Dinikahi Majikan

Dinikahi Majikan
part 118


__ADS_3

Aku up lagi nih, jangan lupa like, komen, vote juga ya selamat membaca, semoga suka.


"Apa orang tuamu tau apa yang kamu lakukan sama kaka kamu?"tanya Lucas. ia akhirnya merasa kesal sama anak SMA itu. sikapnya tak ada sopan santun sama sekali.


"Tidak, mereka lagi di luar negeri kak,"Firda yang menjawab. mungkin tadi Lucas tak terlalu menyimak karena panik merasakan perut istrinya keras.


"Jadi, kalau mereka ada, kamu tidak akan berani sampai kaya gini kan bocah?"Lucas menyeringai. ia kenal sama orang tua sahabat istrinya itu, karena mereka pernah menjalin kerja sama, tapi sekarang sudah tidak lagi karena suatu hal.


Fabian tidak menjawab, ia cuma menunduk karena memang itu kenyataannya. ia berani berani karena orang tuanya sedang tidak ada di rumah.


"Saya bisa laporkan semua kelakuan kamu sama mereka, saya jamin mereka akan langsung pulang begitu mendengar berita itu,"ucap Lucas dengan tenang. Rania menatap suaminya, ia tak mengerti kenapa Lucas bicara seperti itu, apa suaminya itu kenal sama orang tua sang sahabat, pikiran Rania menebak-nebak.


"Emang anda kenal orang tua saya? gak mungkin lah, saya tau pasti anda cuma mengada-ngada, supaya saya tidak mengganggu dia,"Fabian mencibir, ia yakin kalau Lucas cuma menggertak nya.


"Kamu meremehkan saya, papa kamu itu pernah kerja sama dengan perusahaan saya, dan saya masih nyimpan no beliau, mau bukti bocah ingusan, sok berani?"Lucas mengeluarkan ponsel dari sakunya.


Lucas mengotak-ngatik ponselnya sebentar, setelah mendapatkan yang ia maksud, Lucas menunjukan ponselnya pada Fabian.


"Lihat, ini no papa kamu kan?"Lucas menyeringai melihat wajah panik Fabian.

__ADS_1


"Saya, yakin kalau kamu takut kalau sampai orang tuamu tau apa yang kamu lakukan sama kakakmu, mereka akan marah, jadi, sekarang terserah kamu, mau bagaimana,"Lucas menyilang kan tangan di atas dada.


"Firda, kalau kamu mau bagaimana?"tanya Rania.


"Aku, tetep tidak akan kembali ke rumah itu Ran, setelah aku tau kalau aku cuma anak angkat, saat itu aku sadar kalau rumah itu bukan lagi tempat aku,"sahut Firda. ia masih menunduk sambil menautkan jari-jari tangannya.


"Oke, kamu sudah dengar ucapan kaka kamu kan, saya tekankan mulai sekarang, kalau kamu berani mengganggu dia. saya pastikan kamu akan menyesal!"Lucas menunjuk wajah Fabian.


Daniel menatap wajah Firda dengan dalam, entah kenapa perasaannya iba melihat nasib gadis di depannya, tapi disisi lain dia merasa kagum sama keberanian Firda untuk keluar dari rumah yang selama ini ditinggalinya itu, menurutnya orang yang sudah biasa hidup enak, terus tiba-tiba hidup susah itu pasti sangat berat.


"Bagaimana bocah, setuju?"tanya Daniel.


"Bagus, itu pilihan bagus, ingat bocah, kalau satu kali aja kamu kedapatan mengganggu kaka kamu, saya tidak akan tinggal diam. jangan merasa tenang, mata saya ad di mana-mana!"Lucas menatap tajam ke arah Fabian.


"Sudah, sana keluar. ingat janji kamu, kalau mau hidupmu baik-baik saja,"celetuk Daniel. ia menepuk bahu Fabian sebelum anak itu keluar dari sana.


"Firda, mulai sekarang kamu tenang ya, kalau adik kamu ganggu, bilang aja,"Rania menatap sahabatnya,"mending sekarang kamu ijin aja, baju kamu juga udah kotor tuh, kamu pulangnya bareng kita aja ya, boleh kan kak Daniel?"Rania meminta ijin sama Daniel.


"Eum... biar aku yang nganterin Firda, lagian kalian berlawan arah kan?"

__ADS_1


"Iya, ya udah kalau gitu bro, gue titip sahabat istri gue,"Lucas berdiri, ia mengulurkan tangannya pada Rania.


"Sip, beres!"Daniel mengangkat jempolnya.


"Firda, aku pulang dulu ya, kamu baik-baik, kalau ada waktu main ke rumah, oke,"Rania berpelukan sama Firda sebelum pergi dari ruangan itu.


Firda sangat canggung ketika hanya ada mereka di ruangan itu. sedangkan Daniel malah sibuk dengan ponsel pintarnya.


"Kamu, pulang sekarang?"Daniel akhirnya memecah keheningan diantara keduanya.


"Iya, pak, soalnya baju saya sudah kotor banget,"sahut Firda.


"Oke, saya akan antar kamu, silahkan,"Daniel berdiri lalu mempersilahkan Firda berjalan lebih dulu.


Akhirnya Firda berjalan lebih dulu, meskipun malu, tapi ia tak punya pilihan lain. apalagi sekarang badannya sudah tak nyaman karena baju yang kotor.


Begitu mereka keluar, semua orang yang ada di sana langsung memperhatikan keduanya, membuat Firda risih, ia terus menunduk tak berani mengangkat wajah.


Berbeda dari Firda, Daniel justru terlihat santai, seolah tak peduli dengan pandangan karyawannya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2