Dinikahi Majikan

Dinikahi Majikan
part 108


__ADS_3

"Cuma masalah pekerjaan sayang, kamu gak usah banyak pikiran ya, mending banyak makan sama tidur,"ujar Lucas.


"Ngga ah, nanti aku tambah gemuk, pasti jelek banget deh,"Rania menepuk-nepuk pipinya yang mulai tembem.


"Jelek dari mana sih, kamu tambah cantik, juga seksi sayang, apalagi bagian ini, ukh,"Rania langsung menepis tangan Lucas yang sudah singgah kemana-mana.


"Bener sayang, makin enak megangnya, empuk,"Lucas mengedipkan matanya, ia senang menggoda istrinya.


"Dasar, kamu mesum ih, udah ah, aku mau ke dapur nyari yang segar-segar,"Rania langsung berlalu dari samping Lucas.


Setelah Rania ke-dapur, Lucas juga masuk ke ruang kerjanya. ia buru-buru menyalakan laptop yang selama beberapa hari kebelakang tak ia sentuh. sebenarnya ia tau kalau Hendrik sudah mengirimi dirinya beberapa email, tapi selama di Bandung sengaja Lucas abaikan karena dirinya benar-benar mau fokus sama sang istri.


Benar saja, begitu layar laptop berlogo apel itu menyala, puluhan pemberitahuan langsung masuk. Lucas langsung tenggelam dalam dunianya ketika sudah berhadapan dengan pekerjaan, itulah sebabnya kemarin selama di rumah mertuanya, ia benar-benar tak mau dipusingkan dengan semua itu.


Sedangkan Rania, ketika kakinya menginjak lantai dapur, yang pertama ia tuju adalah kulkas tempat beberapa sayuran juga buah-buahan bibi simpan. rencananya ia akan membuat salad buah, membayangkannya saja sudah membuat air liurnya menetes. apalagi cuaca sedang panas, menurutnya itu sangat pas buat makan yang segar-segar.


Rania mengeluarkan berbagai macam buah mulai dari strawberri, apel, melon, anggur, kiwi, juga buah naga dari dalam kulkas, setelah ia rasa cukup Rania mulai mencucinya lalu memotong-motong buah-buahan itu supaya jadi potongan kecil-kecil.


"Non, mau buat apa? biar bibi saja yang bikin,"bibi yang baru masuk sambil membawa beberapa pakaian yang baru ia angkat dari jemuran, ia terkejut melihat majikannya sedang memotong buah.


"Eh, bibi darimana, aku rencananya mau bikin salad buah bi, pasti enak ya siang-siang gini,"Rania mendongak menatap bibi yang sedang berdiri sambil memeluk pakaian.


"Aduh non, biar bibi saja, kata nyonya, non Rani gak boleh kecapean, beliau menitipkan non sama bibi, sebentar ya bibi simpan pakaian ini dulu, ke tempatnya dulu,"Belum sempat Rania menjawab, bibi sudah berlalu menuju tempat penyimpanan baju sebelum disetrika.


"Sini non, biar bibi saja, non Rania duduk aja di sini,"kata bibi. ia langsung menarik kursi untuk Rania duduk.


"Gak usah bi, aku gak capek kok, bibi jangan berlebihan deh, mending bibi yang istirahat. dari tadi bibi sibuk terus, pasti capek kan,"Rania menolak, ia merasa tak capek lagian cuma motong buah apa capeknya sih. bibi sangat berlebihan menurutnya.


Akhirnya bibi duduk menuruti perintah Rania,"non sekarang kandungan non Rani udah empat bulan ya, bibi udah gak sabar mau gendong bayi,"ucap bibi antusias. ia sudah membayangkan akan seperti apa lucunya anak majikannya itu.


"Hehehe.... iya bik, nanti kerjaan bibi pasti nambah ya, soalnya pasti aku bakal sering minta bantuin bibi buat jaga dede bayinya,"

__ADS_1


"Gak papa, bibi senang non, emang nanti gak ada rencana buat mempekerjakan baby sitter non?"tanya bibi. Rania menggeleng.


"Kenapa, emang non gak bakal sekolah lagi nanti?"


"Ngga kayanya bi, tapi lihat nanti aja, aku sih mending jadi istri sama ibu aja deh, tinggal di rumah bik,"


"Tapi, menurut bibi sayang banget non, kan non Rani masih sangat muda, terus suami juga mampu membiayai sekolah non,"


"Iya sih, aku lihat nanti aja bi, lagian masih lama juga kan,"ujar Rania.


Tak terasa Rania sudah selesai memotong buah-buahnya, setelah itu ia mulai menuangkan mayonaise, yogurt, kental manis juga madu, lalu meraciknya menjadi saus untuk dituang di atas buah-buahan tadi, setelah selesai Rania menaburkan keju yang sudah ia parut ke atas salad buahnya.


"Bi, boleh minta tolong gak?"tanya Rania. bibi yang sedang membereskan bekas Rania membuat salad menoleh lalu mengangguk.


"Nanti bibi masukan yang di wadah ini kedalam kulkas. aku udah gak sabar mau nyobain bi, kalau bibi mau ngambil aja ya,"ucap Rania.


"Iya non, bibi nyicipinya nanti aja kalau udah dingin, kayanya lebih segar kalau dingin ya,"


Rania bergegas menuju ruang keluarga, matanya melirik kiri kanan mencari sang suami tak menemukannya.


"Dimana ya, apa lagi di kamar,"gumamnya. ia melangkahkan kakinya menuju kamar tidurnya sambil membawa mangkuk berisi salad yang baru ia bikin.


Rania membuka handle pintu, tapi tak menemukan suaminya di sana. akhirnya ia mengetuk pintu ruang kerja suaminya.


"Sayang, kamu di dalam?"


"Iya, kamu masuk aja yang,"terdengar suara Lucas dari dalam.


Setelah mendapatkan ijin Rania langsung masuk ke dalam ruangan itu. terlihat suaminya sedang duduk di atas kursi matanya fokus pada layar laptop yang menyala.


"Kirain kemana, tadi aku nyari kamu ke kamar sayang,"papar Rania. ia langsung duduk di atas pangkuan Lucas tanpa permisi.

__ADS_1


"Kenapa, kangen ya nyariin aku?"Lucas mengalihkan pandangannya dari layar laptop pada wanita yang duduk di atas pangkuannya.


"Engga, aku mau makan salad buah sama kamu, kamu cobain ya, enak atau ngga,"Rania mulai menyuapkan potongan buah yang sudah terbalur saus salad itu ke dalam mulut suaminya.


"Enak, kalau dingin lebih enak kayanya yang,"ucap Lucas setelah menelan potongan buah.


"Iya, aku udah nyimpan kok sebagian, ini mau nyobain aja tadi, makanya ngambil sedikit,"


"Kamu, makan juga dong sayang, enak banget loh,"Lucas mengambil sendok lalu gantian menyuapi Rania.


"Wah, iya ewnak buwanhet yang,"Rania bicara dengan mulut penuh.


"Telan dulu, baru ngomong sayang,"ujar Lucas.


"Iya, enak banget seger yang, nanti bikin banyak ah biar bisa makan kapan aja,"


Akhirnya pekerjaan Lucas terbengkalai gara-gara istrinya itu, tapi Lucas bahagia karena jarang-jarang istrinya itu manja seperti sekarang. mungkin karena dirinya selalu sibuk dengan pekerjaan yang menyita tenaga juga waktunya.


Setelah salad buah habis, Rania segera keluar dari ruang kerja Lucas. ia membiarkan suaminya itu menyelesaikan pekerjaannya tanpa gangguan dari dirinya.


Ketika ia melangkahkan kakinya hendak menyimpan mangkuk kotor ke dapur, ia mendengar ketukan di pintu depan.


"Bibi, coba lihat siapa yang datang, "Rania meminta bibi untuk ke depan.


"Iya non, biar bibi yang buka pintunya,"bibi bergegas menuju pintu utama, sedangkan Rania meneruskan langkahnya menuju dapur.


"Non, itu ada tamu, perempuan cantik,"kata bibi. Rania yang sedang menuangkan air putih kedalam gelas mengerutkan keningnya.


"Siapa bi, namanya bibi tanya gak?"tanya Rania.


"Tadi namanya.......

__ADS_1


__ADS_2