
"Udah, kamu kerja aja ya. aku mau baca novel dulu,"Rania mendorong badan Lucas yang masih nempel padanya.
"Gak, aku maunya meluk kamu terus,"Lucas malah mengeratkan pelukannya.
"Nanti, di rumah bisa sepuasnya kan,"Rania mendorong pundak suaminya sampai duduk di atas kursi kerjanya.
"Kamu gak akan bosan sayang?"Lucas menatap wajah teduh Rania yang berdiri di sampingnya.
"Enggak, sok gera mulai kerja,"Rania beranjak menuju sofa, membiarkan Lucas mulai aktivitasnya.
Di tempat lain, seorang laki-laki berbadan tegap wajah oriental berjalan memasuki halaman rumah sederhana tapi asri, tempatnya sangat nyaman ditambah dengan halaman yang sangat luas, beberapa jenis tanaman menghiasi halaman rumah itu.
"Assalamualaikum nek,"pemuda itu membuka pintu kayu didepannya.
"Waalaikumsallam, kamu kapan datang Vin?"jawab wanita tua tapi, masih kelihatan sehat itu.
"Baru aja nek, gimana kabar nenek?"pemuda tampan itu mencium punggung tangan terus memeluk neneknya.
"Baik, kabar orang tua kamu, bagaimana?"tanya neneknya.
"Alhamdulilalah ayah sama bunda baik,"jawabnya.
"Kamu gak sibuk? tumben bisa mengunjungi nenek tua renta ini,"
"Enggak, aku kangen sama nenek, jadi menyempatkan datang melihat nenek,"pemuda itu menyusul neneknya yang sudah lebih dulu duduk di atas sofa.
"Alah, kangen sama nenek atau sama Rania?"wanita tua itu mendengus mendengar ucapan cucunya.
"Ya, dua-duanya nek hehe...."pemuda itu menggaruk kepala yang tidak gatal.
"Anak itu sudah gak pergi, sekarang gak ada di sini,"ucap sang nenek.
"Hah, sejak kapan? terus kemana nek, kenapa nenek gak bilang?"pertanyaan beruntun itu membuat sang nenek bingung.
"Kata ibunya sih kerja di kota, jadi pembantu. dadar laki-laki pengecut kamu. coba dari awal muncul, pasti anak itu sudah jadi pacar kamu,"ucapnya mengejek sang cucu.yang bernama Kevin.
"Nenek kan tahu sendiri, gimana ayah sama bunda. makanya aku berusaha sendiri supaya bisa menikahi dia,"Kevin menarik napas panjang lalu menghembuskan nya dengan kasar.
__ADS_1
Di tempat lain Serly baru keluar dari taksi yang ia tumpangi, dia berjalan dengan cepat masuk ke dalam rumah pak Bambang, dirinya mengabaikan sapaan para pekerja rumah itu, wajahnya terlihat sangat emosi.
"Oma!"teriaknya begitu kakinya menginjak ruang tamu.
Bu Renata yang sedang menonton televisi di ruang keluarga langsung terlonjak kaget mendengar teriakan Serly yang tak ada sopan-sopannya.
"Serly, kamu kenapa teriak-teriak?"tanya bu Renata.
"Oma, mana tante?"bukannya menjawab Serly malah bertanya.
"Kenapa? oma lagi istirahat tadi, tiba-tiba kamu teriak-teriak, kaya di hutan saja,"oma Ratna berdiri tak jauh dari bu Renata.
"Oma, aku di di siksa sama pembantu sialan itu, terus dibantuin sama orang miskin satu lagi,"Serly berlari mendekati oma Ratna melewati bu Renata yang tetep berdiri sambil mencerna aduan Serly.
"Maksud kamu apa? bicara yang jelas supaya oma ngerti,"oma Ratna menuntun Serly untuk duduk di atas kursi.
"Siapa yang menyiksa kamu Ser? coba jelaskan,"bu Renata ikut duduk di depan dua orang itu.
"Mantu kesayangan tante yang kampungan, terus dibantuin sama asisten Lucas yang sama-sama miskin, pantas aja saling bantu, keduanya derajatnya sama. sama-sama sampah,"papar Serly. wajahnya dibuat sesedih mungkin supaya dua orang itu percaya sama ucapannya.
"Iya, siapa lagi coba. pokonya, oma harus bantuin aku buat balas mereka, tante juga ya, tante jangan mau diperdaya sama wajah kampungan itu, sebenarnya dia itu sangat licik juga jahat,"jawab Serly menggebu-gebu.
"Ser, jangan pernah sekalipun kamu menjelekan mantu saya, apalagi terus menghinanya, kamu yakin kamu lebih baik dari mantu saya?"bu Renata langsung menggeram marah, begitu Serly menghina mantu kesayangannya.
Bu Renata sama pak Bambang tak pernah sekalipun menilai orang dari statusnya. mau kaya atau miskin menurut keduanya sama saja, cuma akhlak mereka yang membedakannya. bu Renata tulus menyayangi Rania terlepas dari statusnya yang cuma seorang pembantu.
"Tapi, tante...
"Tak ada tapi-tapian, sekali lagi saya mendengar kamu menghina mantu saya, saya pastikan, bukan cuma kamu yang menanggung akibatnya tapi semua keluarga kamu,"ucap bu Renata penuh penekanan.
Bu Renata langsung bangkit dari duduknya lalu berjalan masuk kedalam.
"Ibu, ajarkan wanita yang ibu bawa itu sopan santun, biar bisa menghargai orang,"bu Renata bicara tanpa menatap dua orang yang masih duduk di tempat semula.
Setelah mengatakan itu, bu Ratna langsung bejalan menghiraukan Serly yang sudah membuka mulutnya bersiap untuk menyahut ucapan bu Renata.
"Serly, kamu jelaskan sama oma, kenapa sampai rambut kamu berantakan begini?"tanya oma Ratna.
__ADS_1
"Oma, pembantu kampungan itu menindas aku karena tak ada oma, ditambah asisten Lucas ngebelain dia, pokonya aku minta oma buat balas mereka,"Serly mengadu sama oma Ratna.
"Serly, kamu belajar dewasa nak, oma yakin kalau itu cuma salah paham aja. yang oma lihat dari istri Lucas itu anaknya baik,"oma Ratna berusaha memberi pengertian sama Serly.
"Kok, sekarang oma jadi gitu? jangan-jangan, oma sudah menerima pembantu kampungan itu ya ?"Serly menatap tajam oma.
Mungkin aku harus mulai menerima anak itu sebagai istri Lucas. aku gak mau kalau sampai Lucas membenciku.
"Oma, kenapa malah bengong? pokonya nanti oma harus marahin pembantu kampungan itu!"suara Serly sedikit meninggi karena emosi melihat oma malah bengong bukannya merespon dirinya.
"Enggak, jadi, apa kamu sudah bisa mulai kerja di sana?"tanya oma Ratna, dia berusaha mengalihkan topik pembicaraan.
"Belum, asisten Lucas tadi bilangnya aku bisa kerja sebagai karyawan biasa, karena cuma posisi itu yang lagi kosong,"Serly merengut.
"Bagus itu, kamu harus rajin cari uang, apalagi perusahaan ayah kamu sedang ada masalah kan?"ucap oma Ratna.
"Hah, kata siapa oma? perusahaan ayah baik-baik saja kok,"Serly langsung tegang mendengar ucapan oma Ratna.
"Pokonya, oma sudah tahu, sumbernya dari mana asalnya itu tidak penting "ucap oma dengan santai.
Darimana perempuan tua ini tabu masalah perusahaan ayah, padahal aku sengaja mendekati Lucas , biar bisa memeras kekayaannya, terus bisa bantuin ayah mengembalikan perusahaan yang sudah bangkrut.
"Kenapa, malah melamun Serly, bener kan kalau perusahaan ayah kamu lagi bermasalah?"tanya oma penuh selidik.
"I...iya oma, tapi, oma darimana tahu semua itu?"bicara Serly terbata-bata.
"Sudah, oma ngerti keadaan kamu. tapi untuk bantuin kamu dekat apalagi nikah sama Lucas, oma tidak bisa!"ucap oma Ratna. nadanya terdengar tegas.
"Oma, aku mohon jangan gitu, aku cinta banget sama Lucas,"Serly memohon, tangannya menggenggam tangan oma dengan erat.
"Enggak Ser, oma gak bisa bantuin kamu. lihat sendiri kan, bagaimana Lucas sangat mencintai Rania, bahkan dia berani mengabaikan permintaan oma hanya untuk menjaga perasaan istrinya,"ucap oma Ratna panjang lebar.
Sial, awas kamu pembantu kampungan. sampai kapanpun aku tidak akan rela kalau kamu bahagia apalagi mendapat banyak cinta juga kasih sayang.
***Terima kasih banyak buat yang selalu menunggu cerita aku, maaf jadwal up selalu terganggu, makasih yang udah doain aku juga.
jangan lupa like, komen, vote nya ya, happy reading semuanya***
__ADS_1