Dinikahi Majikan

Dinikahi Majikan
part 06


__ADS_3

"Euh, iya bu Rania lupa. "Rania menepuk jidat nya, melihat kelakuan Rania sepasang suami istri itu tersenyum geli.


"Kata bik Tuti, kamu baru lulus sekolah, benar? "Tanya pak Bambang, matanya fokus memperhatikan Rania yang sedang menunduk di samping sang istri.


"Iya pak, benar. "Jawab Rania.


"Kenapa mau kerja menggantikan bik Tuti di sini, padahal yang saya dengar kamu itu pintar, selalu juara di sekolah, menurut saya kamu terlalu muda untuk kerja di sini."Nada suara pak Bambang terdengar serius juga datar, membuat Rania semakin gemetar.


"Pa, jangan kaya gitu, kasian Rania takut, dengar ucapan papa. "Bu Renata mendelik sama suaminya.


"Mama diam, papa lagi nanya Rania. "Ucap pak Bambang, tanpa mengalihkan pandangan nya dari Rania.


"Kamu tidak berniat meneruskan pendidikan kamu? kamu sanggup kerja di sini, jawab Rania. "Tanya Pak Bambang, nada nya tidak berubah tetap datar juga serius.


"Saya jawab yang mana dulu, tadi banyak banget pertanyaan nya pak? "Ucap Rania, wajah nya masih menunduk.


mendengar ucapan gadis itu, pasangan suami istri itu tidak bisa menahan tawa nya.


"Kenapa bapak, sama ibu ketawa, apa saya lucu? "Tanya Rania, ia memberanikan diri menatap wajah kedua majikan nya.


"Iya, kamu lucu sayang."Bu Renata mengusap rambut Rania yang masih melongo melihat ia sama suaminya tertawa. melihat wajah polosnya Rania membuat tawa keduanya tambah kencang memenuhi ruang makan luas itu.


"Ma, pa, kalian ngetawain apaan sih, sampai terdengar ke atas? "Tiba-tiba Lucas sudah berdiri di samping meja makan.


mendengar suara Lucas, sontak Rania memutar badan nya melihat pria jangkung itu.


"Bu, pa, saya permisi kebelakang dulu. "Ucap Rania, ia lalu bangkit dari duduk nya.


"Kamu sarapan sama kita di sini ya. "Bu Renata memegang tangan Rania yang akan berlalu kebelakang.

__ADS_1


"Tidak usah bu, saya mau bantu Wa Tuti di belakang, tadi kayanya sedang sibuk. "Ucap Rania, ekor matanya melihat ke arah Lucas.


"Kamu takut sama Lucas, Rania? "Tanya Bu Renata, ia dapat melihat Rania gelisah pas Lucas datang.


"E... engga bu, saya mau bantu Wa Tuti di belakang. "Jawab Rania gugup, sebenarnya ia takut sama Lucas karena kejadian di kamar tadi. ia takut kalau Lucas masih kesal sama dirinya.


"Ya udah ga papa, kamu memang anak rajin ya. "Bu Renata tersenyum manis.


"Ck, mama apaan sih muji-muji dia, kita belum tahu orang nya kaya gimana, baru sehari udah di puji selangit. "Lucas menarik kursi yang akan ia duduki dekat papa nya.


"Heh, emang benar ko kata-kata mama, Rania tuh sopan, cantik, rajin juga."Ucap mama Renata.


"Sudah-sudah, mending sekarang kita sarapan, kalau mama terus adu mulut sama anak, bisa ga jadi sarapan kita. "Pak Bambang menengahi perdebatan antara anak dan ibu.


akhirnya mereka bertiga makan dengan suasana hening, hanya dentingan sendok sama piring yang terdengar.


sementara di belakang, Rania sedang membantu bik Tuti mencuci peralatan dapur,yang habis di gunakan memasak, sementara yang lain nya sedang mengerjakan tugas masing, yang sudah menjadi rutinitas setiap harinya.


"Ran, tadi den Lucas ga susah kan,pas kamu bangunin? "Tanya bik Tuti, sekilas ia menoleh ke arah Rania yang sedang membereskan perabotan ke tempat nya.


"Susah Wa, mana dia bentak-bentak lagi, Rania kan takut wa. "Jawab Rania, bibirnya mengerucut lucu.


"Ah, masa bentak-bentak Ran? selama ini bibi tidak pernah tuh di bentak-bentak, emang mukanya kelihatan dingin sih, tapi den Lucas itu baik banget orang nya!"Bik Tuti memuji anak majikan nya.


"Itu kan sama Uwa, kalau sama aku beda lagi, Heh kamu siapa, kenapa ada di kamar saya. "Rania menirukan nada bicara Lucas yang tadi membentak nya.


"Haha ya maklum saja Ran, den Lucas kan baru melihat kamu, mungkin dia kaget karena tiba-tiba, ada perempuan cantik di kamarnya."Papar bik Tuti, ia sengaja memuji keponakan nya, ia akan berusaha membuat Rania betah kerja di rumah majikan nya.


"Aku emang cantik Wa, tapi masa malah di lempar pakai bantal, aku kesel banget, besok-besok Uwa aja yang bangunin, aku ga mau. "Ucap Rania,tangan nya mengetuk-ngetuk barang yang sedang ia pegang.

__ADS_1


"Heh, itu barang mahal, nanti rusak kalau kamu terus ketuk-ketuk kaya gitu, lagian jangan terlalu kesal sama orang, nanti malah jatuh cinta. "Bik Tuti merebut barang yang ada di tangan Rania.


"Hehehe aku ga sadar Wa, tidak akan lah wa, lagi pula aku mana pantas aku suka sama majikan sendiri, meskipun aku bercita-cita menikah sama orang kaya."Rania terkekeh.


"Cita-cita ko nikah sama orang kaya, cita-cita itu jadi Dokter, jadi bidan, atau yang lain,gitu lo Ran. "Bik Tuti geleng-geleng kepala mendengar cita-cita keponakan nya.


"Ya, kalau itu beda lagi Wa,kan kalau nikah sama orang kaya semua kemauan kita bakal terpenuhi wa, jadi aku mau punya suami tuh orang kaya hehehe. "Rania tertawa memperlihatkan deretan gigi putihnya.


"Iyain biar cepat,emang kamu udah siap buat nikah Ran? "Tanya bik Tuti, ia bertanya dengan serius.


"Ga tahu wa, aku kan masih kecil, pikiran aku juga masih labil, kadang mau nikah, padahal pacar aja ga punya, kadang masih mau sekolah,gitu lah wa kira-kira, pas bilang sama ibu aku mau nikah, masa aku mau di nikahkan sama juragan Beni coba, aku juga mikir sambil jumpalitan kali,biar pun kaya, tapi kan sudah tua. "Ucap Rania panjang lebar.


"Si Beni yang tukang nikah itu, emak kamu emang sableng, padahal dulu ia pernah melamar ibu kamu Ran, tapi ibu mu lebih milih bapak kamu. "Bik tuti mendengus mendengar cerita Rania.


"Rani, kamu bisa temani ibu belanja ga? "Tiba-tiba Bu Renata sudah ada di belakang mereka berdua.


Rania sama bik Tuti terkejut mendengar suara bu Renata, apalagi mereka berdua sedang fokus mengobrol, meskipun pekerjaan mereka sudah beres, tetep saja kepergok lagi ngobrol Uwa sama keponakan itu malu.


"Bisa bu, kapan ya? "Tanya Rania sopan.


"Sekarang aja, ibu tunggu di depan ya, kamu siap-siap dulu. "Jawab bu Renata.ia semakin menyukai Rania, karena sifat Rania yang ceria, lucu,juga sopan.


"Iya bu. "Ucap Rania, majikan nya itu berlalu meninggalkan dapur.


"Wa, aku harus gimana? "Tanya Rania polos.


"Gimana apanya, sekarang cepetan siap-siap, jangan sampai bu Renata menunggu terlalu lama. "Bik Tuti mendorong pelan bahu Rania.


like,vote,komen nya di tunggu ya😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2