Dinikahi Majikan

Dinikahi Majikan
part 88


__ADS_3

Lucas menyusul ayahnya yang sudah berada di ruang kerja. ia mendaratkan bokongnya di samping pak Bambang.


"Ada, masalah apa pah? wajahnya gak semangat banget,"Lucas melirik pak Bambang yang masih fokus melihat layar laptopnya.


Pak Bambang menutup laptopnya,"Apa kamu pernah main perempuan?"tanya pak Bambang, nadanya terdengar tegas.


"Maksudnya? papakan paling tahu aku, lagian aku juga tahu kalau papa mengirim pengawal bayangan buat aku,"jawab Lucas dengan santai, ia tak mengeri dengan pertanyaan papanya.


"Ya, siapa tahu, kamu lepas dari pengawasan Ardy,"pak Bambang menarik napas panjang.


"Papa jelaskan yang sejelas-jelasnya, aku sama sekali gak ngerti maksud papa,"ujar Lucas.


"Kamu masih ingat rencana papa buat villa di kampung istri kamu?"pak Bambang melirik Lucas sekilas.


"Iya, sekarang udah mulai belum pa? sampai lupa aku kalau papa sekarang merambah usaha lain,"


"Belum, dua minggu kebelakang kan papa sama mama ke sana, sekalian lihat keadaan bik Tuti sama mertua kamu. waktu itu belum deal masalah harga tanahnya, katanya pak Ridwan mau berunding dulu sama istrinya, tapi tadi beliau telpon papa, katanya akan ngasih tanah itu secara gratis,"pak Bambang menjeda ucapannya.


Lucas masih menyimak ucapan papanya, tanpa menyela sedikitpun.


"Kamu tahu apa syarat yang mereka ajukan?"pak Bambang menatap wajah Lucas yang juga sedang menatapnya dengan raut wajah bingung serta penasaran.


"Enggak! papakan belum cerita, aku bukan titisan mbah dukun yang sedang komat kamit baca mantra,"ketus Lucas.


"Dengan segelas air putih langsung diminum!"pak Bambang malah menyambung ucapan Lucas dengan wajah datarnya.


"Di sembur pah, salah loh,"sela Lucas.

__ADS_1


"CK, sudahlah sekarang serius, papa lupa lagunya sudah lama itu,,"decak pak Bambang, anak dan ayah itu terkadang bercanda meski dengan wajah pak Bambang yang tetep datar, kek tembok.


"Jadi, syaratnya apa? hubungan sama Lucas main perempuan apa?"Lucas mengingat pertanyaan papanya yang menurutnya aneh.


"Syaratnya, kamu ceraikan Rania, terus nikahi anak gadisnya. katanya anaknya itu jatuh cinta sama kamu, apa kamu pernah bertemu?"


"Enggak, ada-ada aja cewek jaman sekarang tuh. terus papa jawab apa?"Lucas bergidik mendengar cerita papanya.


"Katanya, dia sudah lihat kamu, coba nanti tanyakan sama istri kamu. nama orangnya pak Ridwan, dia punya perkebunan teh dulunya, tapi kata mertua kamu, sekarang kebun tehnya mau dijual karena pabrik tehnya bangkrut,"papar pak Bambang.


"Tadi mama telpon mertua kamu, katanya kalau tanah pak Ridwan gak jadi beli, masih ada tanah lain yang mau jual. tapi harganya lebih tinggi, soalnya di sana sekarang sudah ramai jadi tempat wisata,"pak Bambang masih bercerita.


"Kapan papa lihat lokasinya? emang papa serius mau bangun villa?"tanya Lucas, awalnya ia tak percaya waktu papanya memberitahu akan bangun villa di kampung Rania.


" Serius Lah, hitung-hitung buat investasi, akan papa hadiahkan buat cucu papa nanti. Rencananya, nanti kita mau ngadain syukuran empat bulanan istri kamu di tempat mertua kamu, sekalian lihat-lihat lokasi di sana. sebenarnya yang kemarin papa sudah terbayang, tempatnya adem dekat jalan raya juga. tapi kalau syaratnya seperti itu mending batal,"pak Bambang menjelaskan rencananya kedepannya.


"Enak aja, kamu yang harusnya kerja keras. papa cuma nambahin, apalagi lihat mama kamu sangat antusias sama kehamilan istri kamu, di otaknya itu sudah banyak rencana, sampai papa pusing tiap minta jatah selalu nego dulu,"pak Bambang tersenyum kecut mengingat itu semua.


Lucas tertawa ngakak mendengar cerita papanya, obrolan yang tadinya serius itu berubah jadi absurd, keduanya sudah lama tak ngobrol seperti sekarang, apalagi Lucas pindah ke apartemen jadi hampir gak ada waktu buat mereka bercanda seperti dulu sebelum Lucas menikah. paling kalau ada masalah kerjaan barulah mereka ngobrol itupun tak pernah lama.


Mungkin dimata orang lain, pak Bambang itu orang yang tegas, dingin apalagi kalau.menyangkut masalah pekerjaan, sifat Lucas juga tak beda jauh dari papanya. mungkin seperti kata pepatah kalau buah jatuh tak jauh dari pohonnya. tapi dimata keluarganya pak Bambang adalah sosok pelindung, baik, apalagi sama bu Renata bucin, apa-pun permintaan sang istri pasti diturutinya.


Setelah puas mengobrol, keduanya pergi ke kamar masing-masing menemui belahan jiwanya masing-masing.


Lucas membuka pintu kamarnya dengan hati-hati, ia takut kalau Rania sudah tertidur terus terbangun lagi gara-gara ulahnya. apalagi akhir-akhir ini Rania sering banget tertidur tak kenal tempat, awalnya ia heran, tapi setelah bertanya sama sang mama ia merasa tenang ternyata itu hal yang wajar. bagi ibu hamil.


Begitu melihat suaminya muncul, Rania yang sedang menonton drama di laptopnya langsung tersenyum.

__ADS_1


"Sayang, belum tidur?"Lucas menghampiri sang istri yang sedang selonjoran di atas tempat tidur sambil memangku laptop.


"Belum, aku nunggu kamu yang,"ucap Rania manja.


"Kenapa? mau ditiduri yah?"Lucas mengedipkan matanya.


"Bukan, aku mau bicara sesuatu sama kamu,"Rania menutup laptopnya.


"Oh, bentar ya, aku ganti baju dulu sayang, terus cuci muka sama gosok gigi,"Lucas langsung bangkit menuju kamar mandi.


Rania mengambil baju tidur Lucas dari dalam lemari lalu menyimpannya di atas tempat tidur, ia mengambil ponselnya sembari menunggu suaminya keluar dari kamar mandi.


Beberapa menit kemudian, Lucas sudah berbaring di samping Rania. tangannya menarik kepala Rania ke atas dadanya, tangannya melingkar ditubuh Rania.


"Sayang, tadi, kamu bicarain apa sama papa?"Rania memainkan telunjuknya di atas dada sang suami.


"Banyak yang, kenapa?"Lucas menangkap jari Rania, pusat tubuhnya sudah bereaksi karena tingkah sang istri.


"Enggak, tadi aku juga diajak bicara sama mama, sama oma juga yang,"Rania mendongak menatap wajah tampan Lucas.


"Oh ya, bicara apa emangnya?"tanya Lucas, ia pura-pura tak tahu apa yang oma bicarakan sama Rania.


Rania menarik napas sebelum bicara,"kata oma aku disarankan cuti kuliah yang, katanya oma kasian sama aku kalau kecapean terus, oma juga takut kalau ada orang berniat jahat dan lengah dari perhatian, menurut kamu gimana?"


"Aku, gak akan maksa sayang. aku tahu kamu sangat ingin kuliah, kalau harus cuti sekarang itu pasti berat buat kamu, tapi yang dikatakan oma ada benarnya juga yang, sekarang kamu berdua sama bayi kita. tapi itu terserah ayang aja, baiknya gimana. tadi juga papa menyarankan buat cuti aja dulu, aku beneran gak maksa, kalau kamu merasa kuat ya jalankan hamil sambil kuliah biasakan,"kata Lucas panjang lebar.


"eum....aku

__ADS_1


__ADS_2