
"Aku gak tega mau bangunin kamu, tadi kelihatan nyenyak banget tidurnya,"Rania menyandarkan kepalanya pada dada bidang Lucas.
"Sayang, pokonya, lain kali kalau kamu menginginkan sesuatu bilang ya, kalau kamu kepeleset gimana?"Lucas menggendong Rania ke atas tempat tidur.
"Berlebihan sayang, aku cuma ambil minum ke dapur kan, masa sampai bangunin kamu,"Rania mencari kenyamanan di pelukan Lucas.
"Aku gak keberatan sayang, sebisa mungkin aku akan memberikan yang kamu butuhkan, kamu udah susah-susah mengandung anak kita, masa aku diam aja saat kamu membutuhkan sesuatu. sekarang kita tidur lagi ya,"Lucas mencium kening Rania lalu mengeratkan pelukannya.
Rania memandangi wajah damai suaminya saat terlelap, pikirannya melayang kembali pada cerita yang Serly sampaikan tadi.
Apakah nanti, kamu bakal ninggalin aku sayang? aku bakal mempertahankan kamu apapun yang terjadi, apalagi sekarang ada benih kamu yang hadir di dalam sini. Rania mengusap perutnya.
"Sayang, kenapa belum tidur? kamu mikirin apaan sih?"Lucas membuka matanya, ia menatap Rania yang juga sedang menatapnya.
"Enggak, aku belum ngantuk lagi yang, kalau kamu ngantuk bobo lagi aja,"Rania mengusap wajah Lucas.
"Kamu, yakin sayang gak mikirin apa-apa?"Lucas masih belum percaya sama ucapan istrinya, ia merasa ada yang sedang Rania sembunyikan darinya.
"Yakin! yuk bobo lagi, besok aku masih harus ke kampus yang, terus kamu kerja kan besok?"Rania menarik selimutnya sampai batas dada, ia terlentang di samping Lucas.
Lucas menurut tangannya ia lingkarkan di atas perut istrinya yang sedikit menonjol, Rania tersenyum merasakan pelukan hangat sang suami yang sangat nyaman juga menenangkan.
Keduanya kembali terlelap dengan nyenyak, Rania membuang semua ketakutannya yang sejak tadi menghantui pikirannya, ia yakin kalau Lucas akan tetap berada di samping sampai kapan-pun.
Pagi menjelang, semuanya sudah duduk di atas kursi ruang makan, di atas meja sudah terhidang beberapa menu sarapan yang menggugah selera.
Seperti biasanya, Rania mengambilkan makanan buat suami terlebih dulu baru mengisi piring untuk dirinya sendiri.
"Lucas, kamu udah bicarakan sama istri kamu yang ayah bilang semalam?"tanya pak Bambang, ia menatap anak sama menantunya bergantian.
__ADS_1
"Udah pah, iyakan sayang?"Lucas melirik istrinya.
"Masalah apa?"tanya Rania bingung.
"Masalah kamu cuti kuliah sayang,"
Rania mangut-mangut mendengar ucapan Lucas, ia ingat obrolan semalam antara dirinya sama sang suami.
"Jadi, kamu setuju nak?"tanya pak Bambang.
"Iya, pah, aku setuju!"Rania mengangguk pasti dengan jawabannya.
"Syukurlah kalau kamu setuju sayang,"bu Renata mengeluarkan suaranya.
"Biar masalah cuti kamu, mama yang urus sayang. hari ini kamu terakhir ke kampus kan?"bu Renata menatap Rania intens.
"Iya, makasih mah,"
"Enggak mah, kita mau mandiri iyakan sayang?"Lucas meletakan sendoknya ke atas piring.
"Iya mah, kita bakal lebih sering main ke sini, apalagi kalau aku udah gak kuliah lagi,"Rania tersenyum sama mama mertuanya.
"Kasian kamu nanti, pasti kesepian di apartemen kalau sendirian sayang, atau kamu bawa aja Nadia buat nemenin kamu di sana?"tanya bu Renata, ia melirik Nadia yang sedang mengelap lemari yang ada di ruang keluarga.
"Enggak perlu mah, di sana udah ada orang yang bakal jadi teman istriku saat aku tinggal kerja,"Lucas cepat menolak permintaan mamanya, ia sudah melihat gelagat pembantu baru itu.
"Siapa?"tanya bu Renata, dahinya berkerut.
"Bik Marni, sekarang dia gak pulang pergi kaya dulu ma. aku sengaja minta bibi buat stay di apartemen semenjak Rania hamil,"papar Lucas.
__ADS_1
"Oh, bik Marni yang dulu kamu tugaskan buat bersihin apartemen kamu itu?"tanya bu Renata, sebenarnya ia belum pernah bertemu sama orangnya, tapi Lucas sudah memberitahunya dulu pas anak semata wayangnya itu membeli apartemen.
"Iya, sekarang bibi tinggal sama kita,"
Akhirnya sarapan selsai, suasana meja makan terasa sangat nyaman, biasanya Serly selalu ketus juga jutek sama Rania, tapi sekarang keduanya sudah akrab bagai kaka adik yang saling menyayangi. tapi sayangnya Serly akan segera kembali pulang ke negara tempatnya tinggal.
Seperti biasa Rania berangkat sama Lucas, sepanjang perjalanan keduanya diam, Lucas fokus pada jalanan di depannya, sedangkan Rania pikirannya melayang jauh memikirkan pacar suaminya yang dibilang sama Serly semalam.
"Sayang, kenapa diam saja? kamu sedih ya gara-gara sekarang hari terakhir kamu ke kampus?"Lucas melirik Rania, kebetulan lagi lampu merah jadi ia berhenti sejenak.
"Enggak, aku sama sekali gak sedih kok,"ucap Rania.
"Terus, kenapa diam aja yang?"Lucas melajukan mobilnya karena lampu udah berubah hijau.
"Gak papa, kamu juga diam aja dari tadi, masa aku bicara sendiri,"
"Kamu bicara saja, aku yang dengerin sayang,"
"Bicara apa?"Rania bingung, sebenarnya ia berniat bertanya tentang masa lalu suaminya yang sedang mengganggu pikirannya, tapi ia takut kalau jawaban Lucas akan menyakitkan.
"Apa aja sayang, biasanya juga bawel kan?"Lucas terkekeh.
"Huh, mana ada? aku pendiam gini kok,"Rania mencebikkan bibirnya pura-pura kesal.
"Pendiam saat tidur iya, kalau mata masih terbuka mana pernah diam cantik,"Lucas menyeringai.
"Itu fitnah bapak, nanti aku suruh puasa satu tahun mau?"Rania mendelik sama Lucas.
"Ampun ratu, hamba tidak kuat kalau harus puasa satu tahun. jangankan satu tahun satu malam saja susah banget!"Lucas pura-pura takut karena disuruh puasa satu tahun sama istrinya.
__ADS_1
"Hem, makanya jangan fitnah, bilang istrinya itu baik, cantik, lucu gitu, ini malah bilang bawel, gimana sih,"Rania mencibir.
Lucas tertawa kencang mendengar ucapan istrinya, kalau itu tidak usah disebutkan semua pembaca juga tahu kalau Rania itu seperti yang tadi dia sendiri bilang.