
"Namanya, bibi lupa non, mending non Rani lihat ke depan ya,"jawab bibi.
"Ya udah, tapi mangkuk itu biar aku yang cuci nanti ya, bibi istirahat aja,"Rania meletakan gelas bekas ia minum. setelah itu ia langsung menuju ruang tamu, hendak melihat tamu yang datang.
"Firdaaaa.... aku kangen banget sama kamu,"Rania langsung berlari begitu melihat sahabatnya itu sedang duduk di atas sofa.
"Hey, aku juga kangen sama kamu, maaf ya aku ganggu, datang gak bilang dulu,"Firda membalas pelukan Rania.
"Gak papa, aku senang banget kamu main ke sini, silahkan duduk fir, kamu mau minum apa?"tanya Rania.
"Apa aja, kalau perlu keluarkan semuanya Ran hahaha...."
"Boleh, sebentar aku minta tolong bibi buat bikinin minum dulu ya,"pamit Rania. ia langsung berjalan ke dapur.
"Ah bibi, kenapa dicuci, kasian bibi capek, biar aku aja bi,"Rania melihat bibi sedang mencuci mangkuk bekas salad buah.
"Gak papa, bibi dari tadi dim non, capek dari mana, tamunya siapa non?"
"Oh, itu teman aku bi, aku minta tolong bikinin minum sekalian sama cemilan juga ya bi,"
"Siap, bibi bikinin, non Rani tunggu di depan aja, kasian temennya sendirian,"
"Iya, makasih ya bi,"
"Sama-sama non,"
Rania kembali menemui Firda, keduanya melepas kangen dengan bercerita kegiatan masing-masing.
"Silahkan non, diminum ini juga cemilannya buat teman ngobrol,"kata bibi.
"Wah, makasih bi, semuanya keluarin bi, jarang-jarang saya main ke sini kan,"ucap Firda.
"Siap, tapi nanti mejanya gak bakal cukup atuh non, mending non...
"Saya Firda bik, lupa belum kenalan ya kita,"Firda meraih tangan wanita tua itu lalu mencium punggung tangannya.
"Saya Marniyanti, mending non Firda ambil sendiri saja, asal jangan dibawa pulang aja ya,"Bibi tertawa diikuti Rania juga Firda.
"Ah, kirain boleh dibawa bi, aku udah siap-siap bawa kantung keresek nih dari rumah,"
__ADS_1
"Kalau sampahnya boleh non, tapi kalau isinya jangan ya,"
"Hahaha... bibi ada-ada aja,"Rania memegangi perutnya yang sedikit sakit akibat tertawa.
"Yaudah, bibi kebelakang dulu ya non, kalau perlu apa-apa bilang aja,"
"Siap bi, kalau bisa bibi siapkan makanan yang banyak, mumpung aku bisa makan gratis, maklum anak kost lah,"teriak Firda, bibi mengacungkan jempolnya sambil berlalu.
"Kamu, serius Fir, terus orang tua kamu gimana?"Rania kaget mendengar ucapan Firda, ia kira waktu Firda akan ngekost itu cuma bercanda.
"Gimana apanya?"tanya Firda.
"Ya reaksinya, mereka masih diluar negeri kan?"
"Iya, mereka melarang, tapi aku benar-benar gak tahan kalau terus di rumah itu, Fabian selalu bilang kalau gue benalu Ran,"lirih Firda.
"Ya ampun, maafin aku Firda, kirain aku kamu baik-baik aja, setelah aku cuti kuliah, ternyata kamu mengalami masalah kaya gini, aku benar-benar gak tau,"Rania memeluk Firda. ia tau bagaimana kehidupan Firda pasti berat banget.
"Ga papa, kamu gak salah, awalnya aku mau cerita sama kamu, tapi gak enak sama kak Lucas,"
"Padahal tinggal cerita aja, Lucas juga pasti ngerti kok, terus sekarang uang sehari-hari darimana?"tanya Rania.
"Aku kerja part time Ran, lumayan lah buat uang bayar kost, cuma sekarang aku harus pintar-pintar ngatur uang yang sedikit,"jelas Firda.
"Kerja di salah satu restoran Ran, untungnya owner-nya baik banget, beliau ngerti kalau aku telat karena baru pulang kuliah, kan kadang jam kuliahnya gak nentu, tapi ada juga teman yang gak suka, katanya aku dianak emaskan sama beliau,"
Terlihat kesedihan dimata Firda, pasti ia menyimpan banyak beban selama ini. ia jadi merasa bersalah karena tak tau apa-apa tentang sahabatnya itu.
Lucas merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku. setelah kerjaan selesai, Lucas keluar dari ruang kerjanya. ia langsung menuju dapur, tenggorokannya terasa kering.
"Bibi, istri saya mana?"tanya Lucas. bibi langsung membalikan badan mendengar suara majikannya.
"Ah, ayam itu ayam,eh maaf den, kaget bibi. itu tadi lagi di depan den, ada temannya datang,"jawab bibi.
"Siapa bi? udah lama?"
"Namanya non Firda, lumayan lama sih den,"
"Oh, makasih bi, bibi teruskan kerjaannya,"ujar Lucas. ia langsung bergegas menuju ruang tamu.
__ADS_1
"Sayang, eh ada tamu?"Lucas langsung duduk di samping Rania.
"Sudah selesai kerjanya?"tanya balik Rania.
"Sudah sayang, kenapa gak bilang kalau ada tamu?"
"Maaf kak, aku ganggu kalian ya,"Firda merasa tak enak karena bertamu tak bilang dulu, ia juga baru tau kalau Rania baru datang dari kampung.
"Ngga, kamu apa kabar, gimana kuliahnya lancar?"tanya Lucas. wajahnya datar tak seperti bicara sama Rania, kelihatan penuh cinta.
"Baik, kuliahnya lancar kak,"
Setelah basa-basi sebentar, akhirnya Firda pamit untuk pulang, ia merasa canggung karena ada Lucas. jadi mau cerita apa-apa gak enak.
"Lain kali main lagi ya, kamu jangan terlalu capek Fir, pikirin kesehatan juga. kalau ada apa-apa jangan sungkan bilang sama aku,"ucap Rania.
Keduanya berpelukan sebelum ojek online yang Firda pesan datang.
"Iya, kamu juga Ran, jaga ponakan aku baik-baik ya, lain kali aku main kalau gak ada suami kamu,"
"Kenapa deh, Lucas baik tau,"
"Iya, tapi aku canggung kalau ada dia, sungkan mau apa-apa juga, wajahnya itu loh kalau sama orang lain jutek banget, beda kalau lihat kamu, matanya itu penuh cintaaa...."
"Permisi, yang namanya bu Firda mana ya?"tiba-tiba seorang laki-laki yang membawa motor bertanya.
"Wah, udah dipanggil ibu aja kamu Fir, "Rania menahan tawa melihat wajah Firda yang kesal karena dipanggil ibu, apa wajahnya setua itu. pikirnya
"Saya, yang namanya ibu Firda pak,"ketus Firda. ia menghentakkan kakinya karena kesal.
"Oh, maaf mbak, saya kira udah ibu-ibu tadi pas saya lihat fotonya,"driver ojol itu terlihat merasa bersalah.
"Hahaha....udah Fir, jangan ditekuk gitu wajahnya, masnya udah minta maaf loh, nanti kamu pasang fotonya waktu masih sekolah tk aja, biar dipanggil adek,"Rania tak bisa menahan tawa melihat sahabatnya.
"Senang banget kamu, lihat temen menderita tuh, udah ah aku pulang dulu Ran, dadah...."
Rania berbalik ke teras rumah ketika ojek yang membawa sahabatnya telah pergi. Lucas menatap Rania dari atas kursi yang ada di teras.
"Kalian ngomongin apa sayang, kayanya senang banget?"tanya Lucas. ia menarik tangan istrinya sampai badan Rania jatuh ke atas pangkuan Lucas.
__ADS_1
"Ada deh, ini masalah perempuan sayang,"