
Rania membuat sarapan dengan bahan yang ada di dalam kulkas,sesuai kesepakatan,Mbak Yanti bagian beres-beres rumah besar itu,karena untuk memasak biasanya bik Tuti yang ngelakuin,dan sekarang Rania yang melakukan bagian itu karena Rania sudah di ajari sama bik Tuti selera majikannya.
Rania menata masakannya di atas meja,setelah itu ia bergegas menuju kamar bayi besar yang mungkin sebentar lagi akan menjadi suaminya,tak pernah terbayang dalam benaknya kalau laki-laki yang selama ini sangat menjengkelkan menurutnya itu akan menjadi suaminya,terlebih dari apa pun sebab mereka menikah.
Lucas seperti biasa masih nyenyak di bawah selimut tebal,hal itu sudah biasa buat Rania.justru kalau Lucas tidak seperti sekarang Rania merasa aneh.
Rania membangunkan Lucas,pasti ada perdebatan di antara ke duanya,Rania pun sudah terbiasa,rasa takut di awal-awal yang ia rasakan,sekarang sudah tak ada,yang ada kadang rasa jengkel juga lucu,mengingat tingkah dirinya sama Lucas.
"Rani,Lucas sudah bangun?"tanya bu Renata,saat Rania menuju dapur ia berpapasan sama bu Renata yang baru keluar dari kamarnya
"Sudah bu,tapi masih mandi."jawab Rania
"Oh,ya sudah,makasih ya."kata bu Renata
"Iya bu,sama-sama,saya ijin ke belakang dulu bu."pamit Rania,ia masih belum membersihkan dapur bekasnya memasak
Lucas menyapa mama sama papanya yang sudah menunggunya di ruang makan.
"Nanti jangan berangkat dulu Luc,ada yang mau papa bicarakan sama kamu."kata pak Bambang
"Tapi aku ada meeting pa,gimana?"tanya Lucas,lalu ia menyuapkan makanan ke mulutnya
"Papa cuma sebentar,kasih tahu Hendrik atau sekertaris kamu buat undur meeting nya."ucap pak Bambang
"Emang,penting banget pa?"tanya Lucas,biasanya papanya itu gak pernah seperti itu soal kerjaan
"Hemm."jawab pak Bambang
Lucas mangut-mangut mendengar jawaban papanya,setelah itu mereka bertiga melanjutkan sarapan tanpa ada lagi pembicaraan.
Selesai sarapan,pak Bambang juga Lucas pergi ke ruang kerja.mereka duduk berhadapan di atas kursi dengan meja tempat pak Bambang kerja menjadi pembatas.
"Ada apa sih pa,tumben ngajak bicara di sini?"tanya Lucas memulai obrolan
"Kaya keberatan banget kamu,gak suka ngobrol sama papa?"pak Bambang menatap Lucas di depannya
"Bukan,tumben aja,masalah kerjaan atau gimana pa?"Lucas merasa penasaran apa yang akan di omongin papanya
__ADS_1
"Bukan,ini masalah kamu sama Rania."jawan pak Bambang
"Aku gak punya masalah sama si bocah pa,kenapa sih?"Lucas menatap papanya dalam
"Kamu beneran mau menikah sama dia,papa gak percaya awalnya pas mama bilang kamu mau nikah sama Rania."ucap pak Bambang
"Beneran pa,aku serius."kata Lucas dengan lantang
"Kamu sudah pikirkan matang-matang?papa gak mau kamu nantinya menyakiti dia,ingat dia itu tanggung jawab papa sama mama,bibi menitipkan dia,apa lagi Rania sudah gak punya seorang ayah,papa gak mau nantinya kamu bikin dia nangis,meskipun papa gak banyak bicara seperti mama,tapi papa tahu gimana hubungan kamu sama dia yang seperti kucing sama anjing,tiap dekat pasti adu mulut,intinya papa gak mau kamu cuma main-main,apa lagi sebuah pernikahan."kata pak Bambang panjang lebar
"Pa,sedikit pun aku gak ada pikiran buat main-main sama pernikahan ini,aku serius,aku sudah janji sama bibi akan menjaga bocah itu."ucap Lucas,ia meyakinkan papanya tentang keseriusannya
"Luc,terus masalah mantan kamu yang belum kembali bagaimana?papa gak mau,nanti setelah kalian menikah,dia datang lagi sama kamu,terus kamu meninggalkan Rania demi dia."tanya pak Bambang
"Itu cuma masa lalu pa,lagian papa sama mama gak tahu kan gimana ceritanya."lirih Lucas
"Cerita apa?"tanya pak Bambang
Suara ketukan
Tok...tok...tok
"Boleh ma,masuk aja!"ucap pak Bambang
Bu Renata membuka pintu,lalu masuk ke dalam ruang kerja suaminya bersama Rania.
"Mama,ngapain ngajak si bocah?"Lucas menatap mamanya juga Rania.
"Diam,dia itu punya nama,jangan panggil bocah terus."kata bu Renata
"Belum apa-apa sudah di belain,gimana nanti."gumam Lucas
"Sudah-sudah,kita bahas yang penting sekarang.nanti kamu kesiangan Luc."pak Bambang melerai istri dan anaknya
"Oke,jadi apa yang akan kita bahas,pa,ma?"Lucas menatap bergantian papa dan mamanya
"Papa kemarin udah ngobrolin pernikahan kalian sama om Toni,jadi pernikahan kalian akan di laksanakan dua minggu lagi,itu sudah kami pertimbangkan,sebelum Rania mulai masuk kuliah,kalian sudah menikah."jelas pak Bambang
__ADS_1
"Kalian setuju kan?"bu Renata bertanya sama Lucas juga Rania
Lucas sama Rania saling berpandangaan,setelah itu menatap bu Renata sama pak Bambang kompak.
"Aku terserah mama sama papa,aku nurut aja."ucap Lucas
"Bagus,kamu gimana Rania?"pak Bambang menatap Rania
"Aku juga terserah ibu sama bapak,tapi gimana ibu sama Uwa?"tanya Rania
"Nanti ibu yang akan ngasih tahu ibu kamu sama bibi sekalian,"bu Renata mengusap rambut Rania yang duduk di sampingnya.
"Acaranya mau gimana?papa ikut kalian maunya seperti apa."kata pak Bambang
"Acaranya sederhana aja pak,bu,yang paling penting kan sah."ucap Rania.ia menyampaikan pendapatnya,sejujurnya ia benar-benar belum siap,apalagi harus ada acara yang mewah
"Aku setuju pa,kita ngundang saudara aja,lagian kan Oma masih di luar negeri."Lucas menimpali ucapan Rania,ia setuju dengan kemauan Rania
"Oke,jadi acaranya cukup di rumah kan,papa juga mikirin Oma,tahu sendiri kan sifat oma kaya gimana."ucap pak Bambang
Setelah semuanya sepakat,acara akad Rania sama Lucas akan di laksanakan secara sederhana di rumah itu,semuanya keluar dari ruang kerja kecuali pak Bambang yang masih ada kerjaan katanya.
Ternyata Lucas sudah di tunggu Hendrik untuk berangkat ke perusahaan,sedangkan Rania ia di ajak bu Renata buat pergi berbelanja.
Mobil Lamborghini Aventador SVJ itu melesat di atas jalanan ibu kota,berbaur dengan kendaraan lainnya.Lucas terlihat happy tidak seperti biasanya yang berwajah masam dan sibuk dengan laptopnya.tapi sekarang sangat berbeda bibirnya terus tersenyum,membuat Hendrik yang sedang mengemudi heran melihat sikapnya yang tiba-tiba aneh.
"Bos,loe gak sakit kan?"sebelah tangan Hendrik meraba kening bosnya.sebelah lagi memegang kemudi mobil
"Apaan sih,gue baik-baik aja,fokus nyetir aja,ga usah ngelihatin gue."Lucas menepis tangan Hendrik yang ada di keningnya.
"Tapi,kenapa dari tadi loe senyum-senyum terus,ngeri gue bos,sumpah!"Hendrik bergidik ngeri menatap bosnya sekilas
"Gue lagi senang,makanya senyum-senyum."ucap Lucas
"Apa jangan-jangan gara-gara kemarin gue bilang,kalau pak Hendra mau nemuin loe sekarang?"tanya Hendrik
Lucas menatap Hendrik dengan tajam,ia sama sekali gak ingat kalau ia ada pertemuan sama kliennya itu.
__ADS_1
Kalau suka cerita ini,dukung ya,di tunggu like,komen,vote nya juga,beneran kalau ada yang komen tuh saya semangat buat up lagi🤗