Dinikahi Majikan

Dinikahi Majikan
part 102


__ADS_3

Rania membuka pintu kamar, ia melihat Lucas yang baru keluar dari kamar mandi.


"Darimana, sayang,"tanya Lucas. Rania berjalan mendekati suaminya.


"Lihat ibu tadi, kamu mau makan sama apa, sayang?"tanya balik Rania. ia mengambil handuk kecil dari tangan Lucas, lalau membantu mengeringkan rambut suaminya.


"Eum, ibu masak apa emang yang?"Lucas menjatuhkan bokongnya di atas kursi depan meja rias Rania.


"Ibu, bikin ayam bakar sayang, sama sambel terus lalapan. kamu gak papa kalau makan sama itu?"tanya Rania.


"Gak papa, aku suka ayam bakar kan, asal sambalnya jangan terlalu pedas aja,"jawab Lucas. ia langsung memeluk tubuh Rania, wajahnya ia tenggelamkan di atas perut buncit istrinya.


Rania mangut-mangut sambil mengusap-ngusap rambut Lucas menggunakan handuk.


"Tapi, aku mau sambalnya pedas banget, boleh ya?"tanya Rania. Lucas langsung menggelengkan kepala tanda tak memperbolehkan.


"Kenapa? aku udah lama gak makan yang pedas-pedas yang,"Rania menghentikan usapannya pada rambut Lucas.


"Sayang, istri aku yang cantik, kamu kan lagi hamil, masa mau makan pedas, gak kasian sama dede yang di dalam?"tanya Lucas.


Akhirnya Rania diam, tak merengek lagi. kalau udah bahas anak, ia juga tak mau egois karena mementingkan dirinya sendiri.


Setelah dirasa rambutnya agak kering, Rania mengambil baju lalu memakaikan ke tubuh suaminya. Lucas menurut ketika istrinya mengangkat tangannya terus memasukan baju kaos berwarna putih serasi dengan warna dress yang ia kenakan.


"Gak, sekalian sayang?"tanya Lucas. Rania menyerahkan celana ke tangan Lucas.


"Ngga, pakai sendiri kalau itu,"jawab Rania. ia memalingkan wajahnya ketika Lucas memakai celana dengan santai di depan sang istri.


"Kenapa?"Lucas menaik turunkan alisnya, ketika melihat Rania melengos ke arah lain.


"Kamu, gak malu, pakai celana langsung di depan aku?"Rania nanya balik, wajahnya masih melihat ke arah lain.


"Ngga, kenapa harus malu? kamu udah sering lihat aku tel...... kan,"Lucas mendekati tubuh Rania yang sedang duduk di atas tempat tidur.


"Diam, jangan ngomong kaya gitu sayang, kalau ada yang dengar gimana,"Rania menatap tajam Lucas.


"Biarkan saja, kita udah suami istri, wajar kalau lihat suami tel......


Tok Tok Tok


Ucapan Lucas terpotong, ketika terdengar suara ketukan di pintu kamar.

__ADS_1


Rania bangkit dari duduknya, ia kemudian berjalan membuka pintu kamar. sementara Lucas memakai celananya setelah itu mengekor Rania.


"Ran, itu ada Selin, katanya mau ketemu, kamu,"ucap bu Lilis.


"Oh, iya bu, suruh tunggu sebentar ya,"


Bu Lilis mengangguk mengiyakan, setelah itu, ia langsung pergi dari hadapan anaknya.


Rania membalikan badannya, tapi kepalanya langsung membentur dada Lucas yang sudah berdiri di belakangnya.


"Sayang, kirain masih di dalam,"Rania mengusap kening yang kena dada suaminya.


"Maaf, maaf sayang, sakit ya?"Lucas menganti tangan Rania dengan tangannya mengusap kening sang istri, setelah itu menciumnya berkali-kali.


"Masih sakit?"tanya Lucas. Rania menggelengkan kepalanya.


"Tadi, ibu ngapain?"Lucas membingkai wajah Rania dengan kedua tangannya.


"Eum, itu ada Selin, katanya mau ketemu sama aku,"Rania mengecup pipi Lucas dengan lembut.


"Tumben, biasanya aku yang mulai,"Lucas menaikan alisnya sebelah.


"Gak, boleh ya?"tanya Rania.


Cup


Rania mengecup kembali pipi Lucas. setelah itu ia langsung menggandeng tangan suaminya menuju ruang tamu.


"Hai, Selin, maaf ya, kamu nunggu lama,"


Gadis yang sedang fokus memperhatikan layar ponsel itu langsung mendongak, begitu mendengar suara Rania.


"Eh, karan, ngga papa ko, aku ganggu kaka ya?"Selin tersenyum manis, begitu melihat Lucas wajahnya terlihat pias, mungkin takut atau grogi, entahlah kenapa.


"Karan?"beo Lucas. ia melirik sang istri meminta penjelasan.


"Oh, itu yang, maksudnya kak Rania gitu, tapi kata Selin, itu kepanjangan makanya disingkat jadi karan,"Rania menjelaskan pada sang suami.


Lucas mangut-mangut, ia kemudian menyusul istrinya yang sudah lebih dulu duduk di atas sofa.


Selin memperlihatkan kedua orang yang duduk di depannya, ia merasa bahagia melihat Rania yang sekarang.

__ADS_1


"Karan, kata emak, waktu itu karan kerumahnya ya?"tanya Selin.


"Iya, tapi cuma sebentar, udah mau magrib soalnya, nungguin kamu lama pulangnya,"jawab Rania.


Keduanya ngobrol segala macam, Lucas cuma jadi pendengar, sesekali ia ikut tertawa ketika mendengar obrolan yang lucu dari keduanya.


"Sayang, aku ke kamar dulu ya, lihat email bentar,"pamit Lucas. Rania mengangguk tanda mengiyakan.


"Karan, aku bahagia lihat Karan sekarang. semoga hidup kaka bahagia terus, jangan sedih-sedih kaya dulu,"Selin berkata lebih santai daripada saat masih ada Lucas.


"Makasih, kamu jangan lupa belajar, kata ibu kamu, sekarang gak juara lagi, kenapa?"tanya Rania.


"Iya, dulukan, ada kaka yang sering ngajarin aku, tapi sekarang, kalau aku gak bisa, bingung mau nanya siapa,"lirih Selin. Rani menarik napas panjang, ia tahu kondisi ekonomi keluarga Selin.


"Eum, kamu, mau ikut les ga?"tanya Rania. dirinya merasa kasian melihat Selin, ia sudah menganggap Selin adiknya sendiri.


"Mau, tapi Karan tau sendiri gimana ekonomi ibu sama bapak, bisa bayar sekolah aku sama adik aku aja udah Alhamdulilah banget,"jawab Selin.


"Biar aku yang bayar, kamu cukup fokus belajar aja, jangan pikirkan masalah biaya les ya,"


"Hah! jangan Karan, aku gak enak sama suami kaka, mending uangnya Karan tabung, kan sebentar lagi akan ada dede bayi,"Selin menolak keinginan Rani.


"Ga papa, suami aku baik kok. besok kita cari tempat les ya, pokonya kamu harus juara seperti dulu, syukur-syukur nanti dapat beasiswa untuk kuliah,"


"Tapi, aku gak enak Karan, selama ini juga ibu udah baik sama keluarga aku, kalau ibu gak punya uang buat beli beras, pasti ibu Lilis ngirim ke rumah sama sembako yang lainnya. katanya sekarang ibu Lilis ada rezeki lebih,"papar Selin. Rania merasa bangga sama ibunya, meskipun sekarang ekonominya sudah lebih baik, tapi ia tak lupa sama orang yang membutuhkan.


"Syukurlah, ibu kamu juga dulu gitu, waktu aku sama ibu kesusahan, kalian pasti memberi sama kita, meskipun kalian juga sama-sama kekurangan,"Rania mengusap air matanya.


Keduanya hanyut mengenang masa lalu. Rania yang tak pernah main merasa senang karena selalu ada Selin datang ke rumahnya, jadi tak terlalu kesepian.


"Ran, kita makan dulu yu, ajak sekalian sama Selin, terus suami kamu, ibu udah selesai masak nih,"teriak bu Lilis dari arah dapur.


"Iya ibu ratu,"teriak Rania tak kalah kencang daripada suara ibunya.


"Yuk, kita makan dulu, kamu ke dapur duluan aja, aku ke kamar dulu, manggil suami aku,"ucap Rania. ia beranjak menuju kamar tidurnya.


Sementara Selin langung menuju dapur, ia sudah biasa makan di rumah itu. apalagi semenjak Rania tinggal di kota, bu Lilis selalu meminta dirinya untuk menemani karena merasa kesepian, untungnya tak lama ada bik Tuti pulang.


"Sayang, kita makan dulu yu, ibu udah teriak-teriak kaya tarzan tuh,"ajak Rania.


Lucas langsung memeluk istrinya dengan erat, seakan ia takut kalau Rania akan meninggalkan dirinya.

__ADS_1


"Kenapa?"


__ADS_2