Dinikahi Majikan

Dinikahi Majikan
part 95


__ADS_3

"Ya, siapa tahu kamu lupa. udah lama kan gak pulang ke sini?"Lucas terkekeh melihat wajah Rania.


Rania menunjukan jalan ke rumahnya pada sopir yang mengendarai mobil, tapi saat sampai di tempat yang dituju, dahinya mengerut, ia seakan tak mengenali rumah di depannya.


"Kenapa?"tanya Lucas.


"Kenapa beda? aku masih ingat ini rumah ibu kok,"ucapnya. matanya masih menatap bangunan yang ada di depannya, rumah ibunya itu sudah berubah jadi lebih bagus daripada pas ia tinggalkan dulu.


"Mungkin, ibu punya uang, terus renovasi,"ujar Lucas mengeluarkan pendapatnya, padahal ia sudah tahu tentang renovasi rumah mertuanya itu.


"Huh! ibu dapat uang dari mana coba yang?"


Setelah beberapa lama mengamati rumah di depannya, akhirnya pintu itu terbuka. Rania melihat ibunya keluar dari rumah.


"Ibu ratu!"teriak Rania, ia langsung keluar dari mobil tanpa menghiraukan Lucas sama sopir yang kaget gara-gara teriakannya.


"Begitulah, kelakuan majikan pak Anto kalau lagi senang. lupa semuanya termasuk suami,"gerutu Lucas.


Pak Anto yang mendengar ucapan Lucas cuma tersenyum, ia sudah biasa melihat kelakuan istri bosnya itu.


Lucas mencium punggung tangan ibu mertuanya, sementara Rania sudah menempel ditubuh ibunya.


"Ibu, gimana kabarnya?"tanya Lucas.


"Baik, mantu ganteng ibu gimana, sehat?"bu Lilis melepaskan pelukan Rania.


"Alhamdulilah baik bu, bik Tuti mana ya?"Lucas merasa sangat kangen sama wanita yang sudah mengasuhnya dulu.


"Katanya, tadi mau ke pasar, ibu gak sempat belanja. jadi Uwa kamu yang belanja,"bu Lilis mengajak anak sama menantunya masuk ke dalam rumah.


"Wah! rumah ibu bagus, jangan-jangan ibu ngepet ya bias merenovasi rumah sampai bagus kaya gini,"kata Rania. matanya menatap sekeliling rumah yang sekarang sangat bagus itu. beda jauh saat dirinya masih tinggal di sana.

__ADS_1


"Astagfirullah! kamu suka benar kalau ngomong,"


"Ajakin suami aku dong bu. biar tambah kaya, nanti aku yang jagain lilinnya!"ujar Rania.


"Jangan sayang, mending kamu sama ibu, aku yang jagain lilin, kalau aku yang pergi nanti gak dapat hasil, kalau nyasar gimana?"Lucas seperti ketularan eror seperti istri serta ibu mertuanya.


"Lucas, jangan terlalu dekat sama mereka. bahaya, nanti ketularan miring kamu,"tiba-tiba suara bik Tuti terdengar ketika baru masuk ke dalam rumah.


"Bik, Lucas kangen banget sama bibi, betah di sini?"Lucas langsung memeluk bik Tuti, ia sudah menganggap ibunya sendiri.


"Alhamdulilah, bibi sehat, kayanya tetap gak bisa ya kamu manggil Uwa seperti istri kamu,"ujar bik Tuti. melihat Lucas ceria seperti sekarang dirinya sangat bersyukur.


"Hehehe.... kayanya susah bik, udah biasa manggil bibi dari dulu,"


"Rani, kandungan kamu bagaimana baik-baik ajakan, setelah perjalanan jauh?"tanya bik Tuti. ia langsung memeluk tubuh Rania, tangannya mengusap perut ponakannya.


"Baik, kandungan Rania kuat Wa, jangan khawatir, tapi sekarang aku lapar Wa,"Rania mengusap-ngusap perutnya.


"Wah, itu semua kesukaan aku, makasih Bu, Wa, kalian paling mengerti aku,"Rania langsung bergegas mendekati meja yang ditunjuk sama bik Tuti.


"Sekarang, dia jadi jago makan Wa, sering banget tengah malam mengendap-ngendap seperti maling gara-gara nyari makanan,"Lucas geleng-geleng kepala melihat tingkah istrinya.


"Bagus! kehamilannya tak menyiksa kalau gitu, orang lain ada yang tidak bisa makan sama sekali, kamu harus bersyukur Luc, tapi harus terima juga kalau dia bakal membengkak karena kebanyakan makan,"papar bik Tuti.


Setelah Rania selesai mengisi perutnya, begitu juga Lucas dia sangat antusias saat mencoba berbagai macam makanan khas kota Bandung. keduanya masuk ke dalam kamar Rania yang kini sudah berubah, kamar itu terlihat lebih luas juga perabotan sangat terlihat mewah, entah kemana ibunya membuang kasur butut yang dulu menjadi tempat ternyaman buat Rania.


Lucas memperhatikan setiap detail kamar milik istrinya, ada beberapa foto Rania ketika pakai baju seragam sekolah dasar, sampai menggunakan baju seragam sekolah menengah atas.


"Kamu, dari dulu udah cantik ternyata yang,"ujar Lucas. kakinya melangkah mendekati tempat foto-foto Rania.


"Masa, aku dulu dekil banget kan, apalagi yang ini, giginya ompong,"Rania menunjuk foto yang menggunakan seragam sekolah dasar.

__ADS_1


"Iya, dekil banget kaya gak ada yang ngurus aja,"ledek Lucas.


"Memang, dulukan ibu sibuk kerja di sawah atau kebun orang yang, jarang banget ada waktu buat ngurus aku. makanya aku berusaha mengurus diri aku sendiri, makanya hasilnya kaya gini,"ucap Rania. matanya tiba-tiba mengembun ketika mengingat kehidupan masa lalunya.


"Sudah, jangan ingat masa lalu itu lagi, aku janji akan membahagiakan kamu sama anak-anak kita sayang,"Lucas langsung memeluk Rania.


"Makasih, aku udah bahagia kok yang, cuma kalau ingat masa itu, suka melow aja,"Rania tersenyum manis setelah mengusap air matanya.


Lucas kembali melihat-lihat barang-barang Rania. matanya memicing ketika menemukan setumpuk surat di dalam laci meja belajarnya.


Tangannya terulur untuk mengeluarkan setumpuk surat-surat itu.


"Sayang, kenapa diam aja?"tanya Rania. lalu melirik suaminya yang sedang membuka kertas yang ia ingat kalau kertas itu pemberian Kevin.


"Aku, nemu harta karun!"ketus Lucas.


"Jangan, itu semua gak penting yang, aku gak pernah membacanya sama sekali,"Rania segera menarik kertas itu dari tangan Lucas.


"Kenapa? apa kamu masih nyimpan perasaan untuk pemberi surat itu, lagian sekarang jaman apa sih? kaya jaman kerajaan maja pahit aja pakai surat-suratan segala!"nada suaranya terdengar marah.


"Mana ada! aku gak pernah ada hubungan apapun sama dia, kan udah aku ceritain waktu itu bapak,"terang Rania. ia segera membereskan surat-surat itu, lalau membuangnya ke tempat sampah di samping tempat tidur.sekarang gaya banget ada tempat sampah segala.


"Masa? kalau gak pernah ada hubungan apapun, kenapa surat-suratnya masih ada, jangan-jangan kamu berharap bisa bersatu sama dia, terus baca surat itu sama-sama!"papar Lucas. setelah itu Lucas menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil memainkan ponsel mahal miliknya.


"Kamu, cemburu ya?"ledek Rania, ia mendekati Lucas yang sedang fokus melihat layar ponselnya.


"Buat apa? gak penting banget cemburu,"ucapnya. tangannya masih sibuk men-scrol layar ponselnya, entah sedang apa Rania tak tahu. biasanya kalau sedang berduaan dengan dirinya, Lucas tak pernah memainkan ponselnya kecuali kalau ada masalah pekerjaan.


"Jadi, menurutmu cemburu itu gak penting? berarti selama ini, kamu itu gak cinta sama aku ya, kata orang cemburu itu tanda cinta. jahat kamu!"sentak Rania. ia langsung keluar dari kamar sambil menutup pintu dengan keras.


Hah! kenapa jadi gue yang salah, tadi kan gue yang marah ya, terus kenapa malah sebaliknya?

__ADS_1


__ADS_2