Dinikahi Majikan

Dinikahi Majikan
part 136


__ADS_3

"Aku, mau kamu jujur sama aku yang, masalah kamu membuang baju tadi, kalau sampai kamu bohong, awas saja ya,"ancam Rania.


"Sayang aku...


"Aku, apa sayang?"Rania langsung memotong ucapan suaminya.


"Nanti kita bicarakan di rumah ya, sekarang gak enak, apalagi ada bibi. kita harus berusaha menyembunyikan masalah rumah tangga kita, selagi kita berdua bisa menyelesaikannya."Lucas mengusap kepala istrinya dengan lembut.


Rania tersenyum, ia sangat bersyukur punya suami yang dewasa juga sangat bijak.


Ya Tuhan, semoga engkau selalu menjaga keluarga kami dari bahaya apapun, termasuk dari gangguan orang ketiga yang bermaksud menghancurkan rumah tangga kami.


"Iya, tapi janji harus jujur ya,"pinta Rania.


"Iya, aku janji bakalan selalu jujur sayang, tidak akan ada yang ditutupi,"sahut Lucas.


Lucas membukakan pintu mobil untuk istrinya, sementara bibi sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi belakang, sedangkan Rania duduk di samping Lucas yang mengemudikan mobilnya.


Sepanjang perjalanan tak ada obrolan apapun, Rania sibuk memperhatikan lalu-lalang kendaraan di depannya, sementara Lucas fokus mengemudi sesekali tangannya mengusap pipi Rania.


"Sudah sampai ya non, den?"tanya bibi tiba-tiba.


"Belum, kita berhenti di lampu merah bi, dari tadi bibi tidur?"Rania menoleh ke belakang di mana bibi berada.


"Iya non, ngantuk banget, kalau sudah tua gini habis makan enak kekenyangan langsung deh ngantuk,"sahut bibi.


"Gak papa bi, tidur lagi aja kalau masih ngantuk, nanti aku bangunin kalau sudah sampai."Rania terkekeh mendengar sahutan bibi.


"Makasih non, emang non Rani itu anak baik banget, beruntung bibi bisa punya majikan kaya non Rania, aden juga beruntung bisa menikah sama non Rani, selain baik, dia juga lemah lembut, pokoknya istri idaman deh."Bibi memuji Rania sambil mengacungkan jempolnya.


"Benar bi, aku beruntung bisa nikah sama dia, makanya aku sayang banget sama dia,"ujar Lucas. ia tersenyum sambil melirik istrinya.


"Udah deh, kalian berdua ini berlebihan tau, aku jadi bahagia karena dipuji terus, memang sih semua yang bibi katakan itu benar."Rania tertawa setelah mengatakan itu, kapan lagi dipuji kan ya.

__ADS_1


"Ah, mulai deh, bibi jadi sedikit tak ikhlas memuji non, kalau tahu akhirnya bakal kaya gini, bibi katakan dalam hati saja tadi,"ucap bibi.


Lucas cuma tersenyum mendengar obrolan keduanya, ia senang bisa melihat tawa istrinya.


Setelah menempuh perjalan yang lumayan panjang, tapi tak terasa karena sambil bercanda, apalagi bibi yang niatnya akan tidur kembali tak jadi karena malah mengobrol sama Rania, sesekali Lucas menimpali kalau ada yang lucu.


Begitu sampai di rumah, terlihat semua barang belanjaan mereka sudah berada di sana, Lucas juga mengeluarkan beberapa camilan milik istrinya dari dalam mobil, memang tadi mereka menyempatkan untuk berbelanja makanan untuk istrinya kalau lagi pingin ngemil.


Rania langsung menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur, badannya terasa lelah, jadi ia tak ikut membantu Lucas sama bibi yang sedang membereskan semua belanjaan termasuk peralatan baby nanti.


"Sayang, masih capek?"Lucas bertanya begitu masuk ke dalam kamar sambil membawa oren just buat istrinya.


"Iya, lumayan yang, maaf ya aku gak bantu beresin barang-barang tadi."Rania langsung bangun begitu mendengar suara suaminya.


"Gak papa, kamu minum dulu sayang, enak segar."Lucas memberikan gelas berisi oren just itu pada istrinya.


Rania langsung menerima gelas itu lalu meneguknya sampai gelas itu kosong, Lucas.langsung mengambil gelas kosong itu dari tangan istrinya terus menyimpan di atas nakas.


"Sayang, kalau masih capek, istirahat lagi, biar aku pijitin kakinya supaya kamu rileks."Lucas mendudukkan dirinya di atas tempat tidur, setelah itu ia langsung memangku kaki Rania.


"Cantik banget sih kalau lagi cemberut kaya gini, jadi harus sekarang ceritanya nih?"Lucas mencubit pipi Rania, bukan ia tak mau cerita, cuma ia mau kalau istrinya itu istirahat dulu karena ia tahu pasti sangat lelah berjalan lama apalagi ditambah perut yang membuncit.


"Iya, biar aku gak kepikiran terus sayang,"sahut Rania.


"Oke, tapi kamu jangan marah ya, apalagi sampai kepikiran terus berakibat sama kandungan kamu,"ujar Lucas.


Setelah itu, ia langsung menceritakan semua kejadian tadi, tak ada yang ia tutupi atau lebihkan sedikitpun, termasuk masalah baju yang ia buang ke tempat sampah.


"Jadi, kalau aku tidak ketemu sama mbak Shela di toilet, kamu bakal nyembunyiin masalah ini dari aku?"Rania menatap suaminya, bibirnya maju beberapa centimeter.


"Nggak, tadinya aku mau nyari waktu yang tepat buat bicara sama aku, sebenarnya aku sudah berniat membicarakan masalah Shela pas malam dimana aku pulang dari rumah mama, tapi kamu udah tidur duluan sayang."Lucas mengusap-ngusap betis mulus istrinya.


"Maaf, aku gak tahu kalau kamu mau menjelaskan itu, aku malu sama mama kalau gitu yang,"ujar Rania.

__ADS_1


"Gak papa, aku ngerti kamu lagi hamil, harus banyak istirahat, lagian kenapa malu sama mama?"


"Eum, waktu itu aku udah nuduh mbak Shela selingkuhan papa, gimana dong?"


"Mama pasti ngerti kok, kata mama kamu salah paham, tapi mama gak ada waktu buat menjelaskan semua masalah itu sama kamu,"terang Lucas.


Rania mangut-mangut, ia ingat ketika pulang dari mall waktu itu, mereka ngobrol banyak termasuk masalah kalau papa mertuanya selingkuh.


"Kamu gak diapa-apakan sama wanita sinting itu, pokoknya kamu harus hati-hati di manapun, jangan lengah, aku tahu Shela wanita yang seperti apa, kalau perlu kamu ikut aku ke kantor supaya aku tenang!"Lucas merengkuh tubuh Rania.


"Eum, emang dia wanita yang seperti apa yang?"Rania tiba-tiba merasa penasaran sama sifat wanita masa lalu suaminya itu.


"Bahaya pokoknya, dia wanita setengah gila, dulu saat mengejar aku sampai mau bunuh diri karena tak pernah aku respon."Lucas menerawang jauh.


"Ikh, kok aku jadi takut sih, bagaimana kalau dia mencelakai aku yang, atau kandungan aku, ?"Rania merinding mendengar tentang Shela.


"Kamu gak usah banyak pikiran, jalani aja hari-hari seperti biasa sayang, aku gak akan diam aja, paling nanti minta bantuan orang-orang papah buat jagain kamu."Lucas meyakinkan istrinya, ia tak mau kalau masalah itu membuat sang istri tak tenang.


"Kamu, gak akan kembali sama dia kan yang, terus ninggalin aku sama anak kita?"tanya Rania.


"Sayang, kita sudah bahas masalah ini kan, jadi apa yang kamu takutkan, aku sudah mengubah semua aset atas nama kamu, jadi jangan pernah takut kalau aku bakal ninggalin kamu, karena kalau aku ninggalin kamu, aku bakal jadi gelandangan karena tidak punya apa-apa!"tegas Lucas.


"Gak perlu kaya gitu sayang, itu berlebihan, lagian kapan kamu merubah semua itu, pasti mama sama papa bakal marah kalau mereka tahu."Rania kaget mendengar penjelasan suaminya, menurutnya tak perlu sampai begitunya.


"Justru itu mama yang nyuruh, kamu tahu, sekarang mama lebih sayang sama kamu daripada sama aku yang lahir dari rahimnya,"jelas Lucas.


Rania merasa terharu, ia benar-benar bahagia karena diberi keluarga yang sangat menyayangi dirinya, segala penderitaan dulu seakan tak ada apa-apanya kalau dapat balasan yang seperti sekarang ia rasakan.


"Akh, sayang terima kasih banyak, aku sayang banget sama kamu."Rania langsung memeluk tubuh suaminya, air matanya menetes karena bahagia.


"Itu semua sudah kewajiban aku sebagai suami, jadi aku minta sama kamu, jangan banyak pikiran, sekarang istirahat ya."Lucas mencium kening Rania lalu mengusap air mata yang mengalir di pipi istrinya itu.


Rania menuruti Lucas, ia langsung membaringkan tubuhnya di atas kasur, matanya terpejam, pikiran buruk yang tadi sempat mengganggunya ia hempaskan seketika, ia percaya semua yang suaminya itu ucapkan.

__ADS_1


Lucas mengambil ponselnya dari atas meja, matanya terbelalak begitu ia membuka email, terdapat beberapa pesan yang membuatnya murka.



__ADS_2