
Rania melepas pengaman yang membelit tubuhnya, ketika mobil suaminya sudah sampai di tempat biasa.
"Sayang, ingat kata-kata aku tadi ya. pokonya kamu jangan keluar kampus sebelum aku datang, harus tetep di tempat yang ramai,"kata-kata itu sudah berpuluh kali keluar dari mulut Lucas, entah kenapa ia takut mimpinya menjadi kenyataan.
"Iya, sayangku, cintaku, kamu udah bilang itu dari tadi loh. aku pasti ingat, kalau perlu aku jadi patung di tempat ramai,"ujar Rania dengan tawa.
"Nah, begitu lebih baik sayang, daripada kenapa-napa, nanti kalau udah selesai langsung telepon aku ya,"ucap Lucas, tangannya mengusap lembut pipi mulus Rania.
"Iya, aku masuk dulu, kamu hati-hati ya,"Rania mencium pipi Lucas sebelum benar-benar keluar dari mobil.
Setelah Rania keluar, Lucas segera menghubungi seseorang yang sudah ia tugaskan untuk menjaga Rania, tentunya tanpa sepengetahuan Rania, Lucas tahu kalau sampai Rania tau pasti akan menolaknya. Lucas juga sudah berbicara sama orang tuanya tentang hal itu dan mereka sangat setuju dengan penjagaan diam-diam itu.
Lucas melajukan mobilnya menuju kantornya, setelah memastikan orang yang bertugas menjaga Rania sudah berada di sekitar kampus, bahkan ia sengaja ikut menjadi mahasiswa supaya Rania tak curiga.
Rania tidak bisa fokus ketika sedang menyimak penjelasan dosen tentang manajemen perkantoran( perencanaan, pengawasan, pengorganisasian pekerja) tapi semua tak begitu masuk ke dalam otak Rani, perutnya sangat lapar, padahal tadi pagi ia sudah sarapan sebelum berangkat kuliah. sebisa mungkin dirinya harus menahan sampai nanti tiba waktu kelas selesai atau pergantian mata pelajaran.
Semenjak hamil Rania memang sangat mudah lapar, kadang ia malu sama Lucas kalau terus makan, tapi Lucas selalu senang, apalagi kalau dirinya memberikan makanan untuk sang istri dimakan sampai habis, ada kebahagiaan tersendiri yang ia rasakan.
"Ran, lo kenapa sih? sakit?"tanya Firda, ia merasa ada yang tak beres sama sahabatnya itu.
"Enggak, cuma aku lapar banget Firda, padahal tadi sudah sarapan nasih dua piring,"Rania menuliskan jawaban untuk sahabatnya itu di atas kertas, kalau bisik-bisik ia takut akan ketahuan sama dosen.
"Izin aja gimana? bilang kalau perut loe sakit, biar diizinin,"tulis Firda, lalau menggeser kertasnya kehadapan Rania.
"Enggaklah, kalau sakit beneran gimana? aku tahan aja sampai kelas selesai,"balas Rania pada tulisan Firda.
"Oke, nanti gue temenin ke kantin,"
__ADS_1
Akhirnya Rania berusaha nahan perutnya yang sudah keroncongan, ia sangat bersyukur dengan kehamilan yang tidak menyusahkan seperti kebanyakan orang, apalagi dirinya hamil sambil kuliah, tak terbayang kalau ia sampai muntah-muntah saat jam pelajaran. tapi tak bisa dipungkiri kalau ia merasa cepat lelah semenjak hamil.
Rania merasa sangat senang ketika waktu kelas sudah selesai, ia bisa makan sepuasnya sekarang tanpa harus menahan lapar seperti tadi. dengan semangat Rania segera membereskan laptop kedalam tasnya.
"Rania, kamu tungguin aku, ingat keselamatan kamu, nanti di bully lagi sama orang sok kaya itu,"Firda masih ingat saat dirinya tak menemani Rania makan di kantin Viola sama genk nya menghina Rania, meskipun Rania melawan tapi tetep ia takut terjadi apa-apa sama sahabatnya itu.
"Iya, makanya buruan dong beres-beresnya, ponakan kamu udah minta makan dari tadi,"ujar Rania.
Setelah selesai Firda menarik tangan Rania keluar dari kelas yang sudah sepi menuju kantin. sesampainya di sana suasana kantin sudah sangat ramai membuat kedua orang itu harus mencari tempat duduk yang masih kosong.
"Kamu, tunggu aku di sini ya, biar aku yang pesan. kamu mau makan apa?"tanyanya setelah mendapatkan tempat yang kosong buat keduanya duduk.
"Mie ayam, terus harus pedas banget ya,"jawab Rania, tangannya mengambil uang dari dalam tas lalu menyerahkan sama Firda.
"Jangan, nasi goreng aja gimana? ingat suami kamu melarang makan pedas kan,"Firda benar-benar harus menjaga Rania termasuk soal makanannya, Lucas memberikan uang yang tak sedikit untuknya sebagai imbalan telah menjaga Rania, meskipun ia sudah menolak karena itu sudah merupakan kewajiban karena dia sudah menganggap Rania sebagai saudara sendiri, apalagi saat tahu kalau dirinya cuma anak angkat orang tua yang selama ini tak pernah ia sangka.
***
Rania sudah berdiri di pinggir jalan menunggu Lucas yang sedang dalam perjalanan, ia menuruti ucapan suaminya kalau harus menunggu di tempat yang ramai. Firda sudah pulang lebih dulu karena ia mulai kerja part time di kantor salah satu kerabat orang tua angkatnya.
"Hei Rania, lagi nunggu suami tuanya ya,"tiba-tiba Viola sama kedua temannya datang mendekati Rania.
"Iya, kenapa?"Rania dengan tenang menjawab sapaan orang yang dari dulu selalu mengganggunya.
"Huh, dasar orang miskin, dinikahi laki-laki tua aja senang,"ucap Viola dengan sinis.
"Mending aku lah, daripada kamu. dari dulu ngejar-ngejar laki-laki yang sama sekali tak pernah menganggap mu,"kata Rania, kata-katanya sangat membuat Viola naik pitam.
__ADS_1
"Sekarang, lo makin berani ya sama gue, ingat! meskipun sekarang lo jadi orang kaya, tapi ibu lo yang di kampung itu masih miskin,bahkan rumahnya aja mau roboh, atau jangan-jangan lo cuma jadi simpan ya,"ledeknya diikuti tawa kedua temennya.
"Bisa jadi Vio, jaman sekarang apa-pun bakal dilakuin asal bisa hidup enak, beda sama lo yang udah kaya dari lahir,"kata Dewi
"Iyalah, dari dulu gue gak pernah kekurangan, apalagi sampai gak jajan waktu sekolah, berangkat sama pulangnya jalan kaki, kaya dia,"Viola menunjuk Rania.
"Buat apa kaya kalau cuma buat orang tua malu, aku bangga meskipun cuma anak janda miskin, tapi prestasi aku bisa buat bangga sekolah, gak kaya kamu cuma bikin ulah sampai-sampai orang tua kamu hampir tiap minggu dipanggil ke sekolah, untuk ada duit buat, kalau gak pasti udah dikeluarkan,"ucap Rania panjang lebar.
Wajah Viola merah padam mendengar ucapan Rania yang menurutnya kurang ajar, tangannya terangkat hendak menampar pipi Rania, tapi dengan sigap Rania menangkap tangan itu terus memelintirnya dengan kuat membuat Viola meringis.
Melihat itu kedua teman Viola maju hendak mendorong tubuh Rania, supaya tangannya terlepas dari tangan Viola. Rania yang melihat itu langsung memajukan kakinya hingga dua orang yang akan mendorongnya itu langsung jatuh tengkurep di atas trotoar.
"Ingat Viola, aku bukan Rania yang dulu. Rania yang selalu mengalah dan diam setiap kamu menindas aku, sekarang aku sudah berbeda, ingat itu!"Rania melepaskan tangan yang tadi memelintir pergelangan tangan Viola.
"Sayang, maaf aku telat. tadi macet ada kecelakaan di sana,"Lucas langsung keluar dari mobil ketika melihat Rania berhadapan sama Viola.
"Gak papa yang, oh iya kenalkan dia Viola. tetangga aku saat di Bandung,"Rania langsung memeluk tangan suaminya, seolah sedang pamer sama Viola yang tadi bilang kalau suaminya itu tua.
Mata Viola hampir keluar dari tempatnya, ketika melihat Lucas secara langsung. ia tak menyangka kalau Rania menikah sama orang setampan itu. selama ini ia cuma melihat mobil Lucas, karena Lucas tak pernah keluar dari mobil saat menjemput istrinya itu.
"Viola kak,"Viola mengulurkan tangannya pada Lucas.
"Saya Lucas! maaf, cuma istri saya yang boleh bersentuhan dengan kulit saya,"ucap Lucas, tanpa menatap lawan bicaranya.
"Kami duluan Viola! oh iya, bangunin tuh dayang-dayang kamu,"Rania meninggalkan Viola sambil tertawa.
Viola menggeram saat Rania berlalu dari hadapannya, matanya tak lepas dari dua sejoli yang terlihat sangat mesra itu, apalagi saat Lucas membukakan pintu buat Rania masuk hati sangat panas, Kevin yang selama ini menjadi tunangannya tak pernah mau bahkan sekedar mengantarnya pulang.
__ADS_1