
Rania melangkahkan kakinya menuju ruangan kelas. bibirnya selalu dihiasi senyum kecil atau membalas sapaan teman-teman yang menyapanya, meskipun tidak terlalu akrab tapi mereka saling sapa ketika berpapasan.
Sesampainya di kelas rupanya sudah banyak yang hadir, tak terkecuali Firda sahabat dekatnya selama ia masuk kuliah.
"Heh, jadi, gimana Ran, positifkan?"Firda langsung bertanya dengan heboh begitu Rania duduk disampingnya.
"Jangan kenceng-kenceng dong, tuh lihat yang lain pada ngelihatin, gak malu apa,"bisik Rania, tangannya menunjuk teman yang sedang melihatnya.
"Maaf, habisnya aku penasaran banget Ran, jadi, benarkan?"tanya Serly, suaranya lebih pelan sekarang.
"Iya, Alhamdulilah, tadi aku juga udah periksa sama dokter kandungan,"jelas Rania dengan binar bahagia.
"Wah, ya ampun, aku bakal punya ponakan serius Ran?"Firda langsung memeluk Rania dengan erat.
"Iya, jangan diajarin yang jelek-jelek ya, amit-amit jangan sampai kelakuannya kaya kamu,"ledek Rania.
"Engga, aku bakal ajarkan dia cara menggaet cowok tampan, juga kaya raya,"Firda mengangkat dagunya.
"Cih, lo aja gak punya pacar, sok-sokan mau ngajarin gaet cowok ganteng plus kaya raya lagi. sebelum itu mending kamu dulu nyari,"kata Rania.
"Ya, elah Ran, jujur amat sih,"ucap Firda, tangannya menggaruk pelipisnya.
Keduanya asyik saling bercanda, sampai tak menyadari ada pasang mata yang memperhatikan nya. perempuan itu berkali-kali mengucek matanya untuk memastikan penglihatannya. setelah benar-benar yakin wanita itu melangkahkan kakinya menuju Rania yang sedang bercanda sama Firda.
"Huh, jadi ini beneran lo, Rania, gadis miskin sok cantik,"ucap gadis itu dengan angkuh.
Semua pasang mata yang ada di ruangan itu langsung menatap ke arah sumber suara, karena suara Viola yang cukup keras.
"Ups, maaf semuanya. kalian jadi tahu, kalau sebenarnya dia....
"Selamat pagi semuanya,"tiba-tiba Kevin masuk. hal itu membuat Viola gelagapan dan langsung duduk di belakang kursi Rania.
Kevin menatap tajam Viola yang sedang menatapnya, sebenarnya tadi ia sempat mendengar ucapan wanita yang akan menghina Rania. Kevin sudah tahu kelakuan perempuan yang dijodohkan sama dirinya itu, dari dulu Rania selalu jadi bahan bully-an Viola bersama teman-temannya.
Akhirnya kelas kembali tenang, semuanya menyimak pelajaran yang sedang disampaikan oleh dosen. sementara Viola sangat kesal karena niatnya untuk mempermalukan Rania harus ia tunda. tangannya menulis di atas kertas lalu melemparkan kearah meja Rania.
__ADS_1
Rania membuka kertas yang dilemparkan Viola ke atas mejanya. lalu membukanya, ia menarik napas panjang ketika membaca isi kertas itu, sungguh dirinya tak pernah menyangka akan mendapat perlakuan seperti waktu sekolah dulu. Viola adalah orang yang menyebabkan dirinya hampir keluar dari sekolah.
Firda merebut kertas dari tangan Rania lalu membacanya. matanya melirik Rania dari samping tampak mata sahabatnya itu berkaca-kaca, entah gara-gara tulisan itu atau karena hal lain yang Rania ingat. ia langsung mengelus tangan Rania berniat menguatkan, jujur ia merasa penasaran dengan semua itu. tapi tak mungkin dirinya bertanya sekarang karena dosen masih menerangkan pelajaran di depan sana.
Setelah kelas selesai Rania bergegas keluar dari kelasnya, ia sangat malas kalau harus berpapasan sama Viola. lebih baik ia menjauh dari masalah daripada dirinya yang kena, apalagi sekarang dirinya sedang hamil, Rania takut akan berdampak pada kandungan juga emosinya, kalau dulu mungkin dirinya bisa santai tapi tidak untuk sekarang.
"Rania, tungguin dong. kamu kenapa sih cepat banget,"Firda setengah berlari menyusul Rania yang sudah lumayan jauh.
"Aku, malas ketemu sama Viola Firda, makanya cepat-cepat keluar lah,"Rania sedikit melambatkan jalannya.
"Pokoknya, kamu harus jelasin semuanya Ran, kayanya tuh anak baru benci banget sama kamu, sampai ngancam-ngancam segala,"Firda berjalan di samping Rania.
"Kapan-kapan aja ya, sekarang suami aku udah nungguin tuh di depan,"Rania menunjuk mobil Lucas yang sudah menunggunya di tempat biasa.
"Wah, makin dimanja aja sekarang, pasti bakal posesif banget suami kamu karena kamu hamil Ran,"cerocos Firda.
"Iya, doain lancar ya Fir,"
"Siap, itu pasti lah, awas lupa jelasin yang tadi,"ucap Firda.
"Siap, aku duluan ya. eh kamu udah dijemput belum?"Rania melihat kanan kiri, biasanya sopir pribadi Firda sudah nunggu. tapi sekarang ia tak melihatnya.
"Fir, kamu, gak papa-papa kan?"Rania menatap manik Firda dalam.
"Enggak, udah buruan sana. kasian suami ganteng kamu nungguin tuh, jaga kandungannya ya bumil,"Firda langsung ceria kembali, ia tak mau kalau sahabatnya itu tahu kalau dirinya lagi ada masalah.
"Pasti, aku duluan ya, by Firda,"Rania melambaikan tangannya, lalu berjalan mendekati suaminya yang sudah berdiri di samping mobil menunggu dirinya.
"Kak, hati-hati ya bawa mobilnya, jaga bumil nya baik-baik!"ucap Firda, suaranya sedikit tinggi.
Lucas mengacungkan jempolnya sebagai jawaban, setelah memastikan Rania duduk dengan nyaman, Lucas menutup pintu mobil lalau memutari mobilnya menuju kursi kemudi.
"Gimana kuliahnya, sayang?"Lucas memasang sabuk pengaman untuk istrinya.
"Biasa, lancar jaya,"
__ADS_1
"Syukurlah, kamu mau kemana dulu gitu yang?"Lucas mulai melajukan mobilnya kejalan raya yang lumayan padat.
"Aku, mau makan seblak boleh gak yang? biasanya waktu di Bandung aku suka banget jajan itu, kalau ada uangnya hehe...."Rania cengengesan.
"Seblak, itu nama makanan? kok aku baru dengar yang,"Lucas mengerutkan keningnya.
"Iya, itu makanan, enak banget sayang. kamu mana tahu, makanan kamu selalu yang sehat-sehat, harus seimbang pula,"jelas Rania.
"Jadi, itu makanan gak sehat, enggak ah, jangan ya, mending yang lain aja yang,"Lucas langsung menolak ketika dengar ucapan istrinya.
"Bukan gitu, maksud aku yang biasanya tersaji di rumah kan kebanyakan sayur sama daging-daging gitu,"Rania jadi bingung, ia sudah terbayang makan seblak yang pedas, pasti enak banget.
"Enggak, mending kita makan di rumah aja ya,"Lucas tetep menolak, Rania berkaca-kaca mendengar ucapan Lucas.
Lucas melirik istrinya yang tak menyahuti ucapannya, betapa terkejutnya karena ia melihat air mata meleleh dipipi Rania.
"Hey, kenapa malah nangis sayang? aku minta maaf kalau ucapan aku bikin kamu nangis, udah dong kasian yang di perut kalau mamanya nangis,"
"Makanya, belikan aku seblak ya, ini aku lagi ngidam loh, kalau gak dituruti, nanti bayinya ileran, kamu mau?"
"Hah, bisa gitu emangnya, jangan ngada-ngada sayang. aku gak percaya,"
"Terserah!"ketus Rania, ia memalingkan pandangannya ke samping, melihat jejeran pedagang kaki lima yang entah kenapa,makanan di sana membuat dirinya menelan air liur.
Lucas benar-benar tak menuruti permintaan Rania. sampai mobil itu berhenti di halaman rumah orang tuanya.
Rania bergegas turun dari mobil tanpa menunggu suaminya, ia menghentakkan kakinya berkali-kali, entah kenapa dirinya merasa sangat jengkel karena tak dituruti kemauannya. ia langsung berlari menuju ke dalam kamarnya.
"Luc, istri kamu kenapa?"bu Renata merasa aneh melihat Rania yang tidak seperti biasanya.
"Marah, gara-gara minta makanan aneh tadi,"
"Makanan aneh apaan sih?"
"Seblak, nah makanan itu, mama tahu?"
__ADS_1
"Tahu, Bi Tuti pernah bikin, kenapa gak dibeliin, kasian loh mungkin istri kamu itu ngidam, kalau anak kamu ngeces gimana, mau kamu?"tanya bu Renata.
"Hah, emang bisa gitu ma? aneh tahu gak, masa masih dalam perut udah bisa gitu,"Lucas memijit pelipisnya. ia benar-benar harus banyak belajar tentang kehamilan, meskipun bukan dirinya yang hamil.