Dinikahi Majikan

Dinikahi Majikan
part 138


__ADS_3

"Yey, mama, dulu aja minta bareng tiap hari, meskipun papa buru-buru, tetap aja harus mandi bareng, kalau gak dituruti ngambek seharian,"sindir pak Bambang.


"Ya ampun orang tua ini, kenapa bahas mandi bareng di rumah orang?"Hendrik langsung menimpali obrolan absurd pasangan suami istri itu.


"Hendrik, sejak kapan kamu datang nak?"tanya bu Renata.


"Baru aja, aku mau ngasih berkas-berkas ini sama Lucas tante, ngomong-ngomong yang punya rumahnya mana nih, ada tamu penting kok gak disambut sih."Hendrik celingak-celinguk mencari tuan rumah. ia langsung mencium punggung tangan orang tua bosnya.


"Gak tahu, tante juga belum ketemu dari tadi, kata bibi masih mandi, tapi sudah lama kenapa gak beres-beres ya,"jelas bu Renata.


"Aku susul aja lah, tan, Om,"ucap Hendrik.


"Jangan, biarkan saja, lagian papa yakin sebentar lagi mereka datang kok."Pak Bambang langsung mencegah Hendrik yang sudah berdiri.


Akhirnya Hendrik mengurungkan niatnya untuk memanggil Lucas, ia duduk kembali di depan pak Bambang.


Tak berapa lama terlihat Lucas juga Rania keluar dari kamar, wajahnya terlihat segar, apalagi Lucas, senyumnya tak pudar dari bibirnya, sementara sang istri sedikit cemberut, tapi begitu menyadari ada beberapa pasang mata yang memperhatikannya, ia langsung mengubah wajahnya menjadi ceria.


"Ma, pa, kapan sampai, kenapa gak manggil kita?"Lucas menggandeng Rania mendekati orang tuanya.


"Bro, gue gak disapa sekalian nih?"tanya Hendrik.


"Weuh, kirain gak ada kunyuk tadi, gak keliatan soalnya!"Lucas menepuk pundak Hendrik.


"Sialan lo, gue udah bela-belain datang cuma buat nganterin berkas-berkas yang udah gue kerjakan tinggal lo tanda tangan, eh malah gak dianggap gue!"


Rania berpelukan sama mama mertuanya, setelah itu ia langsung meraih tangan pak Bambang lalu mencium punggung tangannya.


Lucas mengajak Hendrik masuk ke dalam ruang kerjanya untuk melihat berkas-berkas yang baru Hendrik bawa. masalah kerjaan Lucas tak pernah main-main, ia selalu mengerjakannya dengan serius. jadi tak heran kalau sudah menghadapi kerjaan Lucas akan larut sampai lupa waktu.


Sedangkan Rania mengajak mama mertuanya ke dapur untuk melihat makanan sudah tersedia atau belum, rencananya orang tua Lucas itu akan menginap di sana.


"Ran, kata Lucas tadi kamu ketemu sama Shela, kamu gak di apa-apainkan nak?"tanya bu Renata begitu sampai di dapur.


"Nggak sih, cuma ngancam aja kalau mbak Shela mau merebut Lucas dari aku, pokoknya banyaklah dia ngomong mah, tapi aku lupa."Rania menjelaskan kejadian tadi sambil membuka tudung saji.


"Pokoknya, mulai sekarang harus hati-hati ya, jangan pergi keluar kalau tidak terlalu penting,"ujar bu Renata.


"Iya, lagian kenapa mama gak bilang kalau wanita yang bertemu sama kita itu pacarnya suami aku, padahal aku ngiranya wanita itu selingkuhan papa, kalau sampai papa tahu bisa malu aku ma,"ujar Rania.

__ADS_1


"Apa yang sampai papa tahu Ran?"Tiba-tiba pak Bambang sudah berdiri di belakang keduanya, mereka sama sekali tak menyadari kapan datangnya pak Bambang.


"Eum, nggak apa-apa kok pah, papa mau apa biar aku ambilin,"tanya Rania dengan sedikit gugup.


Bu Renata tertawa melihat Rania yang gugup, padahal suaminya itu sudah tahu perihal masalah Rania menyangka kalau Shela selingkuhan papa mertuanya.


"Nggak mau apa-apa, cuma mau tahu apa yang tadi kalian bicarakan, kenapa bawa-bawa nama papah?"Pak Bambang kekeh dengan pertanyaan tadi.


"Udah lah pah, itu masalah selingkuhan papa, kita lagi ngomongin itu,"jelas bu Renata.


"Maaf pah, aku beneran gak tahu, mama gak menjelaskan kalau wanita itu mbak Shela, jadi aku mikirnya itu selingkuhan papa."Rania meringis, ia tak berani menatap wajah papa mertuanya, kalau bisa menghilang ia ingin menghilang ke dasar bumi saja saking malunya.


"Papa gak mungkin selingkuh Ran, boro-boro selingkuh, mama lihat papa menyapa mantan aja langsung marah, gak ngasih jatah seminggu, apalagi sampai selingkuh, bisa disunat dua kali papa."Pak Bambang melirik istrinya yang sudah mendelik tak suka ketika aibnya dibuka.


"Masa sih pah, sampai segitunya?"tanya Rania.


"Kamu bakal ngerasain Ran kalau suami kita, berpelukan sama mantannya, apalagi sambil senyum-senyum kaya orang menang undian hunian mewah, padahal cuma ketemu mantan doang!"Bu Renata mendengus jengkel.


"Ma, cemburu ya, kenapa waktu itu gak bilang, malah bilangnya jangan peluk-pelukan lagi banyak virus, nanti ikut nempel ke baju,"


"Dih, papa siapa yang cemburu, yang mama katakan benarkan lagi banyak virus berbahaya, gimana kalau dibaju mantan papa itu ada virusnya, terus pindah ke baju papa gara-gara berpelukan, mama sih ogah ketularan virus bahaya itu."Bu Renata menunjuk pak Bambang.


Keduanya terus beradu mulut, Rania tersentak ketika ada tangan yang memeluknya dari belakang.


"Masalah mantan, padahal perasaan yang lagi punya masalah itu kamu sama mantan ya, kenapa yang berantem malah papah sama mama,"sahut Rania.


"Biarkan saja sayang, asal kamu jangan marah ya sama aku,"bisik Lucas lagi. tangannya mengusap-ngusap perut istrinya.


"Heh, kenapa malah bermesraan di sini, kalian seperti tidak punya kamar saja,"ketus bu Renata.


Keduanya kompak menoleh sama bu Renata, Lucas tak menyadari kalau papa sama mamanya sudah selesai adu mulut, entah siapa yang menang dan siapa yang kalah.


"Udahan berantemnya ma, pah?"tanya Lucas.


"Siapa yang berantem sih?"


"Tadi, mama sama papa adu mulut ngomongin mantan, sekarang usah selesai, jadi siapa yang menang?"


"Gak ada yang berantem, gak ada yang adu mulut, mama sama papa lagi buat bumbu tadi,"jelas bu Renata.

__ADS_1


Lucas sama Rania saling pandang, lalu keduanya menatap meja makan.


"Mana bumbunya ma?"tanya Rania.


"Itu, tadi udah selesai jadi sekarang gak ada,"


"Ah, aku pusing sama kalian berdua, tadi berantem, sekarang bilangnya bikin bumbu, ditanya mana bumbunya bilang gak ada, kamu ngerti yang?"Lucas melirik istrinya.


"Sama sekali nggak!"sahut Rania.


"Sudah-sudah, itu urusan orang tua. Hendrik mana Luc?"tanya pak Bambang.


"Sudah balik pah, katanya udah gerah banget mau mandi, titip salam aja buat mama sama papa,"jelas Lucas.


"Kenapa pulang, padahal makan dulu tadi, tuh bibi udah masak banyak."


Lucas mengedikkan bahunya,"tadi aku yang minta supaya bibi masak agak banyak,"ucap Lucas.


"Ya sudah kita aja yang makan, papa udah lapar banget nih, mama kalian itu sekarang jarang ngasih papa makan loh,"ucap pak Bambang.


"Sengaja, biar perut papa gak maju ke depan, papa sudah tua jadi harus jaga pola makan."papar bu Renata.


Mereka pun makan dengan lahap, bu Renata bahagia melihat menantunya makan dengan lahap, itu artinya pertemuan sama wanita masa lalu suaminya tak mempengaruhi nafsu makan wanita hamil itu.


Selesai makan mereka berempat pindah ke ruang keluarga, untuk ngobrol-ngobrol, Rania duduk di samping suaminya, begitu juga bu Renata. mereka duduk sambil berhadapan.


"Apa sebaiknya kalian pindah saja ke rumah mama Luc, di sana keamanan akan lebih terjamin. jadi kalau kamu lagi kerja Rania ada yang jagain,"celetuk pak Bambang.


"Gimana yang?"Lucas melirik istrinya.


"Aku ikut aja, gimana baiknya menurut kamu,"sahut Rania.


"Eum, kayanya untuk sekarang kita di sini aja dulu pah, mudah-mudahan dia gak berbuat apa-apa, tapi aku tetap minta tolong orang-orang papa untuk menjaga rumah ini."Lucas menggenggam tangan istrinya.


"Menurut mama, wanita seperti itu tidak mungkin kalau gak melakukan apapun Luc, pokoknya mama minta jaga istri kamu dengan baik, apalagi sekarang hamil,"kata bu Renata.


"Iya, itu pasti ma, aku takutnya Shela punya dukungan kuat di belakangnya, soalnya yang Lucas tahu, dia meninggalkan Lucas demi laki-laki yang lebih kaya dari kita pah,"ucap Lucas panjang lebar.


"Siapa maksud kamu?"

__ADS_1



"Eum...


__ADS_2