
"Kenapa sih yang, kangen ya?"Rania mengusap rambut suaminya.
"Iya, kangen banget, makanya mau peluk terus,"gumam Lucas. wajahnya masih ia tenggelamkan di atas perut Rania.
"Lebay, peluk-peluknya nanti lagi ya, kita makan dulu, kasian ibu sama Selin udah nungguin,"papar Rania.
Lucas melepaskan pelukannya, ia langsung berdiri terus menggandeng tangan Rania keluar dari kamar.
"Huh, gandengan terus kaya mau nyebrang aja,"ledek Bu Lilis. Rania langsung melotot mendengar ucapan ibunya.
"Syirik tanda tak mampu, udah dibilangin nyari pasangan, biar gak iri dengki sama orang lain,"Mata Rania melirik ibunya, lalu ia duduk di atas kursi.
"Hehehe....kalian masih gak berubah, masih kaya dulu ternyata,"Selin tertawa melihat kelakuan ibu sama anak itu. ia sudah biasa melihat perdebatan atau ledekan keduanya.
"Uwa, mana bu?"tanya Rania. tangannya terampil mengisi piring untuk suaminya.
"Paling sebentar lagi nongol, tadi katanya mau nyetrika baju dulu,"jawab bu Lilis.
"Ayo, Lin-lin makan, gak usah malu-malu, biasanya juga habis dua piring,"bu Lilis menggeser tempat nasi ke hadapan Selin.
"Ah, ibu, jangan bilang-bilang kenapa sih, malu tau,"Selin cemberut, bibirnya maju beberapa senti.
"Halah, gak usah malu, lagian gak ada bujang di sini, kita udah tau kok kalau Selin yang badannya kecil itu makannya banyak,"bu Lilis mengisi piring Selin dengan nasi, tak lupa lauk pauknya.
Lucas tersenyum saat melihat istrinya makan dengan lahap, mungkin nanti ia akan meminta bibi di rumah untuk membuat aya bakar supaya istrinya makan dengan lahap.
"Wah, sudah pada mulai makannya?"Uwanya Rania tiba-tiba datang, untungnya belum lama mereka mulai makan, jadi tak perlu makan sendirian.
"Iya, habisnya Uwa lama. ya udah kita makan duluan aja,"jawab Rania. Rania menyuapkan makanan kedalam mulutnya.
Bik Tuti langsung duduk di samping Selin, setelah itu ia langsung mengambil piring lalu mengisinya dengan makanan.
Setelah selesai makan malam, Selin pamit untuk pulang, begitu juga bik Tuti langsung pulang ke rumahnya yang tak jauh dari rumah ibunya Rania.
__ADS_1
Sedangkan bu Lilis langsung masuk kamar, katanya capek jadi mau langsung istirahat.
Lucas memeluk Rania, kepalanya ia benamkan di atas dada Lucas.
"Sayang, kamu mau beli mobil atau rumah?"tanya Lucas. Rania menggelengkan kepalanya.
"Kenapa?"tanya Lucas lagi.
Rania mendongak, matanya menatap manik kehitaman milik sang suami,"kenapa sih, tiba-tiba nanya gitu?"Rania tak mengerti maksud Lucas.
"Maafin aku, gara-gara kamu nikah sama aku, kamu jadi gak bisa menikmati waktu masa muda kamu, harusnya diumur kamu yang sekarang, masih main sana-sini, jalan sama temen,"lirih Lucas. saat melihat Rania ngobrol sama Selin ia jadi merasa bersalah.
"Hey, kenapa bicara kaya gitu?"Rania menegakan badan, matanya tak lepas dari wajah Lucas yang terlihat sedih.
"Aku salah sayang, harusnya waktu itu aku minta tunangan dulu sama kamu, bukannya langsung nikah,"jawab Lucas.
"Sayang, nikah itu pilihan aku, jadi kamu jangan merasa bersalah sayang. aku ikhlas kok ngejalanin semua ini, lagian kamu tahu kalau aku gak suka main gak jelas,"papar Rania.
"Iya, lagian aku udah dikasih semuanya sama kamu juga mama, tak pernah kekurangan apapun kan,"Rania tersenyum manis.
"Ya,udah, kita tidur yu, kamu harus banyak istirahat,"Lucas membenarkan bantal untuk sang istri.
Akhirnya keduanya tidur sambil berpelukan. cuaca dingin sangat mendukung untuk dua orang itu. berbeda sama jomlo yang cuma bisa peluk guling sendirian, kasian.
****
Seorang wanita baru saja turun dari pesawat sambil menggeret koper besar, di belakangnya seorang wanita tua berjalan mengikuti perempuan itu.
"Ah, kangen banget sama semua yang ada di negara ini,"gumamnya. ia terus berjalan bersama ratusan orang yang ada di bandara.
"Mam, kita langsung ke rumah atau gimana?"tanya perempuan tadi sama maminya.
"Terserah kamu, kalau kamu masih banyak uang, mending kita belanja dulu,"jawab perempuan tua kepada anaknya.
__ADS_1
"Mam, kan mami tau kalau aku cuma punya uang sedikit, David cuma ngasih sedikit,"ujarnya.
"Ya pakai itu aja, nanti kamu cari mangsa lagi yang banyak uangnya!"wanita tua itu berkata dengan lantang.
"Mam, aku udah capek kaya gini terus. mami gak kasian sama aku, mending aku cari kerja aja,"
"Huh! jangan b***h Shela! kerja itu capek. lagian belum tentu dapat kerja yang menghasilkan uang banyak, mending kamu layani laki-laki yang kesepian itu, duitnya gede, cepat lagi!"wanita tua itu menunjuk-nunjuk wajah sang putri.
Perempuan itu Shela, pacarnya Lucas yang pergi tanpa pamit, sekarang dia sudah kembali ke tanah air.
Rania sedang membantu ibunya membuat sarapan, sementara Lucas sedang menggantikan Rania mengurus kucing kesayangan sang istri, semenjak pulang, Rania tak diijinkan Lucas untuk berdekatan sama kucing lucu yang diberi nama Bagas itu. katanya takut ada penyakit atau bulu yang menempel pada Rania.
Padahal Lucas sangat tak suka sama kucing, tapi demi sang istri ia rela mengurus kucing itu. bahkan untuk memandikan Lucas mau mengerjakannya.
"Mas, bu Lilis kemana ya? saya mau beli minyak goreng nih,"tanya seorang ibu-ibu.
"Oh, mungkin lagi di dapur bu, panggil aja,"jawab Lucas. ia kembali meneruskan kegiatannya.
"Wah, rajin banget ya, beruntung banget bu Lilis dapat mantu, udah mah ganteng, kaya, rajin lagi. masnya suka kucing ya?"ibu itu mendekat ke arah Lucas yang sudah menyalakan keran untuk memandikan kucing.
"Justru saya yang beruntung bu, bisa nikah sama istri saya,"Lucas menjawab sambil mengguyur kucing kesayangan Rania.
"Iya,Neng Rania emang anak baik, waktu itu anak saya juga mau melamar Neng Rania, eh malah saya dengar dia sudah ke jakarta buat kerja, jadinya anak saya pergi merantau lagi, katanya mau nambah-nambah uang buat melamar Neng Rania kalau sudah pulang,"ujarnya panjang lebar.
Sialan nih ibu-ibu, untungnya gue udah duluan nikahi Rania, ternyata banyak yang ngincar juga tuh anak.
"Ceu, mau beli apa?"tanya bu Lilis. ia baru nongol dari dalam rumah.
"Eh, itu, saya mau beli minyak goreng bu, mantunya ganteng banget, kemarin waktu syukuran, saya gak begitu memperhatikan wajahnya, eh pas lihat sekarang ternyata ganteng banget, pantas Rania mau nikah sama orang kota itu,"ucap ibu itu, ia bicara panjang lebar.
"Ya, jodohnya harus dia ceu, kan bukan kita yang ngatur soal jodoh,"bu Lilis tersenyum ramah.
"Iya, saya tau, jauh banget sama anak saya, pantesan bu Lilis menolak lamaran anak saya, ternyata udah punya yang lebih segalanya dari putra saya,"sindirnya, ia selalu menyindir bu Lilis karena pernah menolak lamaran anaknya, padahal waktu itu Rania sudah menikah, jadi mana mungkin ia menerima lamaran itu untuk anaknya.
__ADS_1