
Rania mengeratkan pelukannya pada tubuh Lucas, matanya masih tertutup, dirinya tak ingat kalau semalam tidur di kamar suaminya.
Kenapa badannya kekar, ini bukan ibu ratu, ibu kan badannya lembek, ada lemak-lemaknya di sana-sini.
Tangannya meraba dada Lucas terus juga tangan, ia semakin yakin kalau yang dirinya bukan memeluk ibunya. Rania membuka mata buat meyakinkan pikirannya.
"Ah, tuan ngapain di sini, peluk-peluk saya!"teriak Rania sambil mendorong tubuh Lucas yang masih tertidur.
"Bocah! apaan sih, pagi-pagi udah ribut,"Lucas mengucek matanya.
"Tuan, kenapa anda tidur di sini?"Rania terlihat marah sama Lucas, dadanya naik turun menahan emosi.
"Heh, bocah, kamu buka mata lebar-lebar, baru marah-marah,"ketus Lucas.
Rania melihat sekeliling, dirinya abru ingat kalau semalam ia yang datang ke kamar Lucas terus menumpang tidur gara-gara di usir ibunya.
"Maaf, tapi kenapa saya tidur di sini, perasaan saya semalam tidur di sofa, pasti tuan menggendong saya ke sini kan, tuan mau mesum ya,"matanya memicing menatap Lucas yang sudah duduk di pinggir tempat tidur.
"Kurang kerjaan banget, kalau saya menggendong kamu, emang kamu penting buat saya, menghayal jangan terlalu tinggi, ingat! kamu bukan selera saya, jadi ngapain saya sampai harus memindahkan kamu,"ucap Lucas panjang lebar.
"Eum, tapi, kenapa saya tidur di atas kasur, saya ingat banget kalau semalam saya tidur di sofa tuan, masa saya berjalan sambil tidur,"lirih Rania.
"Ya, mana saya tahu, semalam kamu langsung meluk saya kaya guling. jadi, siapa yang salah?"Lucas menggeser tubuhnya ke arah Rania.
"Tu...tuan, jangan dekat-dekat, nanti saya teriak loh,"ucap Rania terbata.
"Silahkan, paling nanti, mereka rame mikir kita ngapa-ngapain,"kata Lucas dengan santai.
"Kenapa, gitu?"kening Rania mengerut mendengar ucapan Lucas.
"CK, katanya pintar, gitu aja lambat, kita sudah nikah bocah,"Lucas mendorong kening Rania dengan telunjuknya.
"Hah, aku lupa tuan, eh ko tuan makin dekat, kapan majunya,"Rania menggeser tubuhnya menjauhi Lucas sampai tubuhnya berada di pinggir kasur.
"Saya, mau nunjukin bukti kalau kamu meluk saya semalam. jadi pikiran kotor kamu tentang saya bisa hilang,"tangan Lucas mengambil ponsel yang ada di atas meja kecil samping tempat tidur.
__ADS_1
Lucas membuka ponselnya, lalu menunjukan foto yang semalam ia ambil waktu Rania memeluknya.mata Rania hampir keluar dari tempatnya begitu melihat dirinya dalam foto itu. bagai mana tidak, kakinya membelit kaki Lucas, tangannya melingkar di atas perut Lucas, sementara wajahnya berada di bawah ketiak Lucas.
"Itu, tuan saya pasti tak sengaja, saya ke bawah dulu mau bantuin yang lain,"Rania menelan ludahnya susah payah, wajahnya terasa panas gara-gara malu dengan kelakuannya saat tidur.
Tuhan, aku malu, hilangkan aku dari bumi ini sekarang aja.
Rania turun dari atas tempat tidur, terus siap-siap akan lari dari kamar itu, tapi, sebelum itu terjadi tangan Lucas lebih cepat menarik tangan Rania sampai badannya duduk kembali di tempat tadi.
"Masih punya pikiran kalau saya menggendong kamu?"mata Lucas menatap manik Rania, pipinya semakin merona sangat kontras dengan kulitnya yang putih.
"Enggak, mungkin benar kalau saya jalan sendiri tuan,"cicit Rania.
"Jadi, sekarang, siapa yang mengambil kesempatan, "Lucas semakin mendekatkan wajahnya pada Rania.
"Ya gak ada, saya kan tak ingat tuan, jadi kita sama,"kata Rania.
"Paling, kamu pura-pura tidur supaya bisa peluk saya kan, ngaku bocah,"
"Mana mungkin, orang aku beneran gak ingat tuan,"
Mendengar itu, Rania langsung lari menjauh sampai menubruk pintu yang masih tertutup.
"Pintu, sejak kapan kamu ada di sini,"Rania membuka pintu terus keluar dari kamar Lucas.
Melihat tingkah ajaib istrinya. Lucas tertawa sangat keras. benar-benar hiburan yang menyenangkan.
***
Rania menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa, ia benar-benar malu sekaligus kesal pada dirinya sendiri.
"Cie, pengantin baru,wajahnya merah amat habis di apain sih."tante Lidya berpapasan sama Rania.
"Tante, selamat pagi,"Rania menyapa tante suaminya yang sedang tersenyum-senyum melihat dirinya.
"Pagi juga, gimana malam pertamanya Ran, pasti suami kamu kuat banget ya,"tante Lidya menaik turunkan alisnya.
__ADS_1
"Apaan tante, kita gak ngapa-ngapain ko, kuat apaan aku gak ngerti, maksud tante,"ucap Rania.
"Ah, jangan pura-pura gitu, masa gak ngapa-ngapain pipinya sampai merona kaya gitu, apa blush on yang kemarin belum di hapus ya,"tante Lidya makin menjadi-jadi menggoda istri keponakannya.
"Tante, saya permisi kebelakang dulu ya,"Rania tak tahan terus di goda sama tantenya, sangat memalukan.
Rania bergegas menuju kamarnya, sampai di sana ia melihat ibunya sedang memasukan barang-barangnya ke dalam tas.
"Loh, ibu mau kemana?"Rania menghampiri ibunya.
"Ya ibu sama uwa mau pulang. sekarang ibu sudah tenang meninggalkan kamu di sini, semoga pernikahan kamu sakinah, mawadah, warahmah ya Ran. semoga suami kamu bisa memberikan kasih sayang yang selama ini tidak kamu dapatkan dari seorang ayah,"ibunya Rania merengkuh tubuh anaknya.
"Ibu, jangan tinggalkan aku, aku mau sama ibu aja,"Rania membalas pelukan ibunya dengan erat.
"Jangan begitu, sekarang kamu sudah menikah, ibu pesan sama kamu, kamu harus jadi istri sholehah buat suami kamu, harus nurut, jangan pernah menolak suami, ibu yakin nak Lucas orang yang Allah kirim buat jagain kamu, ibu benar-benar tenang sekarang, sudah cukup penderitaan kamu selama ini, sekarang waktunya kamu hidup bahagia, ibu minta maaf gak bisa kasih yang terbaik buat kamu selama ini,"kata bu Lilis panjang lebar.
Seandainya ibu tahu, kalau pernikahan kita hanya karena kita memiliki tujuan masing-masing, bagai mana perasaan ibu. maafkan anakmu ini ibu.
"Ran, ko malah diam, kamu ngerti gak ucapan ibu tadi?"bu Lilis merenggangkan pelukannya.
"Ngerti bu ratu, terima kasih untuk semua yang sudah ibu lakukan buat aku, semoga ibu selalu sehat, panjang umur biar bisa melihat aku sukses. terus bisa membahagiakan ibu,"mata Rania berkaca-kaca.
"Ibu pasti sehat, terus panjang umur, ibu kan mau nikah lagi Ran,"kata bu Lilis.
"Jangan, aku gak mau punya bapak tiri bu,"rengek Rania.
"Kenapa, ibu juga mau ada yang meluk kalau malam, sekarang kan kamu sudah ada, masa ibu enggak, itu gak adil dong,"ucap bu Lilis.
Mendengar ucapan ibunya, Rania mencebik, ia yakin kalau ibunya hanya bercanda mengenai keinginannya untuk menikah lagi.
"Sekarang, kamu bantuin ibu,"bu Lilis menyerahkan barang-barang yang harus di masukan ke dalam tas sama Rania.
**Aku up nih, makasih banyak semuanya, buat yang selaku mendukung aku, buat yang bilang ceritanya gak menarik saya minta maaf ya, saya masih pemula, masih harus banyak belajar, buat yang ceritanya sepotong2 kan emang ceritanya belum selesai, ngetik 1000k itu pegel loh hehe.
like, komen, vote nya jangan lupa ya,favoritkan juga terima kasih🤗😘😘**
__ADS_1