
"Sayang, aku kayanya makan di dapur aja ya, gak kuat kalau di sini, mual banget,"bisik Rania.
"Jangan, masa di dapur sih sayang. kamu itu nyonya di rumah ini, masa makan di dapur,"Lucas menggelengkan kepalanya tak terima. ia pikir yang harus keluar dari ruangan itu lebih baik yang cuma numpang.
"Kenapa sih bisik-bisik?"ketus Serly.sambil tangannya menyuapkan nasi kedalam mulutnya.
"Heh, lo bisa pindah gak makannya?"Lucas menatap tajam Serly yang masih asyik dengan makanannya.
"Kenapa sih? tega banget kamu ngusir aku Luc,"wajah Serly tiba-tiba sendu.
"Ada, apa Lucas?"bu Renata melerai kedua orang itu.
"Rania, mual gara-gara parfum murahan punya dia,"Lucas mendelik.
"Serly, tante mohon, bisa gak makannya pindah ke dapur atau ke pinggir jalan,"bu Renata langsung mengerti.
"Emang, kenapa tan? kok pada tega banget sih, mentang-mentang tidak ada oma, pada jahat banget sama aku,"Serly mendengus, mendengar ucapan bu Renata.
"Sekarang, Rania itu lagi hamil muda. dia mual gara-gara parfum yang kamu pakai,"
"Alah, pasti cuma alasan aja, lagian cuma hamil aja kok sampai lebay banget sih,"Serly menatap tajam Rani yang masih menutup hidungnya.
"Dasar, tak tahu malu!"Lucas langsung mengandeng Rania keluar dari ruang makan. sedangkan tangan satunya membawa piring berisi makanan milik Rania.
"Lucas, aku nebeng ke kantor ya, mungpung kamu berangkat dari sini,"teriak Serly dari ruang makan.
"Jangan, mimpi. sampai kapanpun tak akan pernah mau bawa cewe kaya lo di mobil gue,"
Lucas makan satu piring berdua sama istrinya, ia menyuapi Rania dengan telaten, Lucas berubah jadi suami yang protektif sekali terhadap Rania. semua akan ia lakukan untuk sang istri apalagi sekarang ada buah cintanya di dalam perut Rania.
Melihat keromantisan Rania sama Lucas. Serly berkaca-kaca, selama ini tak ada laki-laki yang benar-benar menyayanginya dengan tulus. dirinya sangat iri melihat bagaimana sayangnya Lucas sama Rania, padahal ia tahu kalau Rania cuma anak yatim yang berasal dari kampung. sedangkan ia sendiri merasa dirinya sangat pantas untuk mendampingi Lucas. tetapi kenapa Lucas malah lebih memilih Rania.
Padahal dulu kamu sering belain aku kalau diganggu anak lain, meskipun kamu tak banyak bicara, apa bagusnya gadis kampung itu dibanding aku Luc.
__ADS_1
"Kamu, belum berangkat Serly? kenapa malah lihatin mereka,"bu Renata menepuk bahu Serly, membuat Serly terlonjak kaget.
"Aku, nunggu Lucas tante, mau nebeng hehe...."
"Lucas, bakal berangkat siang Ser,"
"Kenapa tante?"
"Soalnya Rania masuk siang, sekalian mau periksa kehamilan Rania sama tante Dina,"bu Renata hendak meninggalkan Serly, tetapi langsung dicegah sama Serly.
"Kenapa? kamu gak punya uang buat naik taksi?"bu Renata menatap Serly.
"Punya kok, tante, aku mau tanya apa benar Rania hamil tan?"
"Iya, udah dicoba pakai testpack, tapi buat lebih yakin tante akan periksa sama tante Dina,"bu Renata tersenyum ketika membicarakan kehamilan Rania.
Setelah mendengar penjelasan bu Renata. Serly langsung melenggang pergi tanpa bicara apapun, sementara bu Renata cuma geleng-geleng kepala.
Waktu terus berjalan Rania baru saja keluar dari ruangan dokter Dina. sepupu bu Renata yang jadi dokter kandungan. wajah ketiganya terlihat sangat bahagia apalagi bu Renata. kandungan Rania sudah berjalan empat minggu dan keadaannya sangat baik.
"Gimana kalau mama, nungguin Rania aja?"
Lucas tertawa mendengar ucapan mamanya, masa iya nungguin Rania yang kuliah sampai sore. apa gara-gara akan punya cucu mamanya itu jadi lemot. pikir Lucas.
"Kenapa, malah ketawa? mama serius tahu,"bu Renata cemberut mendengar tawa Lucas. sedangkan Rania buru-buru menyenggol tangan Lucas.
"Ma, aku tahu mama senang banget karena akan punya cucu. tapi masa iya mau nungguin Rania sampai sore,"Lucas berusaha menahan tawanya supaya tidak keluar.
"Masa, sampai sore Ran, mama kira cuma satu jam tadi, makanya mama mau nungguin kamu,"
"Sampai sore ma, mama pulang aja. kasian mama pasti capek kan,"
"Kalau gitu, mama naik taksi aja pulangnya, kamu anterin istri kamu sampai kampus ya, awas kalau sampai lecet sedikit saja,"bu Renata menatap tajam Lucas dari kaca depan.
__ADS_1
"Siap ibu negara, lagian kasian papa di rumah sendirian,"Lucas mengangkat tangannya.
"Emang, papa udah sampai? kenapa gak telpon mama ya,"
"Udah, tadi papa telpon aku waktu mama lagi ngobrol sama tante Dina, katanya ponsel mama ada dirumah,"papar Lucas.
"Mama, sampai lupa bawa ponsel, saking senangnya mau punya cucu. Lucas, mama minta uang buat ongkos taksi,"tangan bu Renata menengadah ke depan.
"Hemmm, katanya orang kaya, ongkos taksi aja minta,"ledek Lucas. ia memberikan uang lima lembar berwarna merah.
"Iya, mama orang kaya, tapi, kaya orang utan,"bu Renata tersenyum menerima uang dari anaknya.
"Bagus, akhirnya ngaku sendiri dia,"kata Lucas dengan tertawa geli.
"Sudah diam kamu, sayang mantu mama yang cantik, kamu hati-hati ya, kalau ada apa-apa langsung telpon suami kamu,"bu Renata mencium kepala Rania sebelum beranjak turun dari dalam mobil Lucas.
Lucas mulai melajukan mobilnya menuju kampus Rania, selama perjalanan tangan Rania tak lepas dari genggamannya. sesekali Lucas mencium jari mungil milik sang istri.
Sedangkan Rania senyum-senyum sendiri, jujur hatinya sangat bahagia karena perlakuan Lucas, apalagi sekarang diperutnya akan hadir buah cintanya bersama orang yang sangat ia cintai.
"Sayang, anak ayah, kamu baik-baik di sana ya, tumbuh sehat di rahim bunda sayang,"Lucas menempelkan kepalanya pada perut yang Rania yang masih rata.
Tangan Rania mengelus rambut Lucas, betapa bahagianya melihat orang-orang yang disayanginya. biasanya Lucas perhatian tapi sekarang sangat perhatian, begitupun bu Renata.
"Kamu, jangan capek-capek ya, nanti aku jemput pas aku pulang kantor, atau kalau udah selesai langsung telpon aja,"tangannya membingkai wajah Rania lalu melayangkan kecupan disekitar wajahnya.
"Siap komandan!"Rania mengangkat tangannya tanda siap.
"Hati-hati, ingat, ada anak kita di dalam sini sayang,"sekali lagi tangannya mengusap permukaan perut itu dari luar baju.
"Iya, kamu udah berapa puluh kali loh, bilang kaya gitu. aku masuk dulu ya,"Rania mencium punggung tangan suaminya sebelum keluar dari mobil.
Lucas menatap Rania sampai punggung istrinya itu tidak terlihat lagi, baru ia meninggalkan area kampus itu menuju kantornya. sesampainya di kantor Lucas tersenyum sepanjang turun dari mobil, bahkan ia menjawab setiap karyawan yang menyapanya, hal yang tak pernah ia lakukan, selama ini Lucas cuma mengangguk sebagai jawab sapaan karyawan, seakan suaranya sangat mahal kalau ia mengeluarkannya.
__ADS_1
Terima kasih buat yang selalu nunggu, itu beneran buat aku semangat lagi buat up. konfliknya sedanglah tak akan berat-berat, selamat membaca semuanya jangan lupa like, komen, vote supaya aku semangat🤗😘😘