Dinikahi Majikan

Dinikahi Majikan
part 77


__ADS_3

"Perkenalkan nama saya Viola anggraeni, semoga kita bisa berteman semuanya,"gadis manis itu memperkenalkan dirinya.


"Baik, kamu duduk di bangku yang kosong Viola,"Kevin mempersilahkan Viola duduk.


Rania memalingkan wajahnya ketika Viola melewatinya. ia langsung duduk di belakang Rania karena kebetulan kosong.


Pelajaran langsung di mulai setelah itu. Viola beberapa kali menatap Rania, ia tadi tidak terlalu jelas melihat, ketika melewati tempat duduknya.


"Pasti, mata gue salah lihat, gak mungkin orang miskin kaya Rania bisa kuliah di kampus mahal kaya gini. lagian kata mama dia sudah jadi pembantu di jakarta. memang pantasnya jadi babu,"batin Viola.


Perasaan Rania bertambah tak enak karena kedatangan Viola, ia takut kalau Viola akan membuat masalah seperti waktu sekolah dulu. apalagi badannya yang sejak pagi sudah tak enak. perutnya mual ditambah kepalanya sangat pusing.


Pelajaran sudah selesai beberapa menit yang lalu, untungnya tak ada tugas yang harus mereka kerjakan, jadi Rania bisa bebas dari Kevin untuk sementara karena tak ada alasan untuk meminta ke ruangannya seperti biasanya.


Hampir semua sudah pada keluar dari dalam kelas begitu juga dengan Viola, kecurigaannya ia simpan karena merasa tak mungkin kalau Rania bisa kuliah di kampus itu.


"Ran, lo kenapa sih? dari tadi gak semangat banget perasaan,"Firda sudah memasukan buku serta alat tulis lainnya ke dalam tas. matanya melirik ke sampingnya dimana Rania masih diam.


"Aku, gak enak badan Fir, bisa ijinin gak setelah ini gak bisa ikut kelas,"lirih Rania.


"Bisa, terus sekarang mau gimana? minta sopir lo jemput aja. biar istirahat di rumah,"Firda membantu memasukan peralatan Rania ke dalam tasnya.


"Aku, naik taksi aja deh, pusing banget perasaan nih kepala,"tangannya memijit pelipis.


"Sejak kapan? muka lo juga pucat banget, jangan-jangan lo hamil Ran,"ucap Firda.


Mendengar ucapan sahabatnya, kening Rania mengernyit. pikirannya langsung melayang jauh mengingat kapan ia terakhir datang bulan.


Beneran, aku udah telat dua minggu, gimana dong, aku harus tanya sama mama.


"Ran, lo kenapa malah melamun? jadi pulang gak ?"ucapan Firda langsung menyadarkan Rania dari lamunannya.


"Iya, jadi Firda, maaf ya aku ngerepotin kamu,"Rania mengambil tasnya dari atas meja.


"Kita sahabat, gak ada bahasa ngerepotin lah, yu gue anterin kedepannya sekalian nyari taksi,"Firda merebut tas dari tangan Rania.


"Makasih Fir,"

__ADS_1


"Gue, yakin kalau lo hamil Ran, jangan lupa kabarin gue kalau udah periksa ya,"Firda mengantar Rania keluar dari kelas menuju gerbang kampus.


"Belum tentu, paling aku kecapean Firda,"keduanya berdiri di pinggir jalan menunggu taksi online yang sudah Rania pesan.


Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya taksinya datang tepat di depan Rania juga Firda, temannya itu kekeh menemani dirinya sampai taksi benar-benar datang.


"Kamu, hati-hati ya Ran, kalau udah sampai kabari aku,"ucap Firda setelah Rania masuk ke dalam mobil.


"Iya, makasih udah nemenin aku, sana masuk, sebentar lagi kelas dimulai,"Rania menutup pintu mobil.


"Pak, saya titip teman saya ya, antarkan sampai rumahnya dengan selamat,"ucap Firda sama sopir taksi.


"Iya, neng, pasti saya antarkan dengan selamat sampai tujuan,"sahut sopir taksi.


Mobil mulai melaju meninggalkan area kampus. Rania sengaja memilih pulang ke rumah mama mertuanya. selain karena sudah agak lama tak mengunjunginya karena jadwal dirinya yang lumayan padat, ia juga mau bertanya tentang ucapan sahabatnya tadi.


"Kalau beneran aku hamil, apa Lucas akan senang atau justru tak akan menerima, selama ini kita tak ada omongan tentang masalah anak.apa dia tidak menginginkan anak ya?


Pikirannya terus memikirkan masalah itu, ia takut, senang, semuanya campur aduk membuat kepalanya bertambah pusing.


Setelah menempuh perjalanan 45 menit, akhirnya ia sampai di rumah mertuanya. Rania turun dari dalam taksi lalu memasuki halaman rumah mama mertuanya. seperti biasanya para pekerja yang sedang bertugas menyapa dirinya dengan ramah.


"Waalaikumsalam Rania,"mba Yanti menjawab salamnya.


"Mba, apa kabar?"Rania menghampiri mba Yanti yang sedang mengelap meja ruang tamu.


"Baik, kamu, kenapa jarang kesini, den Lucas juga sama,"tanya mba Yanti.


"Aku, sibuk, Lucas juga sama mba, mama sama oma mana mba?"Rania celingukan mencari mama mertuanya.


"Ibu, tadi ada di taman belang. kalau oma udah dua hari di tempat bu Lidya,"jelas mba Yanti.


"Oh, aku, nyari mama dulu ya mba,"


"Iya, kayanya ibu juga sudah kangen sama kamu, kemarin bilang mau ke apartemen kamu,"ucap mba Yanti.


Rania berjalan menuju taman belakang yang dibilang mba Yanti. sampai di sana terlihat mama mertuanya sedang duduk di atas bangku yang tersedia di taman itu, cuacanya sangat sejuk karena terdapat beberapa pohon yang rindang juga bunga yang tumbuh subur.

__ADS_1


"Mama, lagi apa di sini?"Rania menyapa bu Renata.


"Ah, mantu cantik mama, kapan datang nak?"bu Renata menoleh kebelakang.


"Baru aja, lagi apa mama di sini?"Rania mencium punggung tangan bu Renata lalu mereka berpelukan.


"Mama, kesepian Ran, oma yang biasanya cerewet lagi ke rumah tante Lidya,"jawab bu Renata.


Keduanya duduk di atas bangku panjang.


"Maaf ma, aku jarang ke sini, sekarang lagi banyak tugas di kampus,"Rania merasa kasian sama bu Renata.


"Iya, kemarin mama telpon suami kamu, katanya kamu sangat sibuk, jadi, belum bisa ke sini,"kata bu Renata.


"Iya, oh iya ma, ada yang mau aku tanyakan sama mama,"Rania ingat tujuannya datang ke rumah mama mertuanya.


"Tanya, apa Ran? kenapa wajah kamu pucat, apa belum makan?"bu Renata baru menatap jelas wajah menantu kesayangannya.


"Hah, masa sih ma? emang belum makan nasi dari pagi, tadi cuma sarapan roti sedikit,"papar Rania.


"Pantesan, ya udah yu masuk, kamu makan dulu, takutnya nanti malah sakit,"bu Renata menggandeng tangan Rania memasuki rumah.


"Jadi, apa yang mau kamu tanyakan Ran?"keduanya sudah berada di meja makan menunggu mba Yanti menyajikan makanan.


"Aku, udah telat datang bulan ma, teru...


"Hah, kamu serius Ran, mama bakal punya cucu, ya ampun mama senang banget, ah mama harus telpon papa nih buat ngabarin berita bahagia ini,"bu Renata sangat antusias begitu mendengar ucapan Rania. padahal Rania sendiri belum yakin kalau dirinya sudah isi.


"Ma, tapi itu belum pasti, aku baru telat dua minggu. siapa tahu karena kecapean jadi datang bulannya gak teratur,"ucap Rania dengan hati-hati. ia takut mertuanya akan kecewa kalau dirinya belum hamil, apalagi melihat bu Renata sangat antusias.


"Mama, yakin, kalau kamu hamil Ran, sebentar ya mama mau beli testpack dulu ke apotik,"bu Renata bangkit dari duduknya.


"Ma, kenapa, gak minta tolong pak Mono aja,"tanya Rania.


"Enggak, mama mau beli langsung, gak akan nyuruh orang. kamu mau dibeliin apa Ran?"tanyanya.


"Ah, enggak ma, aku gak mau apa-apa,"Rania meringis melihat mama mertuanya yang sangat perhatian.

__ADS_1


Maaf gaje ya part ini, jangan lupa komen, like, vote nya juga🤗🤗


__ADS_2