama suka membentak.
Shela tak menjawab, yang maminya katakan itu benar adanya, dulu ia lebih memilih ikut laki-laki kaya ke Amerika daripada setia sama Lucas yang perusahaannya masih biasa aja.
"Sekarang bukan waktunya terpuruk, kamu bangkit kalau beneran masih cinta sama laki-laki yang pernah kamu tinggalkan itu, rebut dari istrinya jangan mau kalah, lagian kamu pernah bilang kalau Lucas itu belum pernah pacaran waktu pacaran sama kamu, berarti kamu cinta pertama dia, kamu harus yakin bisa mengejar dia seperti dulu!"papar Ambar panjang lebar.
Shela memikirkan ucapan maminya, ia rasa yang diucapkan perempuan yang sudah melahirkannya itu ada benarnya juga.
"Mami benar, aku harus berusaha mengejar Lucas kembali, aku yakin Lucas terpaksa menikahi wanita itu, meskipun dia sudah hamil, tapi kelihatan sekali usianya masih sangat muda, pasti tante Renata yang sudah memaksa Lucas supaya menikahi wanita itu."Shela langsung bangkit lalu duduk di atas kasur.
"Apa, tadi kamu bilang sudah hamil, istrinya Lucas sedang hamil begitu?"
"Iya, tadi aku ketemu mereka waktu kerja mi, istrinya itu sudah hamil besar,"jelas Shela.
Ambar menyeringai mendengar penjelasan anaknya, di dalam otaknya sudah tersusun sebuah rencana untuk memuluskan maksud anaknya itu.
"Kamu tenang aja, mami pasti bakal bantuin kamu, asal nanti uang buat mami lancar, laki-laki itu sudah kaya belum sekarang?"
"Belum tahu mi, nanti aku cari bayar orang buat mencari semua tentang kehidupan Lucas biar aku makin gampang melakukan rencananya,"jelas Shela.
Ibu dan anak itu terus mengobrol tentang rencana jahat yang akan mereka lakukan sama Lucas juga istrinya.
Shela tersenyum, ia senang karena sekarang ada maminya yang akan membantu mendapatkan Lucas kembali, tak peduli cara halus atau kasar akan ia lakukan supaya Lucas kembali pada dirinya.
****
Rania mengerjapakan matanya, ia merasa ada yang mengganggu tidurnya, padahal perasaan dirinya baru beberapa menit ia memejamkan mata, padahal sudah lama, bahkan sekarang waktu sudah hampir petang.
"Ngghh, sayang aku masih ngantuk."Rania membuka matanya, ia melihat suaminya sedang berada di dekatnya, bahkan wajahnya hampir kena wajah Rania.
"Bangun, sudah sore. sebentar lagi papa sama mama sampai sayang,"ucap Lucas.
"Mamah, papah siapa yang?"tanya Rania, ia masih merasa bingung, nyawanya belum berkumpul entah masih dimana.
"Mamah, papah kita, kenapa jadi linglung gitu sih, yuk bangun dulu."Lucas membantu Rania supaya bisa bangun.
Rania menuruti Lucas, ia langsung duduk sambil mengusap matanya berkali-kali, barulah ia sadar sepenuhnya sekarang.
__ADS_1
"Aku mau mandi dulu yang, kalau mama sama papah datang, langsung beritahu aku ya,"ucap Rania.
"Eum, yang mandi bareng aja ya, aku juga belum mandi loh."Lucas ikut turun dari atas tempat tidur.
"Hah, kirain udah mandi, tadi kamu tidur juga ya waktu aku tidur?"Rania berbalik menatap suaminya yang berada di belakangnya.
"Ngga yang, tadi aku ngerjain kerjaan sedikit,"sahut Lucas.
"Eum, tapi jangan ngapa-nagapain ya, kan sebentar lagi mama sama papa sampai,"kata Rania.
Lucas tak menjawab, ia malah mendorong bahu istrinya ke dalam kamar mandi, yang namanya Lucas kalau ada kesempatan tak akan ia sia-siakan begitu saja.
Mau tak mau Rania menuruti suaminya, ia takut menjadi istri durhaka kalau menolak keinginan suami, Rania selalu mengingat nasihat ibu ratunya itu.
Diluar sana, mobil pak Bambang baru saja berhenti di halaman rumah anak sama menantunya, bu Renata langsung keluar tanpa menunggu suaminya terlebih dulu, dirinya begitu khawatir ketika mendengar Lucas menelpon lalu mengabarkan kalau istrinya sempat diancam sama Shela.
"Ran, Luc, mama datang, kalian di mana?"Bu Renata langsung mencari anak sama menantunya itu.
"Eh, nyonya, baru sampai ya?"Bibi langsung menghampiri bu Renata ketika mendengar suara khasnya.
"Iya, anak-anak mana bi, kenapa sepi begini?"tanya balik bu Renata.
"Eum, tadi den Lucas bilang kalau ada nyonya datang, katanya sampaikan kalau saya mau mandi, begitu nyonya,"jawab bibi.
"Oh, ya sudah kalau gitu, saya nunggu di sini aja bi."Bu Renata langsung duduk di atas sofa.
"Eum, bibi tolong simpan makanan ini buat mantu saya ya,"ucap bu Renta. ia lalu menyerahkan kantung berisi makanan buat Rania.
"Ma, anak-anaknya mana?"tanya pak Bambang yang baru masuk.
"Kata bibi, Lucas mau mandi, gak tahu istrinya sudah mandi apa belum,"sahut bu Renata.
"Ya mungkin mandi barengan ma, gak kaya mama, kalau diajak mandi bareng tuh susah banget,"ucap pak Bambang.
"Hadeuh papa, kita itu udah tua, sebentar lagi punya cucu, masa mandi aja harus barengan sih,"ketus bu Renata.
"Yey, mama, dulu aja minta bareng tiap hari, meskipun papa buru-buru, tetap aja harus mandi bareng, kalau gak dituruti ngambek seharian,"sindir pak Bambang.
__ADS_1
"Ya ampun orang tua ini....