
Hari demi hari Rania jalani dengan baik, meskipun taka jarang ia di buat naik pitam sama kelakuan Lucas.
Rania tidak pernah kehilangan akal untuk membalas kejahilan yang majikannya lakukan pada dirinya.
Bik Tuti sudah merasa tenang untuk meninggalkan Rania, menggantikan dirinya bekerja, sekarang Rania sudah bisa di andalkan menurutnya.
"Bibi, nanti ke depan ya,ada yang mau aku bicarakan sama bibi. "setelah selesai makan malam, bu Rena meminta bik Tuti untuk nyamperin dirinya.
"Iya bu, saya bantu Rania sebentar. "ucap bik Tuti, ia membereskan meja makan, sedangkan Rania membawa pring kotor ke belakang
"Uwa samperin bu Rena aja, biar ini aku yang beresin. "Rania mengambil lap yang di pegang bik Tuti
"Kamu yakin, kan piring masih belum di cuci,mbak Yanti belum sembuh kan. "bik Tuti menatap Rania, ia tidak mau kalau Rania capek sendiri
"Itu mah gampang, udah uwa ke depan aja, nanti bu Renata lama nunggu lagi. "Rania meneruskan kerjaan bik Tuti
Setelah Rania meyakinkan kalau dia bisa mengerjakan semuanya sendiri, bik tuti bergegas menghampiri bu Renata yang sudah menunggu dirinya di ruang keluarga.
Bik Tuti, mendaratkan tubuhnya di atas karpet bulu,sedangkan bu Renata duduk di atas sofa mewah yang ada di ruangan itu.
"Bibi,duduk nya di atas, masa saya di atas tapi bibi di bawah, "ucap bu Renata
"Bibi,lebih nyaman lesehan bu, sudah tidak apa-apa."bik Tuti menolak
Karena bik Tuti tetap tidak mau duduk di atas, akhirnya bu Renata yang mengalah, ia pindak duduk di atas karpet berhadapan sama bik Tuti.
"Bibi, apa sudah tidak bisa mengubah rencana bibi buat pulang besok? "bu Renata menatap bi Tuti yang duduk di depan nya
"Maksudnya gimana bu? saya tidak mengerti. "tanya bik Tuti
"Maksud saya, bisakah bibi tetap di sini, supaya Rania betah tinggal di sini. "jawab bu Renata
"Rania sudah pasti betah di sini, bibi sudah nanya dia, katanya betah, ibu sama bapak baik, cuma suka kesel sama den Lucas, mungkin karena mereka sering berantem. "terang bik Tuti
Mendengar ucapan bik Tuti, bibir bu Renata tertarik membentuk senyuman yang sangat manis khas wanita yang masih cantik meskipun sudah berumur.
__ADS_1
"Bibi, masih ingat kan, ucapan saya waktu itu? "tanya bu Renata
"Rencana ibu mau mendekatkan den Lucas sama Rania? "tanya bik Tuti
"Iya, bibi setuju kan, atau bibi sudah bilang sama ibunya Rania? "bu Renata balik nanya
"Kalau bibi sih, terserah anak-anak, emang ibu tidak akan menyesal, kalau seandainya den Lucas berjodoh sama Rania. "bik Tuti menatap wajah teduh di depan nya, ia tahu sifat majikan nya seperti apa,tapi ia ingin lebih yakin
"Kenapa menyesal?tanya bu Renata
"Ya, ibu kan tahu sendiri bagai mana kehidupan keluarga kami, apalagi Rania, ia sudah tidak punya ayah, hidupnya serba kekurangan,dari kecil ia sudah menderita."Jawab bik Tuti
"Maksud bibi gimana? "bu Renata mengerutkan keningnya, karena tak mengerti maksud ucapan bik Tuti
Bik Tuti menarik napas panjang, ia mulai menceritakan kehidupan Rania.
flashback
"Ran, kenapa bajunya kotor nak? "tanya seorang ibu yang tengah berdiri menyambut gadis kecil yang baru pulang sekolah
"Sudah tidak apa-apa, ibu ga marah ko,"ibu itu langsung menuntun anak nya ke dalam rumah untuk mengganti bajunya
Bik Tuti yang kebetulan lagi pulang kampung, menatap Rania dengan sendu, ia yakin kalau keponakan nya itu bukan jatuh.
"Lis, besok aku bakal nganter dia ke sekolah, kasian dia, anak lain di antar orang tuanya, sedangkan Rania harus sendirian."bik Tuti menatap Rania yang sudah mandi juga berganti baju
"Ya,gimana lagi teh, kan teteh tau kehidupan kami,"bu Lilis menunduk,ia tidak ingin kalau Rania melihat air matanya
Besok paginya Rania menolak waktu bik Tuti, memaksa akan mengantar nya sekolah, akhirnya ia putuskan untuk mengikutinya diam-diam.
Dari kejauhan bik Tuti melihat kalau Rania di kucilkan semua teman nya, ia berjalan sendiri di pinggir jalan, bahkan kadang ada teman nya yang mendorong tubuh kecil Rania, Rania sama sekali tidak melawan ia terus berjalan sambil mendekap tas berisi buku sekolahnya.
"Heh, anak miskin,kamu ga punya sepatu yang bagus ya."anak laki-laki bertubuh tinggi itu menginjak sepatu Rania
"Pasti ga punya lah, dia kan tidak punya bapak, ibunya aja cuma kerja di ladang orang, pasti tidak mampu beli."sahut anak lain nya
__ADS_1
Rania sama sekali tidak menanggapi semua cemoohan teman-teman nya, ia terus berjalan, karena Rania tidak menggubris mereka, akhirnya mereka mengambil tas yang Rania dekap, terlihat Rania mempertahankan tas yang ia pegang, tapi kekuatan teman-teman nya begitu kuat.
"Jangan, itu ibu yang beli, kita tidak punya uang lagi, kalau kalian menyobeknya lagi. "Rania memohon ketika teman nya mengeluarkan bukunya,bersiap untuk merobeknya
Bik Tuti yang melihat itu semua langsung berlari menghampiri gerombolan anak yang membully Rania,
"Kalian tidak di ajar sopan santun ya, masih kecil sudah belajar menindas orang, nanti saya laporkan sama guru kalian mau."bik Tuti mengambil tas juga buku Rania dari tangan anak-anak tadi
"Kenapa uwa kesini? "tanya Rania
"Tadi uwa mau ke rumah bik Ratna, eh malah lihat kamu di tindas orang, "bik Tuti memperbaiki baju Rania yang berantakan
Sedangkan anak-anak yang tadi menindas Rania, mereka sudah kabur karena takut di laporkan sama gurunya.
"Kamu tiap hari di tindas mereka? "tanya bik Tuti
Rania tidak menjawab, ia malah terisak, bik Tuti mengerti keadaan Rania, ia tidak memaksa Rania bercerita lagi.
"Sekarang, uwa antar kamu ke sekolah ya."bik Tuti menuntun Rania menuju sekolahnya
"Uwa pulang aja ya, aku masih lama pulang nya. "Rania menyuruh bik Tuti pulang, karena dari tadi uwa nya itu terus berdiri memperhatikan Rania yang akan masuk ke dalam kelasnya.
Bik Tuti pura-pura pergi karena Rania terus meminta dirinya untuk pulang, tapi ia sebenarnya tidak pulang melainkan bersembunyi di dekat tembok, setelah memastikan Rania masuk bik Tuti berjalan kembali mendekati kelas Rania, ia mengintip kelas,hatinya kembali sakit, melihat Rania duduk sendirian,satupun tidak ada yang mau berteman sama Rania.
Telinganya juga mendengar hinaan, cacian yang teman-teman Rania ucapkan, Rania sedikitpun tidak menanggapi teman-temannya,
kasian kamu Ran, aku tidak menyangka anak-anak seusia mereka bisa dengan santainya menindas orang lain,
Beruntung guru tidak lama setelah itu masuk, hingga teman-teman yang tadi menidas, menghina Rania, berhenti karena takut sama gurunya.
Pelajaran akhirnya selesai, bik Tuti langsung pergi ke ruang kepala sekolah untuk memberitahukan kelakuan anak-anak yang sering menindas keponakan nya, ia tidak mau kalau Rania nantinya mengalami trauma, apalagi usia Rania masih kecil, kejadian menyakitkan itu pasti akan berbekas di ingatan nya.
terima kasih buat yang selalu like, komen, vote juga ya,π€ππ
πΊπΊπΊ
__ADS_1