Dinikahi Majikan

Dinikahi Majikan
part 52


__ADS_3

Lucas menghampiri Rania yang sudah menunggunya di ruang makan.


"Dari tadi, kamu belum makan sayang,"Lucas mendaratkan satu kecupan di atas kepala Rania lalu duduk di samping istrinya.


"Udah tadi, tapi sekarang lapar lagi hehe...."Rania tertawa memamerkan deretan gigi putihnya.


"Ya udah makan sayang, kamu emang harus makan banyak. biar enak dipeluk,"Lucas berbisik ditelinga Rania, padahal kan ditempat itu cuma ada mereka berdua, kenapa harus bisik-bisik segala.


"Emang, sekarang gak enak dipeluk ya, perasaan semalam kamu peluknya gak lepas deh,"Rania memajukan bibirnya mendengar ucapan Lucas.


"Jangan manyun sayang, nanti aku gak tahan, kamu enak banget dipeluk yang, beneran deh, kalau gak harus kerja, mau peluk seharian gak mau lepas,"ucap Lucas. tangannya mengelus pipi Rania.


"Hilih sekarang pinter gombal ya kamu,"pipi Rania terasa panas mendengar ucapan suaminya, entah kenapa, sekarang mulut Lucas udah seperti gula selalu berkata manis. padahal kan biasanya ketus.


"Serius sayang,"Lucas menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.


"Iya deh, terserah bapak,"ucap Rania.


Setelah itu mereka makan dengan lahap, apalagi Lucas yang dari tadi perutnya sudah keroncongan minta diisi.


sesekali tangannya menjahili sang istri.sampai menimbulkan tawa dari bibir mungil Rania.


Seperti malam kemarin Lucas bersikukuh untuk mencuci peralatan makan bekas mereka berdua, ia bener-bener memanjakan Rania. hal itu membuat Rania senang tapi juga ada rasa tak enak, karena itu biasanya tugasnya, apalagi sekarang dirinya sudah menjadi istri dari Lucas.


"Sayang, aku beneran gak nyangka, kalau kamu bisa mencuci piring,"Rania berdiri di samping kulkas sambil melipat tangannya di atas perut. matanya terus memperhatikan tangan Lucas yanv sedang membilas piring.


"Jangankan cuma nyuci piring, masak juga aku bisa sayang,"ucap Lucas.


"Wah, masa, ko aku gak percaya ya,"ejek Rania.


"Besok aku buktikan, sekarang kita tidur yuk, aku ngantuk,"Lucas mengelap tangannya yang basah.


Rania mengangguk sebagai jawaban, tubuhnya seketika melayang karena Lucas menggendongnya menuju kamar tidur mereka.


Lucas menurunkan Rania di atas tempat tidur dengan hati-hati.


"Mau langsung tidur?"tanya Lucas.


"Mau cuci muka sama gosok gigi dulu,"jawab Rania.

__ADS_1


"Ya udah,atau mau aku gendong ke kamar mandinya,"Lucas tersenyum melihat Rania melolot .


"Siapa juga yang mau digendong, tadi kan dia yang tiba-tiba,"gerutu Rania.


Lucas terkekeh melihat Rania menghentakkan kakinya menuju kamar mandi. setelah itu, ia naik ke atas tempat tidur lalu membaringkan tubuh di bawah selimut.


Tidak berapa lama, Rania sudah kembali dengan wajah yang terlihat segar, ia melirik Lucas yang juga sedang menatapnya tanpa berkedip.Rania melewatinya terus berjalan menuju meja rias tempat dimana segala alat perangnya tersimpan.


Rania menatap Lucas dari pantulan cermin, seketika manik keduanya beradu membuat Rania salah tingkah, ia buru-buru memalingkan wajahnya.


"Sayang, buruan mau peluk,"rengek Lucas, pasalnya Rania kaya sengaja berlama-lama di depan cermin.


Kenapa sekarang jadi berasa punya bayi besar sih, dulu aja suka marah-marah, terus bentak-bentak, salah sedikit langsung keluar tanduknya.


"Sayang, kenapa malah melamun, udah belum sih?"ucapan Lucas membuat Rania terperanjat kaget.


"Iya, ini udah ko sayang,"Rania buru-buru membereskan semua peralatan skincare nya.


Lucas langsung menarik Rania kedalam pelukannya,tidak butuh waktu lama buat Lucas menuju alam mimpinya, mungkin karena ia sangat lelah dengan semua masalah yang menjadikan kerjaannya tambah menumpuk.


Berbeda dengan Rania, ia masih belum bisa memejamkan matanya, gara-gara tadi sebelum Lucas pulang Rania sudah tertidur.



Rania tersenyum menatap suaminya, tangannya berniat menyentuh wajah yang sedang terlelap, tapi ia urungkan karena takut membuat Lucas terbangun.


Kamu capek banget ya,lucu banget kalau lagi tidur.


Akhirnya Rania ikut memejamkan matanya menyusul sang suami yang sudah lebih dulu menyelami alam mimpinya.


****


Dilain tempat, bu Renata baru saja dapat kabar kalau ibunya alias omanya Lucas akan segera pulang ketanah air, ibunya itu sampai marah-marah karena tidak diberi tahu kalau cucu kesayangannya sudah menikah.


"Pah, kita harus gimana sekarang? mama gak mau, kalau Rania dipersulit sama ibu,"pak Bambang yang akan terlelap langsung segar karena mendengar suara sang istri.


"Emang kapan ibu akan pulangnya ma?"tanya Bambang.


"Katanya besok, ibu sudah beli tiket buat pulang, ibu pasti akan mempersulit Rania, kasian anak itu pah,"bu Renata menerawang jauh, ia sudah hapal watak ibu kandungnya itu, apalagi selama ini beliau selalu menjodohkan Lucas dengan wanita-wanita dari kalangan atas.

__ADS_1


"Mama tenang aja. papa yakin kalau anak kita bakal bisa melindungi istrinya, sekalipun dari ibu,"pak Bambang berusaha meyakinkan bu Renata.


"Apa papa yakin? mama takut, tadi ibu bilang akan bawa anak temennya dari sana,"papar bu Renata.


"Ibu bilang kaya gitu?"pak Bambang kaget mendengar penuturan istrinya.


"Iya, terus katanya ibu tidak akan merestui pernikahan Lucas, kalau istrinya tidak sederajat sama keluarga kita,"bu Renata menunduk.


"Udah, jangan dipikirkan, besok kita ketempat Lucas, kita bicarakan di sana,"pak Bambang mengelus tangan bu Renata dengan sayang.


"Tapi, mama terus kepikiran pa. gimana dong, mama beneran takut, kasian juga sama mantu cantik mama,"bu Renata menatap suaminya, terlihat kegelisahan dari raut wajah cantik bu Renata.


"Iya papa ngerti ma, sekarang kita tidur dulu, besok pagi-pagi kita ketempat Lucas, biar dia siap siaga,"kata pak Bambang.


"Papa nih, siap siaga kaya apa aja,"bu Renata memukul tangan suaminya.


"Iya dong, siap siaga dari ancaman apa pun yang akan menghancurkan rumah tangganya,"pak Bambang merebahkan tubuhnya di atas kasur empuknya.


"Papa, sejak kapan pintar bicara kaya gitu?"tanya bu Renata.


"Sejak kenal mama, cuma papa gak pernah keluarin aja kemampuan papa yang itu,"pak Bambang terkekeh dengan ucapannya sendiri.


"Dasar! besok pagi banget ya kita ke sana pah, sebelum ibu datang, Lucas harus tahu masalah ini,"bu Renata ikut merebahkan tubuhnya di samping sang suami.


"Iya, makanya kita tidur sekarang. mama jangan banyak pikiran nanti malah sakit,"ucap pak Bambang.


"Iya pah!"


Setelah itu hening, keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing, bu Renata menatap langit-langit kamar, pikirannya bener-bener tak tenang menghadapi hari esok, apalagi dirinya mengingat menantu kesayangannya.


Bu Renata melirik suaminya yang sudah memejamkan matanya. tangannya menggoyangkan tubuh pak Bambang pelan, sekedar memastikan kalau suaminya itu sudah tertidur atau belum.


"Pah, tega banget sih ninggalin mama tidur,"gerutu bu Renata.


"Tidur mah,kan besok mau ketempat anak kita,"pak Bambang memeluk bu Renata sangat erat.


Mau tak mau akhirnya bu Renata memejamkan matanya, apalagi sambil dipeluk sama suami tercinta.


Terima kasih buat yang sabar nunggu, aku minta maaf kalau belum bisa double up ya, masih ikut kelas menulis, semoga nanti bisa double up ya semuanya. jangan lupa like, komen, vote nya juga

__ADS_1


__ADS_2