Dinikahi Majikan

Dinikahi Majikan
part 142


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Lucas sudah mengirim pesan sama Hendrik untuk mengabarkan kalau dirinya tidak ke kantor, ia akan menemani istrinya periksa kandungan, padahal bu Renata sudah meminta putranya itu buat ke kantor, dirinya siap mengantar Rania seperti biasa ke dokter kandungan.


"Kamu, jadi liburnya Luc, padahal mama sudah bilang biar aja sama mama periksa nya,"


"Aku suaminya ma, heran deh, kenapa jadi mama yang semangat banget, padahal aku yang punya saham loh,"ujar Lucas.


"Cuma nanam saham aja bangga, tuh yang bawa kemana-mana yang harusnya bangga, bukan kamu."Bu Renata mendengus mendengar ucapan anaknya.


"Bangga dong, setidaknya aku ada andil, coba mamah, gak ada andil apa-apa hebohnya melebihi istriku,"Lucas mencibir.


Rania tersenyum mendengar obrolan antara ibu dan anak itu, mereka lagi santai sehabis sarapan, pak Bambang sedang fokus menonton televisi ia tak begitu nyimak obrolan Lucas sama mamanya itu.


"Berangkatnya jam berapa ma?"tanya pak Bambang.


"Nanti siang pah, biasanya sekarang masih praktek di rumahnya, jadi nanti siang baru ke rumah sakit,"sahut bu Renata.


"Masih lama?"tanyanya lagi.


"Lumayan, emang papa mau apa sih?"


"Mau tidur, ngantuk papah gara-gara semalam kurang tidur,"jawab pak Bambang.


"Hayo, kalian ngapain sampai kurang tidur, ingat mah, pah, aku gak mau punya adik lagi, udah telat lah."


"Siapa juga yang mau nambah anak, punya kamu aja udah cukup buat mama, sekarang kita lagi nunggu cucu launching, bukan anak!"Bu Renata menimpuk Lucas menggunakan bantal sofa.


"Udah yang, dari tadi godain mama terus ikh, mending kamu ke kantor deh, siapa tahu ada meeting penting hari ini, aku gak papa sama mama periksa nya,"ucap Rania.


"Kamu gak senang aku temani yang?"


"Bukan, senanglah kalau ditemani suami, tapi aku takut ganggu kerjaan kamu,"jelas Rania.


"Ngga pernah ganggu, urusan kerjaan bisa nanti-nanti, tapi urusan keluarga itu penting banget,"


Akhirnya Rania memilih diam, lagi-lagi percuma kalau berdebat sama Lucas, pasti dirinya akan kalah.

__ADS_1


Sebenarnya Lucas sedang menunggu orang yang akan memasang cctv di rumahnya, selama tinggal di rumah itu belum pernah kepikiran buat masang alat itu karena merasa aman-aman saja, tapi sekarang ia takut ada orang yang berniat buruk sama keluarganya.


*****


Di tempat lain, Shela sedang bertemu sama orang yang akan menyelidiki tentang kehidupan Lucas, ia rela mengeluarkan uang tabungannya hanya untuk membayar orang biar ia bisa tahu apa saja yang terjadi sama Lucas, bagaimana bisa menikah, dan semua tentang keluarganya termasuk menyelidik istri Lucas yaitu Rania.


"Saya minta kamu mencari tahu dengan sangat rinci, jangan ada yang terlewat sedikitpun,"ucap Shela.


"Siap bu, asal bayarnya sesuai saya pasti akan menjalankan tugas dengan baik,"


"Bagus, saya minta kamu bergerak dengan cepat, jangan sampai ketahuan, kalau sampai itu terjadi, saya tidak akan memberikan bayaran kamu!"ancam Shela.


Rupanya gue kerja sama orang gila, belum apa-apa sudah ngancam.


Setelah membuat kesepakatan sama detektif tadi, Shela bergegas meninggalkan cafe itu, ia langsung menuju rumah sakit karena maminya sedang dirawat gara-gara darah tingginya kambuh.


Dengan langkah lebar Shela masuk ke dalam ruangan maminya, terlihat di atas brankar maminya masih terlihat lemah.


"Shel, kamu sudah datang?"Ambar menatap Shela.


"Lumayan, tidak pusing seperti tadi, gimana urusan kamu, sudah selsai?"


"Sudah mi, tinggal nunggu hasil, setelah itu kita langsung melaksanakan rencana kita,"jelas Shela.


"Baguslah, semoga Lucas itu sudah menjadi pengusaha kaya raya, biar kamu sama mami ada yang jamin nanti, pokoknya kamu harus bisa menyingkirkan istrinya itu, kalau perlu lenyap kan sekalian biar gak jadi penghalang."


"Iya, kita pikirkan nanti mi, sekarang yang penting mami sembuh dulu, jangan banyak pikiran,"


"Iya, mana makanan yang tadi mama pesan, mama gak mau makan makanan rumah sakit, hambar gak ada rasanya."Ambar menanyakan makanan yang ia inginkan.


Shela mengambil kantung plastik yang tadi ia bawa, lalu mengambil mengambil cup makanan berisi nasi goreng yang menggugah selera.


"Makan sampai habis ya, setelah itu mami tidur sebelum nanti dokter datang,"ucap Shela.


Shela menyuapi maminya dengan telaten, meskipun sering marah-marah tapi Shela sangat menyayangi maminya itu, cuma Ambar yang dia punya di dunia ini.

__ADS_1


Setelah semua makanan habis, Shela memberikan segelas air putih ke depan maminya.


"Sekarang mami tidur, nanti siang Shela kerja ya, gak papakan mami sendiri dulu selama Shela kerja?"tanya Shela.


"Iya, mami gak papa kok, kamu kerja aja yang rajin, pasti bayar orang buat menyelidiki Lucas itu sangat mahal,"jawab maminya.


"Iya, aku bakal kerja yang rajin mi, semoga nanti Lucas bakal jadi milik aku lagi, biar hidup kita ada yang menanggung."kata Shela dengan percaya diri.


"Iya, ya sudah mami tidur dulu,"


Setelah maminya terlihat tidur, Shela langsung keluar dari ruang rawat maminya. perutnya terasa lapar karena belum terisi apapun sejak pagi, ia lebih mementingkan maminya yang lagi sakit daripada perutnya sendiri.


Shela langsung menuju kantin rumah sakit yang menjadi tujuan utamanya, begitu masuk ia langsung memesan makanan setalah itu ia duduk di salah satu kursi yang masih kosong, kebetulan kantin sedang tidak terlalu ramai, cuma ada beberapa orang yang sedang makan terlihat di sana.


Mobil pak Bambang memasuki plataran rumah sakit tempat biasa Rania memeriksa kandungannya, ia sudah punya jadwal sendiri karena sebelum berangkat bu Renata sudah meminta no untuk mantu kesayangannya itu.


"Ma, papa mau pergi sebentar, ada teman papa katanya lagi di kota ini, dia ngajak papa ketemuan,"ucap pak Bambang.


"Siapa? laki-laki perempuan temennya?"selidik bu Renta.


Lucas saling pandang sama istrinya, setelah itu mereka berdua berusaha menahan tawa melihat mamanya yang terlihat waspada.


"Ferdy ma, yang waktu itu kita ketemu di Bali, mama gak lupakan, tenang saja papa gak ketemu sama teman perempuan kok,"jelas pak Bambang.


"Mana ponsel papa, mama mau lihat dulu pesan untuk memastikan!"Bu Renata meminta ponsel pak Bambang.


"Aduh, ibu hamil pegel ini, kasian, kok banyak sekali drama ya, mending ikut aja lah ma, biar mama yakin,"goda Lucas.


"Hus, kamu jangan godain mama, aku juga bakal kaya gitu nanti, siap-siap aja kamu."Rania menatap tajam suaminya.


"Aku malah senang kalau kamu kaya gini, itu tandanya kamu cinta sama aku,"ujar Lucas.


Sementara bu Renata sedang fokus melihat ponsel suaminya, ia melihat semua pesan riwayat telepon tak ada yang terlewat.


"Udah pah, mama percaya, tapi kalau nanti kita udah selesai, papa harus langsung datang ya."Bu Renata mengembalikan ponsel suaminya.

__ADS_1


"Iya nya, siap laksanakan!"


__ADS_2