Dinikahi Majikan

Dinikahi Majikan
part 79


__ADS_3

"Itu, itu karena , kasian istri kamu lagi tidur,"ucap bu Renata.


Lucas mangut-mangut mendengar ucapan mamanya. meskipun pikirannya masih memikirkan sikap mamanya yang menurutnya tak seperti biasanya.


Lucas menuruti ucapan mamanya supaya pelan ketika membuka pintu kamarnya. matanya langsung menatap badan mungil Rania yang sedang terlelap di bawah selimut. senyumnya langsung terbentuk begitu melihat Rania tertidur dengan pulasnya.


Kakinya melangkah mendekati tempat tidur, lalu jongkong tepa di samping wajah Rania. Lucas mencium kening Rania dengan lembut.


Rania masih tertidur dengan pulas, tak terganggu sedikitpun dengan kelakuan Lucas.


Tumben anteng, biasanya gerak sedikit aja langsung bangun. wajahnya masih pucat tapi suhu tubuhnya normal.


Lucas akhirnya meninggalkan istrinya yang masih terlelap, perutnya terasa sangat lapar. mungkin karena baru terisi roti saat sarapan tadi.


"Luc, mana istri kamu?"bu Renata menatap anaknya yang baru turun dari lantai atas.


"Tidur, apa dia sakit ma? biasanya gak kaya gitu. dari pagi aneh banget dia,"Lucas duduk di samping bu Renata.


Bu Renata menatap Lucas yang terlihat khawatir sama Rania, meskipun Lucas tak menampakan secara langsung tapi bu Renata bisa melihatnya, sangat jarang ia melihat Lucas seperti sekarang. hal itu membuat ia tenang.


"Ikut mama sebentar Luc, ada yang mau aku sampaikan sama kamu,"bu Renata berdiri dari duduknya lalu berjalan menuju kamarnya.


Kening Lucas mengerut mendengar ucapan mamanya, ia mengikuti langkah mamanya yang sudah berada di dalam kamar.


"Ada, apa ma? aku lapar loh ini,"Lucas menatap pergerakan bu Renata.


"Duduk, mama mau bicara sebentar, nanti setelah itu kamu boleh makan sepuasnya di rumah mama, gratis lah,"


"Iyalah, masa anak sendiri harus bayar, ada-ada saja nih mama,"Lucas mendengus. ia duduk di atas kasur.


"Kalau, misalkan istri kamu hamil, apa kamu bakal bahagia?"bu Renata ikut duduk di depan Lucas. tangannya memegang kantung kresek yang tadi ia beli di apotik.


"Kenapa tanya gitu, yang pasti senanglah ma, tapi gak tahu Rania. dia masih muda, apalagi sekarang masih kuliah. pasti sulit kalau hamil sambil kuliah, kita juga belum ada pembicaraan sampai ke sana ma,"Lucas menatap jauh ke depan.

__ADS_1


"Mama tadi sudah ngobrol sama istri kamu, katanya dia sudah telat datang bulan, mama yakin dia akan senang, besok pagi ketika bangun tidur berikan alat ini sama istri kamu,"bu Renata memberikan alat itu sama Lucas.


Lucas menatap semua testpack di tangannya, ia takut kalau Rania belum siap dengan semua ini, mengingat usianya yang masih muda di tambah sekarang kuliahnya lagi padat-padatnya. pasti semua itu berat buat Rania.


"Kenapa, malah bengong kamu. sudah sana keluar, minta mba buat siapkan makan buat kamu,"bu Renata menepuk tangan Lucas.


"Mama, yakin istri aku hamil?"Lucas malah bertanya.


"Yakin, makanya cek dulu biar lebih yakin, kamu kenapa sih, kaya orang bingung gitu?"


"Kalau istriku tidak menerima, gimana ma?"Lucas mengamati testpack ditangannya, ia membaca panduan cara menggunakannya.


"Jangan terlalu banyak berpikir, sana makan dulu. terus lihat istri kamu sudah bangun atau belum,"


Lucas berlalu dari kamar bu Renata sambil menggenggam testpack, ia memanggil mba untuk minta tolong menyiapkan makan siangnya.


Lucas menyantap makan siangnya dengan perasaan tak menentu, ada senang, takut, juga deg-degan.


"Den, apa, masakan saya tidak enak?"mba Yanti menuangkan air putih untuk Lucas. matanya tak sengaja melihat piring majikannya yang masih berisi banyak nasi sama lauknya juga bahkan hampir utuh.


Den Lucas kenapa? tadi kalau gak salah bawa testpack deh, apa Rania hamil ya. kalau iya pasti ibu senang banget. waktu itu ibu bilang kesepian sejak den Lucas sama Rania pindah.


Mba Yanti menyimpan kembali makanan yang tadi ia sajikan.


Lucas menyimpan tes kehamilan itu di dalam laci meja samping tempat tidur. lalau ia menaiki tempat tidur dan ikut berbaring bersama Rania.


Matanya menatap wajah sang istri yang terlihat damai, ia melabuhkan kecupan berkali-kali di atas kepala Rania.


Rania membuka matanya ketika ia merasakan pelukan yang sangat erat pada tubuhnya.


"Sudah, bangun sayang?"Lucas tersenyum melihat Rania mengerjapkan matanya.


"Sayang, sekarang sudah malam ya? maaf aku ketiduran tadi,"

__ADS_1


"Sekarang masih siang sayang, kalau masih ngantuk kita tidur lagi,"


"Enggak, terus kalau masih siang, kenapa kamu sudah pulang?"


"Karena, sudah kangen sama kamu, jadi pulang,"Lucas mencium bibir Rania dan sedikit m*****tnya.


"Ish, kenapa tiba-tiba gombal sayang,"wajah Rania langsung memerah.


" kenapa pipinya merah sayang? kamu demam,"Lucas sengaja menggoda istrinya itu.


"Diam,aku malu. eh serius nanya, tumben udah pulang sam segini yang,"


"Kenapa, harus malu sayang. lagian aku beneran kangen pengen peluk kamu,"Lucas mengeratkan pelukannya.


Keduanya berpelukan sambil rebahan di atas tempat tidur, Lucas belum bertanya soal istrinya yang telat datang bulan. sesekali keduanya tertawa ketika ada obrolan yang menurutnya lucu atau bergantian saling menjaili.


Sedangkan di bawah Serly baru saja pulang dari kantor, ia masih tinggal di rumah orang tuanya Lucas. meskipun sekarang oma sudah tak terlaku memperdulikannya tapi Serly bingung kalau harus pindah dari rumah itu, ia tak punya banyak uang untuk membayar tempat tinggal.


Bibirnya tersenyum begitu melihat mobil Lucas terparkir di garasi rumah itu. ia sebenarnya kangen melihat wajah tampan Lucas, karena semenjak kejadian Rania memergoki dirinya yang ada di ruangan Lucas Serly tak pernah bertemu sama Lucas karena ancaman Hendrik.


Tak terasa siang sudah berganti malam, pasangan pasutri muda itu baru saja habis mandi. Lucas harus membujuk Rania supaya mau mandi, padahal biasanya istrinya itu sangat rajin yang namanya mandi. tapi sekarang, entah kenapa ia sangat malas.


Keduanya turun menuju ruang makan, tangan Lucas tak melepaskan tangan Rania. Lucas tahu kalau Serly akan memperhatikannya. tiba di meja makan hanya ada bu Renata sama Serly karena pak Bambang sedang meninjau kantor cabang di luar kota.


"Sayang, sini duduk,"bu Renata langsung menuntun Rania duduk di atas kursi.


"Iya ma, makasih,"Rania tersenyum, ia merasa aneh karena perlakuan bu Renata yang berlebihan.


CK berlebihan banget sih, sengaja mau pamer karena ada gue, dasar pembantu kampungan, awas aja suami lo bakal gue ambil.


Serly menyeringai, ia tersenyum sinis sama Rania. entah apa yanga ia rencanakan kali ini.


Semuanya menikmati makan malam dengan hening, selain karena kebiasaan tak boleh ada yang bicara ketika makan.

__ADS_1


Setelah selesai makan, Lucas membawa laptop sama berkas yang tadi ia simpan di ruang kerja papanya kedalam kamar. kali ini ia akan bekerja sambil menemani istrinya.


__ADS_2