
Waktu terus berlalu dengan cepat, waktu Rania di kampung sudah habis. pasangan suami istri itu sudah harus pulang ke Jakarta. meskipun Rania masih betah apalagi berdekatan bersama sang ibu, tapi ia juga tak mungkin terus tinggal, ada kewajiban yang harus ia laksanakan ya itu ikut kemanapun suaminya pergi.
Pekerjaan Lucas tak bisa ditinggalkan begitu saja, sekarang saja pasti kerjaan itu sudah menumpuk di atas meja kerjanya, meskipun ada Hendrik yang menggantikan tapi untuk masalah penting pasti itu sudah tugasnya.
Bu Lilis dengan berat hati melepaskan pelukan pada tubuh sang putri, rasanya baru sebentar ia melepas kangen tapi sekarang sudah harus berpisah lagi. tapi ia merasa bahagia karena melihat kehidupan anak semata wayangnya bahagia, kasih sayang suami juga mertua anaknya itu sangat terlihat juga terasa.
"Kamu, hati-hati ya, ingat kata itu, kamu harus nurut sama suami juga mertua kamu Ran,"bu Lilis mengusap kepala anaknya.
"Iya, aku bakal selalu ingat nasehat ibu sama uwa,"ucap Rania. ia beralih memeluk perempuan yang sudah ia anggap ibu kandungnya itu.
"Jaga kehamilan kamu Ran, salam buat mertua kamu, kemarin cuma sebentar di sini, jadi uwa tak banyak waktu buat melepas kangen sama mertua kamu,"bik Tuti mengusap punggung Rania.
"Iya, uwa sama ibu jaga kesehatan ya, salam buat Selin ya nanti bu, bilangin belajar yang bener,"
Lucas membukakan pintu mobil mempersilahkan istrinya masuk, setelah berpamitan ia menyusul Rania ke dalam mobil.
Kedua perempuan paruh baya itu mengusap sudut matanya, ketika mobil yang membawa anak menantunya telang menghilang dari pandangan keduanya.
"Rasanya baru kemarin dia datang teh, sekarang udah sepi lagi rumah kita ini, perasaan waktu kenapa cepat berlalu,"lirih bu Lilis. ia mendaratkan badannya di atas kursi kayu yang ada di teras rumahnya.
"Sudah, jangan terus dipikirin nanti anak kamu malah mau balik lagi, sekarang suaminya lebih berhak sama Rania. tuh ada yang belanja, udah sana layani dulu,"ujar bik Tuti.
"Iya, teh, aku juga tahu kalau Rania sekarang milik suaminya, cuma masih kangen aja rasanya,"Bu Lilis bangkit terus berjalan menuju warung yang berada di samping rumahnya.
Rania menyandarkan kepalanya pada bahu kokoh Lucas, tangannya memeluk tubuh laki-laki tampan itu, hidungnya ia gesekan beberapa kali.
"Kenapa?"tanya Lucas. nadanya sangat lembut, ia tau kalau istrinya masih betah di rumah ibunya.
"Gak papa, kamu wangi, aku suka wanginya,"Rania semakin mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
"Tumben, kamu kesambet ya?"Lucas menjauhkan tubuhnya dari Rania.
"Ngga, kenapa malah menjauh,risih aku giniin dari tadi,"Rania cemberut, dimata Lucas malah terlihat lucu apalagi pipinya yang sedikit berisi sekarang karena efek kehamilannya.
"Bukan, biasanya juga cuek aja, gak pernah bilang wangi segala, makanya aku takut kamu kesambet jin penunggu kampung ini,"papar Lucas.
"Masa sih, aku gak pernah bilang wangi,"gumam Rania. ia kembali meringkuk dalam pelukan Lucas.
Pak Toha tersenyum melihat keromantisan majikannya, setelah melirik sebentar ia fokus kembali pada jalanan di depannya yang sudah mulai masuk tol cipularang.
"Aku ngantuk yang,"Rania menyandarkan kepalanya di atas dada Lucas, tangannya masih memeluk erat tubuh kekar itu.
"Ya udah, kamu tidur aja, lagian masih lama sayang,"Lucas mengusap kepala Rania dengan lembut.
Lucas menyuruh sopirnya buat langsung pulang ke rumahnya. saat tadi mengabari orang tuanya dan berniat mampir ke sana, ternyata bu Renata lagi gak di rumah, sedangkan pak Bambang lagi menggantikan Lucas datang ke kantor karena Hendrik memberitahu ada hal penting dan harus langsung owner yang menangani.
"Sayang, bangun sudah sampai,"ucap Lucas dengan lembut. tangannya membelai wajah Rania.
"Hah, kenapa cepat banget? perasaan baru sebentar deh,"Rania mengangkat wajahnya dari dada Lucas.
"Masa, padahal kamu tidurnya lama sayang, aku aja sampai pegal nih badan gara-gara kamu peluk dari tadi,"kata Lucas. ia merenggangkan badan yang terasa pegal.
"Hehehe....maaf sayang, nanti aku pijitin ya,"Rania nyengir memperlihatkan deretan gigi putihnya.
"Boleh, tapi plus-plus ya,"Lucas mengedipkan matanya.
"Aku, gak tau pijat plus-plus kaya gimana?"ucap Rania.
"Nanti aku kasih tau, sayang,"Lucas menggandeng tangan Rania keluar dari mobil yang sudah terparkir di garasi rumahnya.
__ADS_1
Keduanya terlihat sangat bahagia, membuat bibi yang sedang membawa nampan berisi minuman untuk majikannya ikut tersenyum.
"Bibi, apa kabar?"tanya Rania. ia melepaskan tangan Lucas dari pinggangnya, lalu tak segan ia memeluk tubuh wanita paruh baya yang sudah bekerja sebelum ia menikah sama sang suami itu, cuma sekarang pindah tempat yang awalnya di apartemen.
"Baik, non Rani, gimana kabarnya, ibu di sana sehat-sehat?"tanya bibi. ia membalas pelukan majikannya.
"Alhamdulilah sehat bibi, ibu titip salam buat bibi, ada oleh-oleh juga katanya buat bibi dari ibu aku,"Rania melepaskan pelukannya.
"Wah, makasih non, semoga ibu sehat terus, pake repot-repot segala nitip oleh-oleh,"
"Bi, saya sama Rania ke kamar dulu, capek mau istirahat dulu,"Lucas menarik tangan Rania menuju kamarnya.
Bibi tersenyum sambil geleng-geleng kepala melihat kelakuan Lucas.
Syukurlah, setelah menikah den Lucas jadi orang yang ramah, gak kaya dulu waktu masih di apartemen, jangankan bicara, senyum aja mahal banget.
Sepeninggal majikannya, bibi membereskan barang yang sudah dikeluarkan dari mobil sama pak Tohir.ia juga mengambil oleh-oleh yang tadi ditunjukan Rania untuk dirinya.
Sementara di dalam kamar, Lucas membuka pakaian yang tadi ia kenakan,"sayang, pijatnya mau sekarang atau gimana?"tanya Lucas.
"Nanti, aku juga capek kalau sekarang, sayang,"jawab Rania tanpa melihat ke arah Lucas.
"Ya, jadi nanti plus-plusnya double, oke,"
"Iya, terserah kamu saja,"teriak Rania yang sudah masuk kamar mandi.
Lucas tertawa mendengar teriakan istrinya, setelah itu ia langsung memakai baju yang sudah Rania siapkan, rasanya badan terasa pegal karena sepanjang jalan memeluk Rania yang tertidur.
Lucas tersenyum mengingat ucapan istrinya tadi yang bilang baru terasa sebentar tidur, padahal jarak antara Bandung jakarta lumayan jauh sampai memakan waktu 3 jam lebih, sepanjang perjalanan itu pula Rania tidur. untung saja mamanya sudah memberitahu dirinya kalau ibu hamil itu susah ditebak, kadang tidur lelap sampai susah dibangunkan, tapi tak jarang juga Rania mengganggu tidurnya karena bilang tak bisa tidur terus minta ditemenin. tapi bagaimanapun kelakuan istrinya, Lucas tak pernah marah atau menggerutu, ia selalu menuruti semau kemauan Rania dengan sepenuh hati.
__ADS_1