Dinikahi Majikan

Dinikahi Majikan
part 110


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, Lucas sudah rapih dengan setelah kerjanya. Rania sengaja bangun lebih awal terus mengurus kebutuhan suaminya.


"Jangan lupa makan ya, kalau aku gak ngabarin pasti sibuk sayang, mungkin kerjaan udah numpuk di atas meja,"Lucas memeluk Rania sebelum masuk ke dalam mobil.


"Iya, tapi jangan lupa makan ya, semangat kerjanya,"ucap Rania.


"Iya sayang, jangan capek-capek di rumah, kalau butuh apa-apa minta tolong sama bibi,"Lucas mengecup kening istrinya lama.


"Iya, aku gak bakal ngapa-ngapain sayang, mau makan sama tidur aja,"


"Bagus, sayang ayah kerja dulu ya, kamu jagain bunda oke, bilangin kalau bunda nakal,"Lucas mengusap perut Rania dengan lembut.


"Ciap ayah,"Rania menirukan suara anak kecil.


Lucas melambaikan tangannya pada Rani, ia langsung melajukan mobilnya membelah jalanan ibu kota yang belum terlalu padat, sementara Rania langsung masuk ke dalam rumah setelah mobil suaminya tak terlihat karena sudah berbaur dengan kendaraan lain.


Lucas tiba lebih awal di kantor, para karyawan baru sebagian yang datang, sebenarnya ia malas berangkat, lebih enak di rumah berdekatan sama istri cantiknya, daripada berhadapan dengan kertas-kertas juga layar komputer yang bikin pusing.


"Pagi pak,"sapa beberapa karyawan yang berpapasan dengan dirinya.


Lucas cuma tersenyum membalas sapaan mereka, itu udah mending daripada sebelum nikah, wajahnya datar se-datar tembok tetangga.


Setelah pintu lift terbuka, Lucas segera masuk menuju ruangannya. ketika sampai ia langsung keluar dari dalam lift lalu berjalan menuju ruangannya.


Begitu pintu terbuka benar saja dugaan dirinya, meja kerjanya sudah penuh dengan tumpukan kertas yang akan menyita waktunya seharian, bahkan kalau ada meeting di luar ia tak yakin kalau kerjaan itu akan selesai satu hari.


"Huft, kerjaan Hendrik sialan itu apa sih, kenapa malah numpuk di sini,"Lucas menjatuhkan bobotnya di atas kursi kebesarannya.


Tangannya mulai memeriksa satu-persatu kertas-kertas itu, ia juga membubuhkan tanda tangannya di atas kertas. kalau dulu dirinya kuat seharian berkutat dengan semua itu, tapi sekarang rasanya sudah tak sanggup. apalagi kalau mengingat sang istri di rumah, rasanya ia ingin sekali pulang terus berduaan. sebelum nanti akan terganggu dengan buah cinta mereka berdua.


Hendrik yang sudah tau kalau bosnya sudah masuk, begitu sampai, ia langsung menuju ruangan Lucas.

__ADS_1


Tok tok tok


Hendrik mengetuk pintu di depannya, kadang sikap hormatnya datang tapi kalau lagi lupa ia suka langsung nyelonong masuk. meskipun dapat tatapan sinis dari sang empunya ruangan tapi mana bodo amat Hendrik tak peduli.


"Masuk!"Hendrik mendengar suara bos sekaligus sahabatnya itu.


"Hai bos, gimana, sehat?"tanyanya. Lucas mengangkat wajahnya.


"CK, kerjaan lo apaan selama gue tinggal?"Lucas menatap sinis, laki-laki di depannya.


"Hahaha kerjaan gue banyak bro, yang ada di depan lo mah dikit, bayangkan dua minggu, dua minggu!"Hendrik tergelak mendapat tatapan sinis sabatnya.


"Banyak dari mimpi, gak mungkin sampai berkas numpuk di sini kalau lo kerjain pas gue gak ada,"


"Itu mah jatah elu, jangan banyak bicara kerjain biar cepat kelar, nanti jam 11 kita meeting di restoran jepang bro,"


"Bisa gak sih, kalau perginya elu sendiri, biar gue tenang ngerjain semua ini?"Lucas menunjuk kertas-kertas di depannya.


"Hahaha bukannya udah biasa, sama cewek aja sering ditolak, "


"Seneng Kan, temen sendiri susah bukannya dihibur, eh malah diketawain, temen macam apa lo!"Hendrik mendelik sebal. ia sudah menduga kalau cerita akan diketawain, tapi kalau enggak, malah bakal jadi masalah pada kerjaan.


"Eh, kemarin bokap marah, untung gue jelasin sebelum merembet kemana-mana,"Hendrik langsung menegakan duduknya.


"Marah gimana? kemarin udah ngomong sih, cuma gak bilang dia kalau marah-marah di sini,"tanya Lucas.


"ya gitu, pas pak Hendra bilang kalau kita memutuskan kerja sama secara sepihak, Om Bambang langsung bentak gue, untungnya bukan di ruang meeting,"jelas Hendrik.


"Sorry, gue yang salah dalam hal itu, harusnya gue bilang sama bokap, gue kira gak bakal jadi masalah panjang kaya gini,"Lucas menatap Hendrik, ia merasa tak enak gara-gara dirinya sahabatnya yang kena imbas.


****

__ADS_1


Lucas terpaksa meninggalkan kerjaan yang masih menumpuk di atas mejanya, ia harus keluar terlebih dulu untuk meeting di luar kantor.


"Wina, kalau ada yang nyari saya, bilang saja lagi keluar,"Lucas menghampiri meja kerja sekertaris nya terlebih dulu sebelum pergi.


"Baik pak!"


Setelah itu ia langsung menghampiri Hendrik yang sudah menunggunya. mereka menggunakan mobil Lucas yang di kemudikan sama Hendrik.


"Kangen gue pakai mobil ini,"ujar Hendrik. Lucas menyeringai mendengar ucapan Hendrik.


"Pakai saja, nanti gue beli mobil baru,"ucap Lucas dengan entengnya.


"Kaya beli kerupuk aja! gue bukan mau bego, cuma kangen aja. dulu sebelum lo nikah tiap hari gue jadi sopir pribadi kan,"Hendrik mencibir. buat Lucas mobil baru bukan lah masalah susah, tapi ia tak mau kalau gara-gara dirinya Lucas sampai beli mobil baru.


"Serius gue, kemarin nawarin istri gue mobil baru, malah nolak katanya gak bisa bawa, belum butuh, banyak alasan pokoknya,"Lucas mengingat ucapan sang istri ketika di tawarin mobil.


"Adik gue bukan cewek matre bos, coba kalau cewek lain, tanpa ditawarin pasti merengek sendiri, minta ini itu,"sahut Lucas.


Selama perjalan itu, keduanya ngobrol segala hal, termasuk soal Hendrik yang diminta orang tuanya untuk kembali ke singapore.


Akhirnya keduanya sampai di tempat yang sudah klien mereka tentukan, untungnya mereka datang terlebih daripada klien mereka.


"Bos, setelah meeting selesai, nanti pak Hendra mau ke sini, kamu bawa bukti yang tadi gue bilangkan?"tanya Hendrik. matanya masih fokus pada pada layar ponselnya.


"Baguslah, biar cepat kelar, capek gue berurusan sama mereka, bikin pusing aja,"


Lucas merogoh saku jasnya mengambil ponsel, sambil menunggu klien datang. Lucas berniat menghubungi istri cantiknya. tapi baru mau mengetik pesan, orang yang mereka tunggu sudah datang.


"Selamat siang, maaf membuat anda menunggu lama pak Lucas sama pak Hendrik,"laki-laki berbadan agak gemuk itu menyapa Lucas sama Hendrik.


Kening Luca mengerut, alisnya menyatu ketika melihat wanita yang datang bersama kliennya itu.

__ADS_1


"Lucas.....


__ADS_2