Dinikahi Majikan

Dinikahi Majikan
part 66


__ADS_3

Setelah membersihkan diri, keduanya pamit untuk pulang ke apartemen. oma Ratna yang biasanya selalu berkata pedas cuma diam, ia juga tak menolak ketika Rania mencium punggung tangannya. beruntung tukang provokasi yaitu Serly sedang ke rumah saudaranya yang di jakarta.


Lucas mulai melajukan mobil sport miliknya keluar dari halaman orang tuanya. oma Ratna memandangnya sampai kendaraan itu tidak terlihat.


"Ibu, kenapa dari tadi diam saja?"bu Renata merasa heran melihat ibunya tiba-tiba jadi pendiam, padahal biasanya selalu ngomel apalagi sama Rania.


"Tidak apa-apa, ibu mau istirahat saja,"oma Ratna langsung meninggalkan bu Renata yang masih bingung melihat perubahan ibunya.


Bu Renata menggelengkan kepalanya melihat tingkah ibunya. tak lama ia ikut menyusul masuk kedalam rumah.


Sedangkan pasutri muda masih diperjalanan karena terjebak macet, karena bersamaan dengan bubarnya pekerja.


Tangan Lucas tak terlepas sedikitpun dari jari jemari Rania. sesekali menciumnya dengan mesra.


"Kenapa?"Lucas menatap sejenak istrinya, yang sedari tadi diam saja.


"Aku, merasa ada yang beda sama oma,"Rania mengingat kembali sikap oma sebelum ia pulang.


Lucas tersenyum mendengar ucapan Rania dalam hatinya ia berdoa,"semoga oma beneran berubah, dan bisa menyayangi kamu sayang."


"Sayang, kenapa senyum-senyum?"Rania mengernyit melihat senyum tipis dibibir suaminya.


"Enggak, tadi kamu bilang sikap oma beda. beda gimana sih sayang?"Lucas mengusap kepala Rania.


"Emang, kamu gak merasa sayang?"tanya Rania.


Lucas menggelengkan kepalanya pelan.


"Biasanya, kalau oma ketemu aku suka marah-marah atau merendahkan aku. tapi, tadi kenapa diam aja,"kata Rania.


"Sudahlah sayang, semoga oma bisa nerima kamu,"Lucas meraih jari jemari Rania seperti tadi.


"Iya, tapi aneh aja, berubahnya cepat banget, meski masih belum bicara sama aku,"ucap Rania.


Setelah terbebas dari kemacetan, akhirnya kendaraan Lucas memasuki kawasan apartemen elit yang menjadi tempat tinggalnya bersama sang istri. setelah memarkirkan mobilnya Lucas menggandeng tangan Rania memasuki lift menuju unitnya.


Keduanya masuk kedalam apartemen yang sangat nyaman, karena di tempat itu mereka bisa menghabiskan waktu berdua tanpa gangguan dari siapapun.


"Sayang, aku beresin barang-barang aku dulu ya,"Rania beranjak menuju kamar tidur.

__ADS_1


Lucas melihat Rania masuk ke dalam kamar sambil membawa barang-barang yang tadi mereka bawa dari rumah mama papanya, termasuk boneka kesayangan Rania.


Harus siap-siap punya saingan, dasar boneka jelek!


Lucas menenteng laptopnya menyusul Rania ke dalam kamar. sebenarnya ruang kerjanya ada di sebelah kamar tidur, tapi ia lebih senang kerja sambil memperhatikan istrinya, meskipun kadang konsentrasinya menjadi buyar karena tergoda sama istrinya.


"Sayang, tadi mama ngasih baju. tapi aku belum lihat baju kaya gimana,"Rania bicara tanpa melihat Lucas yang sedang memperhatikannya.


"Lihat dong sayang, padahal aku udah larang mama beliin baju buat kamu sayang,"Lucas mendekat ke arah istrinya yang masih fokus mengeluarkan barang-barang dari tas.


"Ya, udah kamu yang buka. aku mau beresin ini dulu,"Rania menyerahkan paper bag berlogo merek terkenal.


Lucas menerima paper bag yang Rania ulurkan , matanya memicing ketika pandangannya menangkap sesuatu yang aneh. dengan pelan ia mengeluarkan baju yang dibelikan mamanya untuk Rania.


"Sayang, baju apa yang mama belikan?"Rania berbalik menatap suaminya.


"Baju bagus sayang,"senyum Lucas merekah ketika semua baju sudah keluar dari paper bag itu.


Rania menelan salivanya , tiba-tiba tenggorokannya terasa kering ketika melihat baju kurang bahan ditangan suaminya.


"Itu baju kah?" tanya Rania polos.


"Enggak, aku malu sayang, itu kaya saringan yang sering ibu pakai buat mengukus nasi,"Rania bergidik ketika membayangkan dirinya memakai baju itu.


"Kalau gak mau, berarti kamu gak menghargai mama sayang. aku yakin mama sayang banget sama kamu, makanya belikan baju ini,"wajah Lucas terlihat kecewa.


Melihat wajah suaminya Rania merasa tidak tega, ia juga memikirkan perasaan mama mertuanya yang sudah repot-repot membelikan baju kurang bahan.


"Ya udah, nanti aku pakai sayang,"ucap Rania.


"Beneran?"wajah Lucas langsung berbinar cerah ketika mendengar ucapan istrinya. ia sudah membayangkan tubuh istrinya dibalut pakaian yang ia pegang.


"Iya, sekarang aku mau beres-beres dulu ya,"Rania menarik baju dari tangan Lucas lalu menyimpannya kedalam lemari.


Lucas bersiul pikirannya sudah berkelana pada nanti malam. lalu ia membuka laptopnya dengan semangat. sementara sang istri sudah keluar dari kamar untuk beres-beres di luar kamar seperti ruang tamu, dapur.


Setelah dirasa bersih dan rapi, Rania bergegas membuka kulkas mencari bahan makanan yang akan ia masak.


"Sayang, wangi banget, masak apa sih?"Lucas muncul dari dalam kamar dengan pakaian yang sudah berbeda dari yang tadi.

__ADS_1


"Masak capcay sama ayam goreng, kamu sudah mandi?"tanya Rania.


"Sudah sayang, wangi kan?"Lucas mencium pipi Rania.


"Iya, udah ah jangan peluk-peluk, aku masih bau yang,"Rania meronta.


"Kamu gak bau, masih wangi kok sayang,"bukannya lepas tapi malah makin erat pelukan Lucas pada tubuhnya.


"Kamu mandi gih, biar aku yang nerusin ini yang,"Lucas mengambil alih penjepit gorengan dari tangan istrinya.


"Kamu, yakin yang?"Rania merasa tak percaya kalau Lucas bisa melakukannya.


"Yakin! udah kamu percaya aja sama suami kamu yang serba bisa ini,"ucap Lucas dengan angkuh.


"Bener ya yang, jangan sampai gosong loh ayamnya,"ucap Rania. ia berjalan meninggalkan suaminya tapi sesekali matanya menengok kebelakang.


"Pakai baju yang tadi ya yang,"teriak Lucas.


"Ogah, nanti aku masuk angin,"kata Rania dari depan pintu kamarnya.


"Kirain udah masuk kamar yang,"Lucas terkekeh melihat Rania.


Lucas menyelesaikan semuanya dengan rapi, ini bukan kali pertama ia masak. waktu dirinya jauh dari keluarga ia melakukan semuanya sendiri, meskipun kalau di rumah ia selalu dilayani.


Lucas tersenyum puas melihat makanan sudah tertata rapi di atas meja makan, ia duduk di atas kursi menunggu wanita yang belakangan ini menjadi candu buat dirinya, tak bisa berpisah walau sebentar saja.


"Wah, semuanya selesai sayang,"Rania merasa takjub melihat makanan sudah tertata rapi di atas meja.


"Sekarang, percayakan kalau suami kamu ini serba bisa,"ucap Lucas sambil menepuk dada.


"Iyalah, kita makan sekarang ya, aku lapar banget sayang,"Rania duduk di samping suaminya.


"Boleh, setelah itu aku makan kamu,"Lucas mengedipkan matanya.


"Apaan sih, mesum terus,"Rania mencebikkan bibirnya.


"Mesumnya cuma sama kamu cinta. kenapa gak pakai baju yang tadi?"Lucas menatap Rania


"Enggak, aku takut masuk angin kalau pakai baju tadi,"ucap Rania. lalu menyerahkan piring yang sudah ia isi dengan nasi juga lauk pauknya kepada Lucas.

__ADS_1


Keduanya tertawa bahagia, kehidupan begini yang membuat keduanya tenang, tanpa gangguan dari manapun.


__ADS_2