Dinikahi Majikan

Dinikahi Majikan
part 68


__ADS_3

Sesampainya di kantor, suasana sudah mulai lenggang karena semua karyawan sudah memulai aktivitas di bagian masing-masing. sebenarnya Lucas enggan untuk datang ke kantor, dia yakin kalau oma Ratna pasti masih ada di ruangannya.


Lucas menggandeng tangan Rania memasuki lift menuju ruangannya. tangan Lucas tak lepas dari tautan jari istrinya semenjak turun dari mobil. seolah ingin menunjukan kalau mereka saling memiliki. terlebih cobaan apapun dalam perjalanan rumah tangganya. Lucas keluar dari dalam lift sambil merangkul bahu Rania.


"Bos, lama bener sih datangnya,"baru beberapa langkah mereka sudah dikejutkan dengan suara Hendrik yang sedang berjalan ke arahnya.


"Baru juga telat sekali, udah marah-marah kaya cewek lagi pms aja,"Lucas mendengus sambil melanjutkan langkahnya.


"Gimana, gak marah-marah, nenek lampir sudah dari tadi mengacau di ruangan gue,"ketus Lucas.


"Itu derita lo, mending lo pacarin deh tuh cewek gila. gedek gue lihat dia lama-lama,"Lucas masih menggandeng Rania membuka pintu ruang kerjanya.


"Mending jomblo selamanya gue, daripada harus nikah sama mak lampir,"ucap Hendrik.


Serly langsung bangkit dari duduknya begitu melihat Lucas, senyum yang tadi menghiasi bibirnya langsung surut begitu melihat Rania berdiri di samping Lucas. tadi dia tak melihatnya karena badan Rania tertutup badan Lucas yang menjulang tinggi.


"Luc, ngapain sih pembantu ini ikut ke kantor segala, dia itu pantasnya diam di rumah beres-beres, sok banget ikut ke kantor segala,"Serly menatap dengan sinis ke arah Rania.


"Aduh, kok pagi-pagi udah merinding sih, ada denger suara, tapi gak orangnya,"Rania pura-pura merinding di samping Lucas.


"Heh, maksud lo apa, dasar kampungan,"Serly mengulurkan tangannya hendak mencakar wajah Rania. tapi dengan cepat Lucas mendorongnya sampai jatuh di atas lantai.


Hendrik melipat tangannya di atas dada, dia tersenyum melihat Rania yang tidak mudah di tindas.


"Sekali lagi lo berani nyentuh istri gue, habis riwayat lo,"Lucas menunjuk wajah Serly.


"Kamu, tega Luc, aku bakal bilangin sama oma,"sungut Rania sambil berdiri.


"Silahkan ngadu, dasar tidak tahu diri!"Lucas menarik Rania menuju kursi tempat kerjanya.


"Aku, bakal pastikan kalau pembantu kampungan ini akan menderita, hidupnya tidak akan tenang!"Serly menunjuk wajah Rania, setelah itu dia berjalan menuju pintu keluar.


"Gue, pastikan lo gak akan bisa melakukan apapun sama adik gue,"Hendrik membentak Serly yang tangannya sudah memutar handle pintu.


"Hah, gue gak salah denger, sejak kapan pembantu kampungan itu menjadi adik cowok sekeren lo,"Serly menyeringai ke arah Hendrik, dirinya menghentikan gerakan tangan yang hendak membuka pintu.


"Rania itu, perempuan baik-baik. gak kaya lo yang gak punya etika,"ucap Hendrik.


"Percuma ngomong sama orang yang sudah diguna-guna, pasti pembantu kampungan itu main dukun, supaya bisa menggaet semua laki-laki kaya,"Serly tersenyum sinis.


Mendengar ucapan Serly, Rania melangkah tapi tangannya langsung ditarik sama Lucas sampai badannya mendarat di atas pangkuan Lucas.

__ADS_1


"Biarkan, Hendrik yang mengurusnya yang. kita lihatin aja,"Lucas memeluk perut istrinya.


"Tapi, aku gak terima sayang, dia bilang aku pakai guna-guna,"Rania merengut.


"Aku, ngerti banget sayang. biarkan ajalah namanya juga wanita gila,"bisik Lucas. matanya menatap lurus sama dua orang yang sedang berdebat di dekat pintu.


Sementara Serly sama Hendrik masih berdebat, mereka sampai tak sadar kalau dua orang sedang memperhatikan sambil bermesraan.


"Aku gak terima, aku bakal pastikan pembantu kampungan itu menderita, terus kamu bakal ditendang dari perusahaan!"bentak Serly, setelah itu dia keluar sambil membanting pintu dengan kencang.


Hendrik langsung duduk di atas sofa, rasanya badannya langsung lemas gara-gara bertengkar sama Serly.


"Hahahaha.... lo keren banget Hen, nanti gue kasih bonus lima kali lipat deh,"Lucas tertawa lebar melihat keadaan Hendrik.


"Heran gue, kok ada wanita seperti itu ya,"Hendrik geleng-geleng kepala mengingat bagaimana gilanya Serly.


"Jangan-jangan dia jodoh elu, jangan terlalu benci,"ucap Lucas.


"Ogah, eh Rania, kenapa tidak ke kampus? jangan-jangan laki-laki posesif itu memaksa kamu supaya ikut ke sini,"Hendrik menatap Rania yang sedang berjalan mendekatinya.


"Aku, gak ada kelas hari ini, mas Hendrik,"Rania menjatuhkan tubuhnya di atas sofa.


"Posesif juga sama istri sendiri, makanya cari pacar biar bisa merasakan jatuh cinta. dasar jomblo!"Lucas melemparkan pulpen tepat mengenai dahi Hendrik.


"Yang, kamu punya teman gak yang single?"Lucas menatap Rania.


"Mau apa? selingkuh,"Rania melotot sama Lucas.


"Bukan, buat jomblo, biar gak ganggu kita,"Lucas melirik Hendrik dengan ujung matanya.


"Ada, tapi janda,"Rania tersenyum geli.


"Janda? boleh juga, asal berkualitas aja,"Hendrik terkekeh dengan ucapannya sendiri.


"Ibu ratu hahahaha...."Rania tertawa lepas sambil menatap Hendrik yang mengerjapkan matanya.


"Ibu ratu, siapa sih?"Hendrik melirik Lucas.


"Mertua gue,"jawab Lucas.


"Serius, Ran ibu kamu itu yang pakai baju putih pas kamu nikah bukan?"Hendrik menatap Rania yang duduk di dekatnya.

__ADS_1


"Iya, kenapa? naksir sama ibu ratu?"Rania menaik turunkan alisnya.


"Kenapa dipanggil ibu ratu?"Hendrik balik malah balik nanya.


"Ya, karena kebiasaan aja, lagian ibu aku emang cantik gak jauh beda sama aku,"Rania mengangkat dagunya dengan jari.


"Setuju, kamu emang cantik. cantik banget malah,"Hendrik mengedipkan matanya pada Rania.


"Heh! kerja sana, malah gombalin istri orang,"Lucas bangkit dari duduknya. lalu memeluk Rania dengan erat seakan takut diambil orang.


"Dasar, lebay, gitu aja gak boleh, posesif,"Hendrik mendelik melihat kelakuan bosnya.


"Makanya nikah, biar bisa meluk istri,"Lucas malah menjulurkan lidahnya ke arah Hendrik.


Rania bergidik melihat kelakuan suaminya yang ke kanak-kanakan. wibawanya langsung jatuh saat itu juga. untungnya cuma ada mereka bertiga di ruangan itu.


"Mending gue kerja, daripada jadi obat nyamuk. ingat, oma urusanmu bos,"Hendrik berbalik menatap Lucas.


"Iya, udah sana minggat,"Lucas menatap tajam Hendrik.


"Ran, nanti temenin mas makan siang,"Hendrik kembali mengedipkan matanya genit, dia senagaja memanas-manasi Lucas.


"Jangan harap!"Lucas yang menjawab bukannya Rania.


Setelah Hendrik keluar, ruangan itu langsung hening. Lucas sama Rania sama-sama bungkam, mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing. apalagi Rania, dia sudah berpikir pasti akan dapat kemarahan dari oma karena kejadian barusan.


"Sayang, kamu jangan takut ya, aku gak akan biarkan siapapun menyakiti kamu,"Lucas mengerti dengan pikiran istrinya.


"Tapi, aku takut sayang, apa oma bakal marah banget sama aku?"akhirnya Rania mengeluarkan ketakutan yang ada di pikirannya.


"Kamu, tenang. aku yang akan menghadapi oma,"Lucas mengusap kepala Rania.


"Iya, tadi oma kan bareng sama tante Serly. tapi, kenapa gak ada di kantor?"Rania mengangkat wajahnya, lalu menatap Lucas.


"Mungkin, oma pulang sayang. udahlah jangan banyak pikiran, nanti sakit sayang, terus gak bisa kasih aku jatah,"Lucas mencuri satu ciuman di pipi Rania.


"Dasar, tuan mesum,"Rania mencubit tangan suaminya. bibirnya membentuk senyuman yang sangat manis menurut Lucas.


"Udah, kerja sana. aku mau baca novel dulu,"Rania mendorong badan Lucas yang masih nempel padanya.


"Gak, aku maunya meluk kamu terus,"Lucas malah mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


Maaf, gak up dua hari ya, aku sakit kemarin. jangan lupa like, komen, vote nya juga dong


__ADS_2