
Rania menyiapkan baju untuk suaminya. kemeja warna biru dipadukan dengan dasi yang senada ditambah celana bahan warna hitam. Rania meletakan semuanya di atas sofa.
Setelah itu, dia mulai membereskan tempat tidur dari mulai menyusun bantal, terus melipat selimut tak lama kemudian tempat tidur yang tadinya berantakan sudah rapi dengan sempurna.
Lucas mengerutkan keningnya, ketika dia keluar kamar mandi melihat istrinya sedang melamun sambil duduk di pinggir tempat tidur.
"Sayang, mikirin apaan sih? pagi-pagi udah bengong aja,"Lucas mengusap pipi Rania dengan jarinya.
"Euh, kamu ngagetin aja tahu gak,"Rania mengerjap ketika pipinya terasa dingin karena sentuhan Lucas.
"Kamu, mikirin apa? sampai aku keluar kamar mandi, kamu gak sadar,"Lucas menatap manik Rania.
"Enggak, tadi aku gak mikirin apa-apa ko sayang,"
"Sayang, kita sudah sepakat tidak ada yang kita tutup-tutupi loh, aku tahu kamu nyembunyiin sesuatu, apa masalah oma?"selidik Lucas. dia duduk berhadapan sama Rania, tangannya memegang handuk yang biasa untuk mengeringkan rambut kalau tidak pakai hair driyer.
"Aku, mikirin oma yang,"lirih Rania.
"Kamu diapain sama oma?"selidik Lucas.
"Enggak, cuma tadi sebelum kamu datang, oma tuh masih baik-baik bicara sama aku, ya, meski ada kata-kata pedasnya, tapi, masih mending daripada setelah kamu datang, apa oma punya kepribadian ganda ya?"tanya Rania.
"Kamu, ada-ada aja sih, udahlah jangan terlalu dipikirkan sayang, sekarang mending kamu bersih-bersih, nanti kesiangan ke kampusnya,"Lucas malah tertawa mendengar ucapan Rania tentang oma yang disangka punya kepribadian ganda.
"Iya, itu baju kamu, udah aku siapkan yang,"Rania menunjuk baju Lucas di atas sofa.
Rania bergegas masuk ke kamar mandi. sementara Lucas memakai baju yang sudah Rania siapkan untuk dirinya, lalu keluar kamar karena penasaran apa yang sedang oma Ratna lakukan.
Lucas menghampiri oma yang sedang duduk di ruang makan, tangannya sibuk mengisi piring di depannya.
"Pagi oma,"
"Hmmm,"cuma deheman yang keluar dari mulut oma Ratna.
"Oma, apa sampai sekarang, oma belum bisa menerima Rania?"tanya Lucas. matanya menatap tajam oma Ratna yang sedang menikmati makanan di depannya.
"Kenapa tanya gitu? apa kamu gak lihat kalau sekarang oma sudah sedikit membuka hati buat istri kamu,"ketusnya dengan wajah datar.
"Bukan begitu, sebenarnya, aku gak peduli oma mau menerima atau enggak, cuma yang aku pikirkan itu perasaan Rania, dia anak baik oma,"jelas Lucas.
"Cuma dia yang kamu pikirin, oma gak dipikirin gitu?"tanya oma.
__ADS_1
"Kenapa harus mikirin oma?"
"Apa, kamu bener-bener sayang sama dia? bukan cuma pelampiasan sesaat?"oma Ratna menyimpan sendok di atas piring, lalu mengelap bibirnya dengan tisu.
"Maksudnya?"kening Lucas mengerut diikuti alisnya yang hampir menyatu.
"Apa, perasaan kamu sama mantan kamu sudah benar-benar hilang? oma tahu Rania gadis baik, makanya sejak awal oma sudah ngetes dia, dan itu sudah terbukti, dia tetap setia di samping kamu, meskipun mendapat hinaan dari oma,"oma Ratna menjeda ucapannya, matanya menatap wajah Lucas dengan intens beliau mencari perubahan pada wajah Lucas.
"Jadi, yang oma lakukan selama ini, cuma buat ngetes Rania?"wajah Lucas terlihat berubah ceria.
"Iya, sekarang oma mau tanya sama kamu, kalau misalkan pacar kamu kembali, apa, yang bakal kamu lakukan?"ucapan oma Ratna terdengar tegas.
Lucas tidak langsung menjawab, dia menarik napas panjang laku menghembuskannya dengan kasar.
"Aku....
"Sayang, kenapa belum makan?"Rania tiba-tiba sudah keluar dari kamar sambil menenteng tas dengan dandanan sudah rapi.
"Pokoknya, oma tidak akan tinggal diam kalau sampai kamu menyakiti Rania,"bisik oma Ratna sebelum beranjak meninggalkan kedua orang itu.
"Oma, kenapa malah pergi? kalau oma masih punya pikiran kalau aku sudah merebut kasih sayang sama perhatian Lucas, biar aku pergi kuliahnya naik taksi aja,"Rania menunduk, dirinya masih ingat ucapan terakhir oma sebelum dia masuk kamar.Terus sekarang ditambah melihat oma langsung pergi ketika dirinya keluar kamar.
"Sayang, kamu kejar oma, biar aku naik taksi ke kampusnya,"Rania mengguncang punggung Lucas.
"Gak, biarkan saja, kamu mau sarapan dulu?"Lucas menggelengkan kepalanya, otaknya masih memikirkan ucapan oma Ratna, jujur dirinya masih tidak bisa menebak jalan pikiran oma.
"Enggak, takut telat sayang,"ucap Rania.
"Ya sudah, kita berangkat sekarang aja,"Lucas berdiri lalu menyambar tas kerjanya yang terletak di atas meja.
"Kamu, kenapa?"Rania memperhatikan wajah Lucas yang tak seperti biasanya.
"Hah, kenapa, apanya yang,"Lucas merangkul bahu Rania menuju pintu.
"Kalian, ngobrolin apaan sih tadi, kenapa, pas aku keluar langsung diam, terus oma langsung keluar?"tanya Rania. dia bukannya tidak tahu kalau tadi suaminya sama oma sedang mengobrol, tapi Rania pura-pura tidak mendengar.
"Enggak, bukan hal yang penting ko, kamu bakal padat lagi jadwalnya sayang?"Lucas mengalihkan topik obrolannya, takutnya Rania makin banyak nanya.
"Iya, aku kayanya bakal pulang sore, maaf ya gak bisa ke kantor lagi,"kata Rania.
"Aku ngerti, kamu belajar yang rajin, tapi ingat jangan terlalu capek ya,"Lucas menggandeng tangan Rania menuju mobilnya. seperti biasa dia membukakan pintu untuk Rania masuk.
__ADS_1
Selama perjalanan keduanya sibuk dengan pikirannya masing-masing, Lucas masih memikirkan ucapan oma Ratna, sedangkan Rania memikirkan suaminya, dia yakin kalau ada hal yang Lucas sembunyikan darinya.
Mata Rania sesekali melirik Lucas yang terlihat fokus ke depan, biasanya perjalan mereka selalu diwarnai dengan obrolan atau candaan, tetapi sekarang terasa sunyi tanpa ada yang tertarik untuk membuka obrolan.
Lucas menghentikan mobilnya ditempat biasa Rania turun.
"Sayang, aku masuk dulu,"Rania mencium punggung tangan Lucas seperti biasa, begitu juga Lucas langsung mencium kening serta bibir Rania sekilas, itulah ritual wajib sebelum keduanya berpisah.
Lucas langsung melajukan mobilnya tanpa melihat Rania seperti biasa, biasanya dia tidak akan pergi sebelum Rania masuk ke dalam kampus.
Dia, kenapa sih? biasanya selalu lihatin aku, mungkin buru-buru kali ya.
"Woy, Rania, bengong aja, mikirin apaan sih?"Firda situkang heboh sudah berjalan di samping Rania.
"Siapa yang bengong, aku lagi fokus jalan Fir, takut kesandung terus jatuh, kan malu,"ucap Rania.
"Eh, kamu, tahu gak Ran, katanya akan ada dosen pengganti profesor Syamsudin hari ini, dan kamu tahu,"Firda menaik turunkan alisnya.
"Enggak, dan juga gak mau tahu,"ucap Rania.
"Wah, kurang asem kamu, bilang dong, mau tahu apa gitu,"Firda mengerucutkan bibirnya karena tak ditanggapi Rania.
"Mau tahu, apa gitu,"Rania menuruti Firda.
"Katanya, dosennya masih muda, belum nikah, terus yang paling penting ganteng bo, tapi, itu jatah aku, kamu kan udah punya yang hot,"Firda tambah heboh dengan ceritanya.
"Hot, emangnya dog, hot segala,"Rania mendengus.
"Heh, kalau suami kamu lebih dari hot dog Rani, tapi super hot itu,"
"Terserah, asal jangan pakai dog aja,"
Obrolan keduanya terhenti ketiak seorang laki-laki masuk sambil membawa beberapa buku di tangannya.
Matanya menatap seluruh mahasiswa yang duduk di depannya.
Ternyata, kamu di sini Rania.
**Ada yang bisa nebak siapa dosen baru itu gak?
jangan lupa like, komen, vote nya juga ya**
__ADS_1