Dinikahi Majikan

Dinikahi Majikan
part 140


__ADS_3

Lucas mengemudikan mobilnya dengan pikiran yang kacau, ia masih kepikiran dengan semua kenyataan yang baru saja ia dapatkan.


Ketika Lucas sedang kalut, tiba-tiba mobilnya hilang kendali rema mobilnya blong, padahal sedari ia pulang dari kantor mobil itu baik-baik saja tak ada kendala sedikitpun, mobilnya melaju tanpa bisa ia kendalikan hingga akhirnya menabrak pembatas jalan yang ada didekatnya, mobilnya berguling beberapa meter, Lucas tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri, kepalanya membentur setir juga wajahnya terkena beberapa serpihan kaca mobil yang pecah.


Melihat kejadian itu banyak warga yang langsung menolong dan membawa ke rumah sakit terdekat, Lucas harus menjalani operasi pada bagian kepala, ia juga banyak kehilangan darah karena luka-luka yang lumayan parah.


Bibi Tuti yang mendapat telepon dari rumah sakit langsung datang ke rumah sakit untuk melihat keadaan putra majikannya itu, mau tak mau dirinya yang harus menggantikan kedua orang tua Lucas yang sedang berada diluar kota.


Ketika sampai di rumah sakit, bik Tuti langsung bertanya sama bagian informasi, setelah mendapatkan penjelasan bik Tuti langsung berlari ke UGD untuk melihat kondisi Lucas. tak berapa lama dokter langsung keluar dari dalam.


"Anda keluarga pasien yang baru datang karena kecelakaan?"Dokter laki-laki itu bertanya sama bik Tuti yang sedang mondar mandir di depan UGD.


"Iya dokter, dia putra majikan saya, bagaimana ke adaan nya sekarang?"tanya bik Tuti.


"Apa orang tuanya bisa datang? saya memerlukan tanda tangannya buat persetujuan operasi, lukanya cukup parah, pasien juga kehilangan banyak darah, jadi memerlukan transfusi darah,"jelas Dokter.


Mendengar semua penjelasan dokter, bibi langsung lemas walau bagaimanapun ia menyayangi putra majikannya itu seperti anak kandungnya, sekarang ia bingung harus berbuat apa.

__ADS_1


"Biar saya yang tanda tangan Dok, orang tuanya sedang berada diluar kota, jadi tak mungkin kalaupun sekarang pulang langsung sampai, buat darah apa di rumah sakit tidak ada stok darah yang cocok sama den Lucas?"Akhirnya bibi memberanikan diri mengambil keputusan besar itu, ia khawatir kalau menunggu majikannya datang bisa sampai besok baru datang.


"Baiklah, nanti ikut saya keruangan Dokter buat tanda tangan, untuk darah tadi saya bertanya sama suster, cuma tersedia satu labu, jadi kalau masih kurang gak susah bu,"


Bik Tuti langsung mengikuti Dokter menuju ruangannya, ia langsung menandatangani surat persetujuan operasi Lucas, ia juga memeriksa darah, apakah cocok atau tidak sama putra majikannya.


Setelah diperiksa kebetulan sekali bik Tuti golongan darahnya 0, jadi dia bisa mendonorkan darahnya sama golongan darah apapun atau disebut pendonor universal(seseorang yang memiliki golong darah O- dapat mendonorkan darahnya ke semua golongan darah. Hal ini membuat golongan darah O menjadi donor darah universal. semua darah memiliki antibodi berbeda yang seharusnya hanya mengenali komponen darah tertentu).


Akhirnya setelah menunggu beberapa jam dengan perasaan tak menentu, bik Tuti bisa bernafas lega saat Dokter memberi kabar kalau operasi Lucas sudah selesai dengan sukses.


Lucas keluar dari ruang operasi menuju ruang perawatan, air mata bik Tuti mengalir deras ketika melihat keadaan putra majikannya, kepala yang biasanya ditumbuhi rambut hitam yang lebat sekarang gundul tak ada sehelai rambut pun, Dokter memotongnya mungkin karena luka bagian kepala yang sangat parah. satu tangan sudah dibalut perban juga bagian tubuh lain yang penuh luka. malam itu bik Tuti menginap di rumah sakit menemani Lucas yang masih belum sadarkan diri.


Bik tuti yang baru bisa memejamkan mata ketika dini hari langsung bangun ketika mendengar tangisan yang menyayat hati itu.


"Ibu, bapak, maaf bibi ketiduran tadi."Bik Tuti langsung mendekat ke arah majikannya.


"Gak papa bi, terima kasih karena sudah menjaga Lucas, pasti bibi capek semalaman menjaga Lucas kan,"lirih pak Bambang.

__ADS_1


"Bibi, gak capek pak, cuma semalam gak bisa tidur karena menunggu den Lucas sadar terus butuh sesuatu, tapi sampai sekarang masih belum sadar juga, apa tidak bahaya pak?"


"Nanti akan saya tanyakan sama Dokter bi, tapi apa bibi bisa ceritakan dengan jelas bagaimana kejadiannya sampai bisa kaya gini?"


Bu Renata masih nangis tersedu-sedu sambil memeluk tubuh Lucas yang terdapat banyak luka itu, matanya masih tetap terpejam, ia seakan tak peduli dengan tangisan ibunya yang menyayat hati.


"Kalau kejadian detailnya bibi gak tahu, cuma semalam waktu bibi sedang menyiapkan makan malam buat den Lucas, ada telpon dari rumah sakit yang mengabarkan kalau den Lucas kecelakaan, bibi langsung datang kesini, terus melihat secara langsung, padahal awalnya bibi berharap Dokter itu salah orang, terus den Lucas sudah di rumah, tapi begitu melihat langsung bibi seakan mimpi pak, apalagi waktu dokter bilang harus operasi,"bibi menjeda ucapannya.


"Den Lucas juga kehilangan banyak darah, untungnya darah bibi cocok untuk donor sama den Lucas, jadi cepat bisa ditangani, maafkan bibi yang sudah lancang karena mengambil keputusan tanpa bertanya dulu, semalam bibi takut, bingung, akhirnya bibi menandatangani persetujuan operasi pak, sekali lagi bibi minta maaf,"jelas bibi panjang lebar.


"Bibi tidak usah minta maaf, terima kasih karena sudah bertindak cepat, terima kasih juga karena sudah mendonorkan darah buat Lucas, bibi boleh minta apa saja sama kami."Bu Renata yang sudah merasa lebih tenang langsung memeluk bik Tuti begitu mendengar cerita wanita paruh baya itu.


"Tidak usah bu, bibi senang karena den Lucas bisa diselamatkan meskipun masih belum sadar sampai sekarang."Bik Tuti membalas pelukan majikannya.


Pak Bambang mengusap air mata yang mengalir di pipinya, ia terenyuh karena kebaikan wanita itu. ia tak salah menganggap bik Tuti sebagai keluarga sendiri.


Akhirnya Dokter datang memeriksa keadaan Lucas, Dokter menyatakan Lucas koma karena masih tak merespon apalagi membuka mata setelah operasi, Dokter menyatakan ada kerusakan di bagian otak akibat kecelakaan tadi malam.

__ADS_1


Bu Renata seakan tak percaya dengan semua yang Dokter katakan, ia sampai tak sadarkan diri karena begitu syok mendengar anak kesayangannya koma.


Bik Tuti dengan setia selalu berada di samping majikannya, ia memberi semangat kepada bu Renata juga Lucas, bik Tuti meyakinkan kalau Lucas akan segera bangun, siang malam bu Renata selalu berdoa biar anaknya cepat kembali sadar dari komanya, berkat doa-doa itu Lucas akhirnya sadar setelah satu minggu koma, keluarganya langsung sujud syukur karena bahagia terutama bu Renata. ketika masa pemulihan bik Tuti memaksa bu Renata supaya istirahat di rumah, ia bersedia menjaga Lucas yang sudah berangsur membaik.


__ADS_2