Dinikahi Majikan

Dinikahi Majikan
part 99


__ADS_3

Acara beres-beres villa akhirnya selesai, tetangga yang membantu sedang makan, termasuk Rania sama suaminya juga ikut makan.


Mereka tak hentinya memuji Lucas, ternyata selain tampan ia juga sangat ramah sama orang lain. awalnya mereka pikir Lucas itu sombong karena wajahnya terlihat dingin, tapi setelah kenal lebih dekat orangnya sangat baik.


"Ran, kamu beruntung banget punya suami seperti pak Lucas, udah ganteng, baik, perhatian banget sama istri juga mertua. kira-kira di kota masih ada gak ya laki-laki yang kaya gini?"tanya salah satu ibu-ibu.


Lucas tersenyum ketika mendengar ucapan tetangga istrinya itu, lalu kembali fokus menyuapi Rania.


"gawk, tawuu bu, kayanya cuma satu deh yang kaya gini,"ucap Rania dengan mulut penuh makanan.


"Telan, dulu sayang, baru bicara!"Lucas menyodorkan gelas berisi air putih ke mulut Rania.


"Iya, maaf, kamu juga makan dong yang,"Rania mengambil alih sendok dari tangan Lucas, terus gantian menyuapi Lucas.


"Kalian itu, bisa gak, bermesraan nya nanti aja di kamar, ibu jadi gak fokus mau menyuapkan makanan,"celetuk bu Lilis.


"Gak, bisa, kita bermesraan nya di manapun, kapan pun ada kesempatan, apalagi ada yang ngiler lihat kita, iyakan sayang?"Rania menggoda ibunya. dasar anak sama ibu itu ya.


"Maneh, kabita, Lis?(kamu, tertarik, Lis)"tanya bik Rum tetangga yang rumahnya dekat bik Tuti itu.


"Ah, ya enggak, atuh bik Rum, say sudah tua. masa tertarik bermesraan, lagian gak ada juga yang mau,"bu Lilis melengos karena malu. padahal tadi ia cuma menggoda anak sama menantunya.


Lucas cuma mendengarkan candaan istri sama ibu mertuanya, seperti biasa kalau sudah mengobrol, ibu sama anak itu selalu klop, apalagi sekarang ditambah sama tetangganya. tambah seru aja, lumayan ada hiburan sejenak. biasanya ia akan pusing kalau menghadapi semua rutinitas kerjaan yang sangat menyita waktu sama pikirannya, tapi sekarang ia merasa bebas tanpa itu semua, biarlah Hendrik pusing sendiri di kantor.

__ADS_1


Sore harinya, Lucas mengajak Rania melihat villa pak Bambang yang akan dijadikan tempat acara syukuran empat bulanan sekaligus syukuran beresnya villa itu.


"Sayang, aku pulang dulu ke rumah ibu sebentar ya, mau ngambil jaket, soalnya di sana tempatnya lebih dingin,"ucap Rania.


Bu Lilis sama yang lainnya sudah lebih dulu pulang, tinggal mereka berdua yang tersisa di villa itu.


"Aku, antar aja, ya,"saran Lucas, ia takut istrinya itu kenapa-napa kalau pulangnya sendirian, meskipun rumah ibu mertuanya tak jauh juga ini merupakan kampung tempat istrinya dulu tinggal, tetap saja ia tak tenang.


"Gak, kamu tunggu aja di sini, lagian dekat juga, dulu aku sering ke sini, waktu ibu kerja,"Rania menolak, ia merasa kasian sama Lucas. kalau dirinya sudah biasa bolak balik sedangkan Lucas enggak.


"Tapi, kamu hati-hati ya, kalau ada apa-apa langsung telpon aku,"


"Iya, aku pergi sekarang ya, gak lama kok,"Rania berdiri dari duduknya.


Rani langsung mengecup sekilas bibir suaminya, kalau menolak suaminya itu akan terus menahan dirinya, karena belum mendapatkan yang ia mau.


Lucas mengusap bibir yang habis dikecup istrinya, jujur saja udara kota Bandung yang dingin, membuat dirinya selalu ingin memeluk sang istri.


Rania berjalan menuju rumah ibunya, melewati jalan yang tadi.


Semoga saja gak ketemu orang-orang itu, rasanya tiap dia bicara gak pernah dipikir dulu, asal keluar terus mereka puas.


Rupanya, keadaan tidak berpihak padanya. ketika ia melewati rumah pak Ridwan, bu Reni seperti sedang menunggu dirinya, entah itu benar atau enggak, tapi pikiran Rania pasti akan mengganggunya kembali.

__ADS_1


"Rania, saya bisa bicara sebentar sama kamu?"tanya bu Reni, benar saja, ia langsung menghampiri Rania yang sedang berjalan.


"Bicara apa? saya lagi buru-buru bu, bisa besok atau gak jadi, bicaranya?"tanya Rania, ia tak boleh takut, sekarang ada suami yang akan membelanya, dirinya juga sudah merasa harus bersikap tegas sama keluarga kaya itu.


"Adalah, kita duduk sebentar, cuma beberapa menit, saja janji!"ucapnya. lalu menarik tangan Rania sedikit keras menuju kursi yang ada di teras rumahnya.


"Janji, cuma sebentar ya bu, sekarang waktu saya sangat berharga,"Rania melepaskan tangan bu Reni yang berusaha menarik tangannya.


"Sok-sokan kamu, baru kaya hasil tebar pesona juga!"sentaknya.


"Enak aja! saya tak pernah tebar pesona bu, karena tanpa tebar pesona pun, suami saya sudah terpesona dengan saya,"kata Rania dengan percaya diri.


"Gak, usah sombong! saya sebenarnya ada penawaran buat kamu,"bu Reni menatap Rania dengan serius.


"Penawaran? maksudnya, saya tak mengerti,"tanya Rania, ia menautkan alisnya.


"Eum...saya tahu, kamu dulu suka kan sama Kevin, yang sekarang menjadi tunangan anak saya Violla,"ucapnya. matanya masih menatap lekat wajah Rania yang semakin cantik menurutnya.


"Kata siapa?"


"Adalah, cuma ya, orang tuanya Kevin gak setuju kalau anaknya menikah sama orang miskin kaya kamu, makanya mereka menjodohkan sama Violla,"jawabnya.


"Terus?"Rania ingin tahu penawaran apa yang akan diajukan orang kaya sombong itu.

__ADS_1


"Eum, saya.......


__ADS_2