Dinikahi Majikan

Dinikahi Majikan
part 50


__ADS_3

Setelah selesai mandi, keduanya langsung makan, untungnya makanan yang Lucas pesan sudah datang.


Ponsel Lucas yang ada di atas meja bunyi tanda ada panggilan masuk. Lucas langsung menggeser tombol warna hijau.


"Ngapain loe ganggu, gue lagi makan,"ketus Lucas.


"Bos, loe, pikun ya, gue tunggu gak datang-datang,"


"CK, ngapain nungguin gue, gue titip kerjaan gue hari ini,"


"Bos, jangan gila, kemarin loe yang nyuruh gue buat, ngatur jadwal ketemuan sama perusahaan pak Hendra, dari tadi perwakilannya udah hubungi gue,"


"Astaga, gue lupa, sekarang gue berangkat,"Lucas langsung mematikan panggilannya.


"Kenapa?"tanya Rania.


"Aku lupa ada janji sama perusahaan Jaya group,"Lucas meraih air minum lalu meneguknya.


"Ya udah, aku siapkan baju dulu,"Rania bangkit sambil menggigit ayam goreng.


Lucas langsung memakai baju yang sudah disiapkan istri dengan tergesa-gesa.


"Sayang bisa pasangin dasi aku?"Lucas memberikan dasinya sama Kiara, sementara dirinya merapikan rambutnya di depan cermin.


Rania langsung memasangkan dasi yang Lucas sodorkan, beruntungnya waktu masih sekolah ia selalu memakai dasi, jadi bukan hal sulit untuknya.


"Sayang, kamu gak takut sendirian?"tanya Lucas.


"Ewga,"Rania menjawab tidak jelas karena mulutnya masih tersumpal ayam goreng.


"Ambil dulu ayam gorengnya, baru bicara,"Lucas memakai sepatunya setelah Rania selesai memasang dasi.


"Oh, iya aku lupa hehe..."Rania nyengir setelah ayam goreng berada ditangannya.


"Kamu gak takut sendirian? kalau takut aku suruh supir mama jemput kamu,"tanya Lucas. tangannya berada di pinggang sang istri.


"Enggak, aku mau tidur lagi, boleh gak?"Rania mengalungkan tangannya pada leher Lucas.


"Boleh, kamu kecapean ya,"Lucas mengerlingkan matanya.


"Iya, kamu sih, minta terus,"Rania mencebik.


"Habisnya nagihin, nanti lagi ya,"secepat kilat Lucas mengecup pipi istrinya.


"Dasar mesum!"


"Mesumnya cuma sama kamu yang, kalau gak ada janji, malas banget aku pergi,"Lucas meletakan kepalanya dipundak Rania.

__ADS_1


"Udah ah, kasian mas Hendrik nungguin kamu,"Rania mendorong pelan kepala suaminya.


"Hah, rasanya mau terus berduaan,"Lucas merengut.


"Iya, nanti kan bisa sayang,"Rania mengelus pipi suaminya.


"Iya deh, sekarang kiss dulu, buat tambahan energi yang,"Lucas mendekatkan wajahnya sama muka sang istri. tapi sebelum sampai ponselnya berdering membuat Lucas menggeram kesal.


"Apa lagi b**o?"sentak Lucas.


"Bos, kenapa masih belum datang, apa perlu gue jemput, lagian heran gue, biasanya loe gak pernah telat, tapi sekarang ,"


"Diam, gue berangkat sekarang!"Lucas mematikan ponselnya tanpa menunggu ucapan asistennya.


Rania menahan tawa melihat wajah kesel suaminya.


"Udah ah, masa wajahnya jelek kaya gini, semangat kerjanya,"Rania mencium pipi Lucas.


"Peluk dulu,"ucap Lucas. tangannya menarik tubuh Rania kedalam pelukannya. sambil terus menciumi kepala wanita yang sangat disayanginya.


Akhirnya setelah drama lebay keduanya. Lucas berangkat meninggalkan Rania sendirian di apartment mewah itu.


Sepeninggalnya Lucas, Rania membereskan bekas makan keduanya. setelah itu sesuai rencana kalau ia akan istirahat karena tadi malam tidurnya bener-bener kurang.


****


Kurang dari 30 menit mobilnya sudah memasuki area perusahaannya, ia turun di depan lobby lalu menyerahkan kuncinya mobilnya sama satpam untuk mengurusnya.


Keluar dari lift, Lucas langsung di sambut asisten sekaligus sahabatnya.


"Langsung keruang meeting kan?"Lucas mengancingkan jasnya sambil berjalan.


"Bos, yang datang bukan pak Hendra,sekarang orangnya sudah di ruangan bos,"Hendrik mengambil tas kerja Lucas dari tangan bosnya itu.


"Siapa, terus kenapa harus di ruangan gue?Lucas menghentikan langkahnya, lalu menatap Hendrik yang ada di sampingnya.


"Dia yang minta, udahlah sekarang temuin dulu,"jawab Hendrik.


Akhirnya Lucas berjalan menuju ruangannya, meskipun ia kesal karena seharusnya untuk urusan sepeti ini di ruang meeting yang sudah disediakan perusahaannya.


Lucas membuka pintu ruang kerjanya dibelakangnya Hendrik menyusul sambil menenteng tas kerja milik bosnya.


Mata Lucas menyipit melihat perempuan yang beberapa bulan kebelakang pernah datang ke perusahaanya. ia terlihat sedang duduk di sofa yang terdapat di ruang kerja Lucas.


Lucas duduk di depan Alinda, di sebelahnya Hendrik duduk sambil melipat tangannya di atas dada.


"Apa kabar nona Alinda?" Lucas menyapa tamu di depannya.

__ADS_1


"Baik pak Lucas, kabar anda sendiri bagaimana?"tatapan Alinda tak lepas dari wajah Lucas, membuat Lucas sedikit risih dibuatnya.


"Saya baik, kenapa yang datang anda, saya ada urusannya sama ayah anda nona,"tanya Lucas.


"Papa saya sudah menyerahkan urusan perusahaan kepada saya. karena papa ada keperluan di belanda,"jawab Alinda, senyum menawan tak lepas dari bibirnya semenjak Lucas masuk keruangan itu.


"Jadi, anda yang sudah menarik saham dari perusahaan saya?"tanya Lucas dengan santai. ia sedikit mengerti masalahnya.


"Iya, saya yang menarik saham dari peusahaan anda,"jawab Alinda.


"Kenapa, saya rasa, perusahaan saya tak melakukan kecurangan atau hal yang merugikan,"Lucas menatap tajam perempuan di depannya itu.


"Karena anda sudah menolak saya, padahal saya sudah menurunkan harga diri saya buat menyatakan perasaan saya kepada anda, tapi anda, sama sekali tak memikirkannya sedikitpun,"ucap Alinda panjang lebar, meski nyalinya sedikit menciut melihat tatapan Lucas yang menakutkan.


"Masalah pribadi ternyata, saya rasa, anda sudah melanggar perjanjian kerjasama antara saya sama orangtuamu,"tegas Lucas.


"Kalau anda menerima atau membalas cinta saya, saham yang kemarin akan aku kembalikan pak Lucas,"ucap Alinda, nadanya sedikit tinggi.


" Saya sudah menikah, jadi sampai kapan pun tidak akan menerima cinta anda atau wanita manapun selain dari istri saya!"jelas Lucas.


"Saya tidak percaya,"kekeh Alinda sambil menggelengkan kepalanya.


"Nona, menurut saya, lebih baik anda mencari laki-laki yang mencintai anda, saya yakin di luar sana banyak yang menyukai anda,"Hendrik yang dari tadi menyimak perdebatan dua orang di depannya itu, akhirnya mengeluarkan pendapatnya.


"Diam! anda cuma asisten kan, gak penting!"bentak Alinda.


"Nona Alinda yang terhormat, saya sependapat sama asisten saya. daripada anda menyia-nyiakan waktu,"kata Lucas. kepalanya terasa pening mendengar ocehan wanita setengah gila di depannya itu.


"Pokonya kalau anda tetap tidak menerima cinta saya, saya tidak akan tinggal diam. ingat itu!"Alinda menyambar tasnya, lalu keluar dari ruangan Lucas sambil membanting pintu dengan keras.


"Saiko!"gumam Hendrik.


Lucas memijat pelipisnya, lalu menyandarkan kepalanya di sandaran sofa.


"Bos, pesona loe bener-bener tak bisa di ragukan, sampai ada perempuan gila yang naksir, beruntung Rania bisa nikah sama loe,"ucapa Hendrik.


Mendengar nama istrinya, Lucas langsung semangat, ia langsung berdiri lalu berjalan menuju kursi kebesarannya.


"Bos, cepat banget berubahnya tuh muka,"kata Lucas.


"Kerja sono, gue gak mau karena penarikan saham sama tuh cewek gila perusahaan kita jadi bermasalah,"Lucas membuka laptopnya untuk memulai pekerjaannya.


"Elah, dari juga gue kerja bro, nungguin pengantin datangnya siang,"ketus Hendrik, ia keluar dari ruangan bosnya.


**Hai semuanya, maaf ya aku baru up sekarang, semoga semuanya sehat ya, terima kasih yang sudah menunggu.


jangan lupa like, komen, vote nya ya, aku sayang kalian semua😘😘**

__ADS_1


__ADS_2