
Firda mengajak Rania sama bu Renata ke dalam kosannya, Rania memandangi setiap sudut ruangan itu, tempatnya cukup bagus ada kamar satu, kamar mandi, juga ruang keluarga, yang agak sempit, tapi lumayan lah, apalagi enaknya kamar mandi di dalam, jadi tak perlu ngantri apalagi kalau sedang buru-buru.
"Kamu, betah di sini Firda?"tanya bu Renata.
"Ya gitulah tante, betah gak betah, harus betah pokoknya, aku merasa nyaman di sini,"sahut Firda. ia mengambil minuman dari dalam kulkas kecil yang ada di pojok ruangan itu.
"Syukurlah, kalau menurut tante, mending tinggal sama tante, soalnya semenjak Rania pindah, tante jadi kesepian karena cuma ada mbak-mbak di rumah,"
"Maaf banget ya tante, bukannya aku menolak kebaikan tante, tapi aku udah terlanjur nyaman di sini,"Firda bicara hati-hati, ia takut menyinggung mertua sahabatnya itu.
"Hmmm ya udahlah, eh ngomong-ngomong, sejak kapan kamu kenal sama Daniel?"tanya bu Renata.
"Mama, sekarang Firda kan, kerja di tempat kak Daniel, huh padahal waktu aku makan di sana kalian itu masih seperti orang asing, tapi lihat tadi kalian sudah seperti orang pacaran,"Rania mendengkus, ia merasa kesal karena sahabatnya itu tidak cerita kalau mereka sudah dekat.
"Maksudnya, kamu kerja di tempatnya Daniel?"tanya bu Renata. Firda mengangguk sebagai jawaban.
Akhirnya karena mereka sudah ngumpul jadilah segala jadi bahan obrolan, termasuk hal konyol yang membuat ketiganya tertawa bersama. bu Renata sangat nyambung meskipun usianya sangat jauh dengan Rania juga Firda.
Sampai sore hari baru mereka sadar kalau sudah menghabiskan waktu yang cukup lama, Firda juga harus kerja, mereka berjanji akan meluangkan waktu untuk kumpul kembali.
"Mama, jadi berasa muda lagi gara-gara kumpul sama kalian,"celetuk bu Renata.
"Iyalah, lagian mama emang kelihatan sedikit muda sih,"ucap Rania.
"Masa cuma sedikit, tambah sedikit Rania,"usul Firda.
__ADS_1
Sementara bu Renata cuma tersenyum masam, mendengar ucapan kedua wanita muda di depannya.
Setelah sopir bu Renata sampai, keduanya langsung pulang ke rumah Rania.
"Ma, mama udah lama kenal sama kak Daniel?"tanya Rania saat diperjalanan.
"Sudah, pokoknya, dulu mereka itu temenan berempat kalau gak salah, sering main ke rumah, mama juga kenal sama orang tua mereka, tapi semenjak lulus kuliah, mungkin karena semuanya punya kesibukan masing-masing, jadi gak pernah main lagi,"jelas bu Renata.
"Oh, menurut mama, kak Daniel itu orangnya seperti apa?"
"Jangan bilang kalau kamu naksir Daniel, kasian Lucas Ran,"
"Ikh, mana mungkin kak Daniel mau sama wanita hamil besar kaya aku ma, itu loh kalau sama Firda cocok gak?"
Rania mangut-mangut mendengar penjelasan mama mertuanya, ia sangat berharap Firda bisa menemukan kebahagiaan seperti dirinya. meskipun permasalah mengenai orang tuanya belum jelas, tapi ia berharap Firda mendapat kasih sayang dari pacar atau suami.
Sesampainya di rumah, mereka langsung disambut sama bibi, juga terlihat beberapa menu makanan berada di atas meja. Rania langsung masuk kamar untuk membersihkan diri, begitu juga bu Renata. ia memang sudah punya kamar sendiri di rumah itu, jadi setiap kali nginap atau berkunjung sudah tak perlu nanya kamar lagi.
Setelah membersihkan diri, mereka langsung menyantap makanan yang sudah bibi siapkan, apalagi Rania yang biasanya sering makan, dari siang ia cuma makan waktu di super market tadi, jadi perutnya sudah keroncongan.
"Ma, mama jadikan nginap di sini?"tanya Rania.
"Iya, papa juga gak bisa pulang sekarang katanya, makanya mending mama tidur di sini,"sahut bu Renata.
"Syukurlah, jadi aku ada teman selain bibi,"Rania melirik bibi yang sedang fokus menonton drama azab.
__ADS_1
"Kok, bibi suka banget sama sinetron itu, padahal mama gak suka, sering naik darah kalau mama lihat sinetron itu,"ucap bu Renata.
"Biarkan ajalah ma, aku gak pernah ikut campur sama kesukaan bibi itu, untungnya di kamar ada tv, jadi aku suka nonton di kamar, jadi gak ganggu bibi,"jelas Rania.
Sementara yang mereka obrolkan, tak sedikitpun terganggu atau menoleh, matanya fokus sama layar tv, sesekali mulutnya menggerutu karena kesal mungkin.
Rania pamit lebih dulu, ia sangat mengantuk,mungkin karena kecapaian terus juga kekenyangan, ia sudah menguap berkali-kali.
Benar saja, begitu ia berbaring tak lama kemudian langsung pulas, Rania mendekap bantal guling sebagai ganti suaminya yang biasa memeluk dirinya. untungnya ia tadi kecapaian, jadi tak ada drama gak bisa tidur karena tidak ada Lucas.
tengah malam Lucas sampai di rumah, ia pura-pura tak mendengar ketika Hendrik menggerutu karena ketika selesai kerja, Hendrik langsung diajak pulang sama Lucas.
"Kamu, tidur aja di sini, jangan pulang,"ucap Lucas ketika keluar dari mobil.
"Iyalah, lo pikir gue akan pulang, udah capek, terus ngantuk, untung aja gak lapar,"ketus Hendrik.
"Haha... santai bro, lo bakal merasakan yang gue rasakan sekarang, kalau nanti udah berumah tangga, gue gak tenang ninggalin istri gue, apalagi lagi hamil,"Lucas menepuk bahu Hendrik.
"Hmmm... sekarang mana kamar buat gue?"tanya Hendrik.
Lucas menunjuk kamar tamu untuk Hendrik, matanya menyipit begitu melihat lampu kamar mamanya menyala, berarti mama nginap di sini. pikir Lucas.
Setelah Hendrik masuk kamar, Lucas juga menuju kamarnya bersama sang istri. senyumnya langsung terbit begitu melihat kesayangannya sedang terlelap di atas pembaringan. kakinya melangkah mendekati ranjang, matanya menatap intens ke arah sang istri, Lucas mendaratkan satu kecupan pada pelipis sang istri.
Lucas segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badan, ia merasa gerah karena cuma mandi ketika akan berangkat tadi pagi. setelah beberapa menit Lucas keluar dari kamar mandi lalu memakai baju tidur dan ikut berbaring sambil memeluk tubuh istrinya.
__ADS_1